GauL-Community
Pendaftaran ID GAME RF FIRST bisa langsung klik dibawah

http://116.50.27.243/register223.php

Buruan gabung sekarang juga...


Forum Komunitas GauL Pertama di Indonesia
 
HomePortalRegisterLog in

Share | 
 

 RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3  Next
AuthorMessage
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:46 am

Sambil nunggu" Server UP,,,, mending agan" baca" cerita" seputar dunia RF Online...

dari pada boring,, ya kan..??

berikut ini beberapa kisah ttg dunia RF yg ane comot dari beberapa blog....


Jgn males" buka page selanjutnya.....

kali ajah ada story" baru....

enjoy it....




The Story of Bellato #1

1. FATEFUL ENCOUNTER

Namaku Hazel. Aku adalah seorang spiritualist dari bangsa Bellato. Meskipun begitu, seluruh bangsa sangat membenciku dan juga keluargaku. Leluhurku adalah para Wizard yang sangat sakti yang menguasai semua force. Mereka jugalah yang membawa Bellato pada masa kejayaan pada saat itu. Namun karena mereka merasa tidak ada lagi lawan yang seimbang, mereka mulai menantang MAU milik Bellato. Lama kelamaan, mereka jadi gila dan membantai bangsa Accretia, Cora dan juga Bellato dengan chaos potion. Baik kawan maupun lawan enggan untuk berurusan dengan mereka, Untung saja seiring berjalannya waktu, sifat itu mulai hilang. Hingga sampai pada ayah dan ibuku yang tidak pernah melakukan itu lagi sama sekali. Tapi kemampuan force kami memang di atas rata - rata. Mungkin ini adalah pengaruh dari leluhurku. Penduduk Bellato pun masih tidak bisa menerima kami. Bahkan kami diusir dari pusat kota. Dan sekarang kami tinggal di daerah Solus, di sekitar Bukit Bellato.

Kami beruntung mempunyai pemimpin bangsa yang baik yang masih mengizinkan kami tinggal dan mengizinkanku melakukan tugas. Setiap hari aku selalu menjalankan tugas yang diberikan. Hanya saja aku selalu melakukannya seorang diri. Karena semua orang selalu lari ketika melihatku yang bukan Psyper atau Chandra, bisa mengeluarkan force expert dengan mudahnya. Kadang aku juga ikut mengusir bangsa lain yang menyusup. Namun setiap kali aku berada di antara Bellato yang lain, mereka selalu menjauh. Bahkan ada beberapa prajurit yang menyiapkan chaos potion bila melihatku. Lama kelamaan aku menjadi kesal dan berniat meninggalkan bangsa ini. Orangtuaku selalu melarangku untuk berbuat jahat pada mereka. Mereka tidak ingin kami semua menjadi seperti yang mereka kira. Tetapi dalam hati aku bersumpah akan menjadi kuat dan melakukan apa yang leluhurku pernah lakukan dulu. Untuk itu aku berlatih keras untuk menjadi seorang Wizard, tidak, prajurit yang terkuat. Aku juga berlatih untuk menggunakan pedang, senapan dan perisai. Akan kubuat para Bellato dan juga bangsa yang lain merasakan kekuatanku yang sebenarnya.

Hingga pada suatu hari aku mendengar laporan dari radio di rumahku, bahwa ada kekacauan di daerah Gurun Sette. Dilaporkan bahwa Isis yang berwarna merah lepas kendali di daerah daratan Nadir. Setiap orang yang ditemuinya akan dimusnahkan. Mendengar itu aku menjadi bersemangat dan ingin menunjukkan pada semua kalau aku mampun menaklukan animus itu. Sesampainya di tempat itu, sama sekali tidak terasa adanya tanda kehidupan. Sampai kulihat seorang prajurit Bellato bertarung dengan Isis. Terlihat sekali bahwa Bellato tersebut yang rupanya adalah seorang Shield Miller terdesak oleh serangan Isis itu. Perisai dan pedangnya sudah retak. Ia hampir tidak bisa melawan. Dalam hati aku berpikir, inilah kesempatanku. Akan kubuat Bellato itu mengakui kekuatanku. Segera saja kuawali serangan mendadakku dengan sebuah Aqua Blade. Isis itu terkejut dan langsung mengubah sasaran. Shield Miller itu ditinggalkannya dalam keadaan sekarat. Segera kulanjutkan serangan beruntunku. Dimulai dengan Weakness, Blind Sight dan Elemental Burn. Setelah persiapan selesai, Flame Arrow dan Aqua Blade kukeluarkan secara beruntun dan tidak memberikan kesempatan bagi Isis itu untuk menyerang. Namun seranganku sepertinya tidak ada yang mempan. Isis itu menerobos uap yang muncul dan menyerangku. Aku hampir tidak sempat mengelak dan hasilnya lengan kiriku cedera. Isis itu belum berhenti dan terus mengejar. Dengan sisa tenaga, aku menambah kecepatan berlariku dan berusaha menjauh darinya. Tetapi Isis itu berhasil mengejar dan melukai punggungku. Aku benar - benar tak berdaya menghadapi animus ini. Ketika melihat animus itu bersiap melancarkan serangan terakhir, aku hanya bisa menatapnya dengan penuh amarah. Saat Isis itu mendekat, tiba - tiba saja..

“TRING!! Flame Arrow!!”

Seorang spiritualist Bellato menahan serangan itu dan segera menyerangnya. Isis itu pun terpental cukup jauh.
“Kau tidak apa - apa?”, tanya orang itu.
“Siapa kau? Untuk apa kau menolongku?”, kataku.
Belum sempat ia menjawab, Isis itu kembali menerjang. Kali ini ia melancarkan Swarm dan Air Blast. Area sekitarnya menjadi hancur. Kepulan asap menyelimuti bekas ledakan itu. Setelah asap itu hilang, terlihat Isis itu terkapar tak berdaya. Melihat itu, prajurit Bellato itu pun menghampiriku.
“Healing..”
Tiba - tiba saja ia mengeluarkan force itu dan menyembuhkanku. Lukaku terasa tidak sakit lagi. Perlahan - lahan pendarahan pun berhenti.
“Namaku Kuru. Tidak ada alasan khusus untuk menolongmu. Hanya perasaan sebagai sesama Bellato saja yang mendorongku melakukan ini”, jawabnya.
“Jangan bercanda! Apa kau bermaksud menghinaku?! Menolong Bellato yang terkutuk sepertiku hanya alasan bukan?!”. Aku menjadi geram dan berkata begitu kepadanya.
“Sudah tugasku untuk menolong para prajurit yang terluka di medan perang. Bukankah itu satu alasan yang cukup? Tunggu sebentar ya.”
Ia pun pergi dan menghampiri Shield Miller tadi. Ia menyembuhkan luka prajurit itu dan kembali menyadarkannya. Kemudian ia menghampiriku lagi. Melihat itu, aku menjadi semakin geram.
“Kau mau pamer hah?! Jangan hanya karena kau bisa force holy maka kau bisa berlagak layaknya seorang penyelamat! Aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi Wizard yang lebih hebat darimu! Jauh lebih hebat!!”, ucapku dengan penuh emosi.
Ia masih bersikap tenang dan sedikit heran. Lalu ia pun menjawab.
“Wizard? Mungkin kau salah sangka. Aku adalah Holy Chandra, bukan Wizard. Tugasku memang mendukung pasukan garis depan. Maka dari itu aku bisa melakukan penyembuhan.”
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Seseorang yang bisa menumbangkan Isis itu adalah seorang Holy Chandra yang merupakan supporter dan bukan seorang Wizard. Ditambah lagi, pembawaannya yang tenang membuatnya menjadi seorang pendukung yang sangat baik. Bisa kulihat Shield Miller yang tadi terluka sudah bangkit. Dan berjalan menghampiri kami.
“Kau sudah merasa lebih baik?”, tanya Kuru.
“Ya. Terima kasih, master.”, jawabnya.
Dalam hati aku bergumam,”Ha? Master? Apa dia adalah seorang guildmaster?”. Belum sempat aku bertanya. Ia mengajak kami pulang.
“Baiklah, bila semua sudah selesai, mari kita pulang.”

Kami bertiga pun berjalan meninggalkan lokasi itu. Shield Miller tadi masih terasa enggan untuk mendekatiku. Namun Holy Chandra itu dengan tenangnya berjalan di sebelahku. Tiba - tiba saja, aku merasakan sesuatu yang aneh. Seketika langkah mereka pun terhenti. Sepertinya mereka berpikiran sama. Perasaan aneh ini terasa dari arah belakang kami. Benar saja. Isis yang tadi dikira sudah kalah, masih bangkit lagi. Bahkan sepertinya kini kekuatannya lebih besar. Kuru dengan segera berbalik badan dan memberi perintah.
“Graham. Kau kembalilah ke markas bersama bocah ini dan panggil bala bantuan. Terutama dari guild Legion. Aku akan mengulur waktu.”
Shield Miller tadi terkejut dan hanya bisa menjawab,”B-baik master..”
Aku yang mendengar perintah itu tidak bisa terima. Aku akan menghabisi animus ini.
“Aku akan tinggal di sini. Kalian saja yang pergi minta bantuan.”
Tanpa banyak omong, segera kupakai perisai dan pedangku. Dengan segera aku maju menghampiri Isis tersebut. Namun tetap saja Isis itu jauh lebih kuat. Seranganku berhasil ditangkis semua. Justru sebaliknya, Isis itu dengan mudah melukaiku. Tiba - tiba..
BOOM! Kembali sebuah flame arrow menghantam Isis tersebut. Tapi nampaknya kali ini serangan Holy Chandra itu tidak berhasil. Melihat itu, Shield Miller tadi segera ber-teleport. Yang tersisa hanyalah tinggal kami berdua.
“Jadi force expert sudah tidak mempan terhadapnya ya? Kalau begitu harus kuserang dengan force elite. Hei, bisakah kau mengulur waktu sebentar? Force yang akan kugunakan memakan waktu cukup lama”, pintanya kepadaku.
Aku hanya mengangguk dan segera mengeluarkan tongkatku. Langsung saja Isis itu kuhujani dengan Flame Arrow, Aqua Blade dan Tectonic Might secara bergantian. Isis itu terlihat cukup kewalahan. Melihat itu, aku kembali bersiap - siap. Namun Isis itu bangkit dan langsung menyerangku. Aku terkejut dan hanya bisa menghindar. Meskipun begitu, tanganku tetap terluka cukup parah. Lalu kudengar ada teriakan dari arah Holy Chandra itu.
“Larilaah!! Kau bisa terkenaa!!”, teriaknya.
Aku langsung menghindar dan pergi ke arahnya. Tak lama kemudian..

“METEOR!!!” BOOM! BOOM!

Hujan meteor menyerang Isis itu tanpa ampun. Daratan sekitarnya terbakar api. Isis itu pun seperti mengerang kesakitan. Lalu sebuah meteor terakhir yang cukup besar mengahnHoly Chandra itupun langsung roboh setelah memanggil meteor. Aku pun segera berlari menghampirinya.
“Hey. Kau tidak apa - apa?”
“Tidak. Aku hanya terlalu lelah. Isis yang dikatakan Amy Grade ini memang sulit dimusnahkan. Nah, sekarang semua sudah berakhir. Mari kita pulang.”, jawabnya.
“Ya. Secepatnya.”, balasku. Kemudian aku membantunya untuk berdiri dan berjalan.
“Ternyata kau tidak seburuk yang dikatakan orang. Sepulang nanti, aku akan meyakinkan pada semuanya kalau kau bukanlah anak terkutuk atau semacamnya. Kau adalah seorang spirtualist dan calon Wizard yang hebat.”, lanjutnya.
Aku hanya bisa mengangguk. Tiba - tiba dari belakang terasa ada sesuatu yang menghampiri. Ternyata Isis itu masih hidup! Ia dengan cepat langsung menyerang kami. Dalam jarak sedekat ini kami tidak akan bisa mengelak. Maka dengan segera aku mengambil tongkatku dan bersiap melancarkan serangan sebisanya. Namun Holy Chandra itu malah mendorongku. Sehingga ia menjadi sasaran empuk bagi Isis itu. Dan…
SRASSHH!! Isis itu merobek dadanya dengan sekali serangan. Holy Chandra itu teriak dan mengerang kesakitan. Belum selesai, Isis itu menyerang dengan beruntun. Holy Chandra itu tidak bisa menghindar. Ia hanya bisa berteriak,”LARILAAH!” CEPAT PERGI DARI SINIII!!”.
Aku hanya bisa terdiam. Satu - satunya orang yang baik padaku dan bahkan mau berkorban untukku, sedang diambang kematian. Aku benar - benar tidak tahan. Tanganku mengepal dengan keras. Namun Holy Chandra itu masih menahannya. Bahkan ketika Isis itu berusaha lari mengejarku, ia menarik Isis itu agar tidak menjangkauku. Aku menjadi panik dan menuruti kata - katanya. Aku berlari menjauh, berharap ada bala bantuan datang.

Sampai aku mendengar teriakan yang sangat keras. Ketika aku menoleh kebelakang, Holy Chandra itu tengah dicabik - cabik oleh Isis itu. Cukup sudah, dalam hatiku. Aku sudah tidak tahan lagi. Setelah Holy Chandra itu tidak banyak bergerak lagi, Isis itu segera datang menghampiriku. Aku yang saat itu sedang dikuasai amarah, tidak bisa berpikir jernih untuk melancarkan force dengan benar. Yang terpikir dalam benakku hanyalah kekuatan untuk menghancurkannya. Tanpa kusadari, tubuhku diselimuti cahaya merah. Seakan teringat sesuatu, aku segera memusatkan energi. Dan ketika Isis itu masuk dalam jarak tembakku, dengan segera..

CORONA!!!

Api berdatangan dari segala arah dan membungkus Isis tersebut. Api itu terus berkobar dengan hebatnya. Perlahan - lahan api itu pun lenyap. Begitu juga dengan Isis itu, hilang tanpa sisa. Dengan segera aku menghampiri Holy Chandra tadi. Syukurlah dia masih selamat walaupun ia tidak sadarkan diri. Aku pun menggendongnya di punggungku dan kami pun kembali ke markas. Pertemuan kami hari ini sangat berarti bagiku. Mataku menjadi terbuka dan pikiranku tersadarkan. Tidak ada gunanya dalam satu bangsa saling berselisih. Yang ada, kita harus saling tolong menolong satu sama lain. Semua demi kita semua, demi bangsa ini. Oleh karena itu, aku membuang misiku untuk menjadi Wizard. Jalan yang kupilih adalah sebagai seorang Holy Chandra.[b]


Last edited by cheevhe on Wed Dec 23, 2009 4:54 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:48 am

The Story of Bellato #2

2. UNPLEASANT RETURN

Saat tiba di depan portal untuk kembali, beberapa prajurit Bellato sudah ada di situ. Mungkin mereka adalah bala bantuan yang hendak menolong. Namun mereka tampak terkejut melihat aku membawa Kuru dalam keadaan terluka parah. Mereka tampak saling memandang satu sama lain, lalu mengeluarkan senjata mereka. Aku melihat itu hanya sebagai tindakan berjaga - jaga kalau ada musuh yang datang. Tetapi saat mereka mengeluarkan chaos potion, langkahku sempat terhenti sejenak. Keempat orang itu yang tampaknya para warrior bersiap - siap untuk meminum chaos potion tersebut. Aku sangat kesal melihatnya. Ternyata mereka mengira aku yang telah membuat Kuru terluka parah. Kemudian aku kembali berjalan tanpa menghiraukan mereka. Benar saja, mereka meminum chaos potion itu sampai habis.

Melihat itu aku semakin kesal. Namun aku tidak takut. Langkahku semakin kumantapkan. Perlahan - lahan mereka pun mundur. Ada seorang prajurit yang menangkat pedangnya dan bersiap menyerang. Aku pun segera memandang matanya. Ia pun mundur dan menurunkan pedangnya. Mereka semua tidak jadi menyerangku. Aku mengabaikan mereka dan segera menuju portal untuk kembali ke markas.

Sesampainya di markas, situasi tidak menjadi lebih baik. Seisi markas yang tadinya terdengar cukup ramai, kini semua diam. Mereka memusatkan perhatian mereka padaku dan juga Kuru. Banyak sekali orang yang mengerumuniku. Ada juga yang mengeluarkan chaos potion dan bersiap meminumnya. Aku sudah tidak tahan akan semua ini. Sampai seorang wakil archon datang dan berteriak,”Prajurit… Tangkap segera pengkhianat bangsa itu. Sementara ini masukkan ia dalam penjara dan tunggu perintah Tuan Exodus.”
“BAIK!!”, serentak pasukan utama guild menghampiriku.

Aku semakin kesal menghadapi perlakuan seperti ini. Karena geram, aku berteriak di hadapan mereka semua.
“DIMANA RUANG PERAWATAN??!! CEPAT BERITAHU AKU!!!”. Serentak mereka semua diam membisu. Orang - orang yang tadi mengerumuni seakan takut dan membuka jalan untukku. Dan tampaknya mereka memberitahu dimana ruang perawatan berada. Dengan segera, aku meneruskan langkahku menuju tempat itu. Semua orang memandangku. Ada juga yang saling berbisik. Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan. Hingga archon Bellato datang menghampiriku.

Semua orang yang ada disana segera memberi hormat. Ternyata seorang archon memang sangat disegani. Lalu dia mendekatiku dan berbicara.”Siapa yang melakukan ini?”, tanyanya dengan tenang. Aku sedikit kaget. Awalnya kukira ia akan berbuat sama seperti yang lain lakukan. Aku pun segera menjawabnya,”ada Isis yang sangat kuat lepas kendali di gurun Sette yang menyerang kami. Isis itu membuatnya menjadi terluka seperti ini.”
Ia sempat terdiam dan heran. Lalu ia memanggil beberapa orang untuk menolong Kuru.”Panggilkan semua Holy Chandra. Lakukan pertolongan pertama pada Kuru. Sepertinya ia masih bisa diselamatkan.” Dengan segera datanglah sepasukan Holy Chandra yang membawa Kuru pergi. Lalu archon itu kembali berbicara kepadaku.”Terima kasih telah menolongnya. Sekarang kau boleh istirahat.” Apa? Dia berterima kasih kepadaku? Apa dia tahu yang sebenarnya? Padahal penduduk Bellato lain dan bahkan wakil archon bertindak lain. Belum sempat aku menanyakan itu, kepalaku terasa sakit. Lama kelamaan aku tidak sadarkan diri, dan aku terjatuh. Pemandangan yang sempat kulihat terakhir adalah adanya beberapa orang yang datang menghampiriku.

Ketika aku terbangun, aku sudah berada di ruang perawatan. Ketika aku tersadarkan, aku langsung teringat pada Kuru.Dengan segera aku keluar ruangan dan menuju ruang operasi. Ternyata operasi masih berlangsung. Terlihat Exodus, archon Bellato dan Rudra salah satu wakilnya sedang menunggu hasil operasi dengan cemas. Kemudian aku menghampiri mereka. Saat itu juga aku masuk dalam pandangan Rudra dan ia menatapku dengan dingin. “Kau lagi.. Apa maumu di sini? Belum cukupkah kau melukai salah satu wakil archon kita ini?”
Aku hanya menunduk dan terdiam. Bila kupikir lagi, akulah yang membuatnya menjadi terluka seperti ini. Ia terluka karena melindungiku. Aku benar - benar tidak bisa berbuat apa - apa pada saat itu. “Rudra! Hentikan! Sudah cukup.. Ia sudah melakukan yang terbaik dengan membawa Kuru kembali ke markas.”, Exodus berbicara memecah keheningan. Saat itu juga, operasi selesai. Tim Holy Chandra keluar dari kamar operasi. Salah satunya mengatakan kalau pasien masih butuh istirahat. Namun secara keseluruhan, kondisinya tidak terlalu parah. Namun tidak memungkinkan untuk berperang hari ini. Mendengar itu, Exodus dan Rudra pergi dari ruang operasi dan melakukan pengumuman di pusat markas. Aku pun mengikuti mereka menuju ke sana.

Exodus pun mengumpulkan semua prajurit dan berbicara kepada mereka semua. “Para prajurit sekalian. Tidak lama lagi perang hari ini akan dimulai. Maka dari itu saya meminta agar kalian semua bersiap - siap.” Serentak seluruh prajurit tampak bersiap - siap dan segela membeli perbekalan. Para Armor Rider segera menuju hangar untuk menyiapkan MAU mereka. Kemudian mereka berkumpul di depan portal. Exodus pun kembali berbicara,”Semuanya!! Sekarang saatnya kita berangkat!”. Maka dengan segera seluruh prajurit pergi menuju tambang Crag. Seketika markas Bellato menjadi sepi. Aku memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan untuk melihat keadaan Kuru. Sesampainya di sana, aku melihat ia sudah sadarkan diri. Aku pun segera bergegas menghampirinya.

“Hei. Kau sudah sadar?”, tanyaku. “Ya. Yang lain sudah berangkat perang ya?”, balasnya. Aku hanya mengangguk. Terlihat sekali ia sangat sedih karena kondisinya tidak memungkinkan untuk berperang. “Aku juga ingin berperang”, kataku memecah keheningan. Dia aga terkejut dan sedikit heran. Lalu ia tersenyum dan menjawab,”Boleh saja. Tapi setidaknya kau harus memilih profesi lebih dulu. Sekarang sudah saatnya kan?”. “Baiklah, aku akan menemui pemimpin bangsa sekarang.”, jawabku. Ia mengangguk lalu kembali berkata,”Hari ini akan bertambah lagi seorang calon Wizard yang handal.” Aku hanya diam saja mendengar itu. Dan kami pun segera beranjak menuju tempat pemimpin bangsa.

Sesampainya di sana, pemimpin bangsa segera menyambutku. “Wahai prajurit, apa yang kau inginkan?”, tanyanya. “Saya ingin memilih profesi.”, jawabku. “Profesi apa yang hendak kau pilih?”, tanyanya lagi. Sesaat aku terdiam, lalu menarik nafas dalam - dalam. Aku sempat melihat ke arah Kuru sesaat dan ia tersenyum. Lalu dengan lantang aku menjawab,”Saya ingin menjadi Chandra”. Lalu ia menjawab,”Baiklah. Akan kuberikan kemampuan seorang Chandra kepadamu. Semoga dengan ini kau dapat berbakti untuk bangsa.” Saat itu, aku merasa seperti kekuatan mengalir dalam diriku. Dan aku pun segera menyadari kalau aku mempunyai kemampuan baru. Lalu aku mohon diri dan menemui Kuru. Ia melihatku dengan heran. “Bukankah kau ingin menjadi seorang Wizard? Seharusnya kau menjadi seorang Psyper.”, tanyanya. “Tidak. Aku sudah berubah pikiran. Setelah apa yang aku alami, aku merasa lebih cocok menjadi seorang Holy Chandra.”, jawabku. Ia terdiam sesaat, lalu berkata,”Baiklah. Aku akan membantumu untuk mencapainya. Saat ini kau hanya menguasai force api dan air bukan? Kau perlu menguasai force suci, angin dan tanah juga. Tenang saja, aku akan mengajarimu.” Kemudian dimulailah latihanku untuk menjadi seorang Holy Chandra.

Satu bulan kemudian, aku sudah menguasai force semua elemen sampai tingkat Elite. Bukan hanya itu, aku juga sudah menjadi seorang Holy Chandra. Kuru lah yang mengajariku semuanya. Ia sudah kuanggap seperti guruku sendiri. Kemudian suatu hari ia mengajakku berjalan - jalan di markas. Ia membawaku ke ruang archon. Tepatnya ke balkon. “Lihatlah, Hazel. Bangsa ini memiliki negeri yang sangat indah.”, katanya sambil menunjukkan pemandangan dari markas Bellato. “Lindungilah semua hal yang indah ini. Bukan hanya itu. Lindungi juga suara canda tawa yang ada di sini.” Aku heran karena tiba - tiba ia berkata begitu. Belum sempat aku berbicara, ia membawaku ke suatu perpustakaan.

Lalu ia membuka lemari miliknya di sana. Dan ia memberikan sebuah buku kepadaku. “Ini untukmu”, sembari memberikan buku itu kepadaku. “Buku apa ini?”, tanyaku. “Buku ini berisi tentang force suci terkuat. Yang selama ini kau ketahui, force suci bersifat mendukung bukan? Namun ada satu force serangan yang sangat kuat. Namun sampai sekarang belum ada yang bisa menguasainya. Bahkan aku sendiri tidak bisa melakukannya.”, jawabnya. “Lalu mengapa kau berikan kepadaku?”, tanyaku lagi. Ia hanya tersenyum lalu menjawab,”Karena aku yakin kau pasti bisa melakukannya. Kau sudah pernah mengeluarkan Corona bukan? Itu adalah salah satu force api master.”. Aku teringat kejadian itu. Namun aku sendiri tidak ingat cara memakainya. Aku pun masih tidak mengerti kenapa aku bisa melakukan force itu. Lalu ia kembali berkata,”Ini. Kuberikan juga tongkat milikku. Kau sudah pantas untuk memakainya”. Ia pun lalu memberikan Sickle Staff yang menyala - nyala. Aku terheran dan bertanya. “Umm.. Sepertinya tongkat ini terlihat sedikit berbeda dari yang biasanya.” Ia tersenyum dan menjawab,”Tongkat ini adalah Strong Intense, yang jauh lebih kuat dari tongkat biasa. Gunakanlah ini untuk kebaikan”. Setelah selesai, aku kembali ke rumahku untuk beristirahat.

Esok harinya, aku mendapat tugas untuk melakukan investigasi ke daerah Ether. Divisi penelitian dan pengembangan mengirim 8 orang untuk menyelidiki sebuah temuan baru. Luna, wakil archon kami yang juga mengepalai divisi itu menjelaskan misi itu. “Belakangan ini, kami menemukan sejenis batuan yang lain di daerah Ether. Batu ini tidak didapat di tambang Crag. Nama batu ini adalah etherite. Setelah kami periksa di perpustakaan, etherite ini adalah batu yang sangat langka yang mampu dibentuk menjadi senjata atau force reaver yang sangat kuat. Lebih kuat daripada relic. Maka saya mengirim kalian semua untuk menyelidikinya”. Begitulah penjelasan yang ia berikan. Siang itu juga kami berangkat. Tim investigasi ini terdiri dari 4 Hidden Soldier, 2 Berserker, 1 Shield Miller dan 1 Holy Chandra, yaitu aku. Graham yang dulu kutemui saat tragedi Isis juga ikut bersamaku. Kuru mengantarku sampai di terminal Kartela. Setelah kami pamit pada kerabat kami, kami pun segera berangkat.

Setibanya di Ether, kami tidak dapat langsung melakukan investigasi karena badai salju pada waktu itu sangat kuat. Maka kami beristirahat di terminal. Ketika semua sedang istirahat, aku keluar untuk melihat situasi. Untuk berjaga - jaga, aku membawa tongkat pemberian Kuru. Ketika sedang berjalan - jalan. Seorang Bellato memanggilku. “Hei. Hazel namamu bukan?”, tanya orang itu. Ternyata dia adalah Gailardia, ketua grup investigasi ini yang merupakan seorang Berserker. “Ya. Ada perlu apa?”, balasku. Tanpa banyak omong, dia langsung meminum sebuah ramuan dan mengeluarkan pedang miliknya. Astaga, ternyata dia meminum chaos potion. Kupikir dengan adanya tim ini semua orang sudah mulai bisa menerimaku. Tapi ternyata tidak. Ia segera memperkuat dirinya dengan beberapa skill, lalu segera mengambil ancang - ancang. “Bersiaplah. Aku akan sungguh - sungguh”, ucapnya dengan tegas.

Aku benar - benar bingung berada di situasi ini. Tiba - tiba saja orang yang baru kutemui sudah melakukan ini padaku. Dan tampaknya ia serius. Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menghadapinya. Kemudian aku mengeluarkan SI Sickle Staff milikku dan bersiap menerima serangannya. Pertarungan pertama yang aku hadapi setelah menjadi Holy Chandra ternyata bukan dengan monster atau bangsa lain. Tapi ternyata dengan bangsaku sendiri.[b]
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:49 am

The Story Of Bellato #3

CHAOS

Gailardia dengan cepat berlari kearahku. Sebagai langkah awal, kupakai Increase Speed untuk mempercepat gerakanku. Ia mengayunkan pedangnya dengan cepat. Aku berhasil menghindari beberapa serangannya. Celakanya, aku menjadi hilang keseimbangan karena banyak menghindar, melihat itu ia langsung melancarkan sebuah serangan kuat.

POWER CLEAVE!! DHUAKK!!
Untung saja aku masih sempat menghindar. Walau begitu, aku masih terpental saat pedangnya menyentuh tanah. Terlihat pedangnya menancap membelah tanah. Ketika aku mencoba berdiri, seketika dia sudah berada di depanku lagi. Kali ini serangannya makin cepat, aku tidak bisa menghindari semuanya. Dengan beruntun dia melancarkan Shining Cut yang diakhiri dengan jurus andalannya, Double Crash. Aku terluka cukup parah. Tapi aku masih mencoba untuk berdiri kembali. “Kau masih bisa bertarung? Aku salut pada semangatmu. Tapi sudah cukup main - mainnya, sekarang bersiaplah!!”, ucapnya dengan semangat. Dengan segera aku melakukan sedikit pemulihan.

Kutingkatkan konsentrasiku dengan Acuteness lalu kutambah dengan Agility, Holy Shield dan Efficiency. Aku terus menghindar dan menghindar sambil mencari celah. Gailardia menyerang semakin cepat dan ganas. Ketika jarak kami cukup jauh, dengan segera kukeluarkan beberapa Flame Arrow. Tapi bukan ke arahnya, melainkan ke gundukan salju yang ada di tanah. Ledakannya membuat salju beterbangan dimana - mana. Melihat itu, aku segera berlari meninggalkannya. Namun tidak semudah itu. Gailardia sudah bisa menebakku dan menghadang jalurku. “Mau kemana kau? Pertarungan kita belum selesai.. TORNADO!!” Ia menjadi semakin ganas. Aku terkena telak serangan itu.

Aku masih bisa berdiri setelah mendapat serangan itu. Ia pun sepertinya sudah kelelahan setelah menyerangku berkali - kali. “Kau masih sanggup berdiri? Aku salut padamu. Kaulah lawan pertama yang bisa sampai sejauh ini menghadapiku”, katanya dengan gembira. Apanya yang menghadapi? Ini sama saja pertarungan sepihak. Dia bisa menyerangku tapi aku tidak bisa menyerangnya. Tidak! Aku tidak boleh menyerangnya. Kalau begitu sama saja aku menuruti kemauannya. Di lain pihak, dia bukan lawan yang mudah dikecoh. Satu - satunya cara adalah dengan menunggu efek chaos potion tersebut habis. Ya. Cuma itu. Kulihat ia pun segera mengambil kuda - kuda menyerang.

“Bersiaplah!! POWER CLEAVE!! DEATH BLOW!! TORNADO!! Heaarghh!! DOUBLE CRASH!!”

Orang ini benar - benar monster. Ia masih bisa menyerang dengan tenaga yang begitu besar. Aku hanya bisa menghindari beberapa serangannya. Namun Double Crash nya bisa mengenaiku dengan sangat telak. Aku terpental beberapa meter. Lenganku yang terkena serangan itu terluka cukup parah. Meski terasa sangat sakit, aku mencoba untuk bangkit kembali. Wajahnya terlihat sangat kaget melihatku masih bisa berdiri. Ia pun berdiri lemas dan menancapkan pedangnya ke tanah.

“Aku kalah.. Aku tidak bisa mengalahkanmu walau dalam pertarungan sepihak ini. Kau memang anak ajaib..” Kata - kata itu tiba - tiba saja keluar dari mulutnya. Dia gila ya? Dia hampir saja membunuhku tadi. Untung saja aku sekarang masih hidup. Ia pun menghampiriku. “Ini.. Minumlah. Dengan ini lukamu tidak akan terasa begitu sakit”, lanjutnya. Aku yang tidak melihat adanya niat jahat langsung saja meminumnya. Ia pun sepertinya cukup terengah - engah setelah bertarung tadi. “Mari kita pulang. Sesampainya di terminal aku akan menjelaskan misi kita kali ini. Ayo..”, ia mengajakku kembali ke terminal. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seseorang. Ia pun berteriak sambil menghampiri kami.

“Heiii!!! Gailardia!! Hazel!! Kemana saja kalian??”, katanya sambil berlari. Kami berdua sempat terdiam. Lalu Gailardia menjawab,”Ternyata kau, Feena. Kami baru saja selesai latihan.” Ia sedikit curiga dengan jawaban Gailardia. Lalu dia sempat melihat luka di lenganku. Aku mencoba menyembunyikan. Namun dia menghampiri dan memegang lenganku. Ia pun kembali bertanya,”Ini kenapa? Perbuatan siapa ini? Gai.. Jangan bilang kalau..”
“Ah, tidak - tidak. T-tadi ia terpeleset dan jatuh. Maka dari itu lengannya terluka. Benar kan Hazel?”, jawab Gailardia dengan sedikit terbata - bata. Aku pun hanya mengangguk. Feena masih terlihat tidak percaya. “Dia kan kapten regu ini. Tidak ada kapten yang ingin anak buahnya terluka kan?”, ucapku untuk meyakinkan Feena. “Ya sudah. Lebih baik kita segera kembali ke terminal”, lanjutku. Kami bertiga pun kembali ke terminal.

Sesampainya di sana, para prajurit yang lain terlihat sedang bersiap - siap. Kami segera bergabung dan ikut bersiap - siap. Setelah selesai kami semua berkumpul untuk pengarahan. Gailardia pun mulai memberi pengarahan. “Aku ingatkan sekali lagi. Tujuan utama kita datang ke sini adalah untuk mencari dan mengambil etherite. Jadi bila terjadi kontak dengan bangsa lain, sebisa mungkin kita menghindar. Dan jangan sampai mereka tahu apa tujuan kita kemari. Mengerti?!”. Dengan serentak semua menjawab ya. Tak lama kemudian, Kyra, seorang Armor Rider yang bertugas patroli di ether datang membawa berita penting.

“Lapor. Tim pengintai ether melaporkan bahwa terlihat beberapa pasukan Accretia dan Cora juga berada di Ether. Karena kedua belah pihak belum bertemu, belum terlihat adanya pertempuran. Diperkirakan mereka bergerak menuju tempat Caliana”, lapor prajurit itu. Kami semua terdiam sesaat dan mencoba berpikir. “Aah.. Sudahlah.. Asalkan kita bergerak hati - hati semuanya akan baik - baik saja kan? Bukan begitu Hazel?”, tanya Feena memecah keheningan. “Uh.. Iya..”, jawabku. “Bukan itu yang kami khawatirkan”, lanjut Kyra. “Dugaanku mereka datang ke sini juga dengan tujuan yang sama dengan kita.”

“Kyra benar. Kalau begitu, kita tidak hanya bisa bertindak hati - hati. Namun juga harus cekatan. Feena, pimpin semua Hidden Soldier dan bergerak lebih dulu. Amati situasi dengan baik dan beri kode pada pasukan di belakang. Graham, kau temani pasukan Hidden Soldier. Alihkan perhatian musuh agar mereka bisa bergerak. Sisanya ikuti aku. Kita akan berada di belakang Graham. Semuanya jelas?”, ucap Gailardia. Kami semua mengangguk dengan pasti tanda bahwa kami telah mengerti dan siap untuk terjun. Lalu kami segera berangkat menuju tempat Calliana bersemayam.

Di tengah perjalanan kami tidak menemui banyak rintangan. Kami hanya bertemu beberapa hobo dan mereka mudah diatasi. Namun tiba - tiba radar milik Feena menunjukkan sinyal aneh. “Lihat, ada beberapa titik hijau dari arah barat dan beberapa titik merah dari arah timur. Dan sepertinya kita akan bertemu di satu titik”, jelas Feena. Aku dan yang lain segera melihat radar miliknya. Lalu aku pun teringat sesuatu. Di satu titik? Berarti tempat yang sama. Jangan - jangan..

“Semuanya, kita harus bergerak lebih cepat. Tak salah lagi, tempat kita semua akan bertemu adalah tempat dimana etherite itu berada. Lebih baik kita segera selesaikan misi ini”, kataku pada yang lain. “Baiklah. Semua, kita bergerak lebih cepat!”, jawab Gailardia. Dengan segera aku menambah kecepatan bergerak mereka semua. Kami tidak menghiraukan satu monster pun yang kami temui di tengah jalan. Ketika kami tiba di lokasi, tidak ada ciri - ciri adanya bangsa Accretia atau Cora sedikitpun. Ketika kami hendak meneruskan langkah..

DHUARR!!

Dinding es yang ada di situ hancur seketika. Ketika asap dari ledakan mulai hilang, terlihatlah 2 buah siege kit dengan 2 orang Striker di belakangnya. Ternyata Accretia! Celaka. Ditambah lagi, di belakang Striker itu masih ada 6 orang lagi. Dengan segera kami semua mengambil posisi siap tempur dan mengeluarkan senjata kami. 2 orang warrior dari Accretia maju ke depan, dan tampaknya mereka berdua adalah Mercenary. Gailardia segera memberi perintah,”Ingat tujuan awal misi kita. Aku, Feena dan Hazel akan masuk ke dalam menuju tempat Calliana Princess. Kalian tolong ulur waktu sebisa mungkin.”

“Baik!!”, dengan kompak semua menjawab. Kedua Mercenary itu terlihat datang menghampiri kami. Kami pun segera bergerak. Aku, Gailardia dan Feena dengan segera berlari ke dalam. Namun tiba - tiba muncul beberapa anak panah dari suatu arah. Kami masih bisa menghindari serangan itu. Ketika kulihat, ternyata beberapa ranger dari Cora. Ada 2 orang. Di belakang mereka masih ada 2 warrior dan 4 spiritualist. Lalu keempat spiritualist itu segera memanggil animus mereka masing - masing. Dalam sekejap, Paimon, Innana, Hecate dan Isis sudah ada di antara pasukan Cora.

Keadaan menjadi semakin runyam. Ketiga bangsa belum ada yang bergerak. Kami masih memperhatikan gerak gerik satu sama lain sembari memberi komando. Karena kami tidak mengerti bahasa mereka, kami hanya bisa menebak - nebak. Black Knight dari Cora kemudian maju ke depan. Dan sepertinya ia hendak menyerang ke arah kami. Tiba - tiba saja..

BOOM!!

Striker Accretia membuka pertempuran ini dengan satu tembakan ke arah Black Knight itu. Namun dengan cepat Paimon berhasil menahan serangan itu. Melihat ada celah, para Hidden Soldier segera melancarkan tembakan beruntun pada Cora. Terlihat olehku salah satu Striker itu memindahkan posisi siege kit miliknya. Dengan segera aku berteriak,”Graham! Striker itu…” Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, ia dengan segera memasang posisi bertahan melindungi kami. Namun ternyata Isis dan Hecate yang lebih dulu menghampirinya. Melihat itu Gailardia langsung melompat dan menyerang Isis itu. Aku pun membantu dengan menyerang Hecate bersama sisa prajurit lain. Ketika ada celah, dengan cepat kulancarkan Blazing Lance tepat ke arah Grazier pemilik Hecate tersebut.

BOOM!! Sepertinya sihirku mengenai dia dengan telak. Ia terluka cukup parah. Tapi Innana dengan cepat segera memulihkan lukanya. DHUARR!! Striker itu kembali melancarkan tembakannya. Isis, Hecate dan Gailardia terkena dampak ledakan itu. Namun Gailardia segera bangkit dan segera meneruskan serangan ke Isis itu. Kini giliran Accretia itu yang kuserang.

FROST NOVA!! LIGHTNING CHAIN!! BLAZE PEARL!!

Kulancarkan serangan sihir secara beruntun. Namun tampaknya Accretia itu tidak terluka sedikitpun. Mercenary yang dilawan Graham pun cukup kuat. Ia tampaknya kewalahan. Gailardia sepertinya masih bisa mengatasi Isis itu seorang diri. Feena dan satu Hidden Soldier segera berpindah sasaran ke arah Accretia. Aku dengan seksama memperhatikan sekeliling dan tetap memulihkan bila ada yang terluka. Setelah Gailardia berhasil mengalahkan Isis tersebut, kami berdua segera masuk melangkah lebih jauh. Tapi ternyata tidak semudah itu.

Hawa yang sangat dingin mulai terasa di goa itu. Beberapa Calliana Atroc dan Calliana Crue bermunculan dari dalam. Dan di paling belakang, aku bisa melihat sesosok wanita salju. Ternyata yang muncul adalah sang tuan rumah, Calliana Princess! Kami semua yang sedang bertempur terdiam sejenak melihat kemunculan mereka. Sepertinya mereka marah karena kami telah mengganggu ketentraman di rumah mereka. Situasi menjadi semakin tidak terkendali. Selain harus mengambil etherite, kami juga harus menghadapi kedua bangsa lain. Belum lagi kemunculan Caliana menambah masalah kami. Badai salju di luar terlihat semakin kencang. Tanda bahwa waktu mulai menipis…[b]T
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:50 am

The Story of Bellato #4

4. FRIEND OF FOE

Striker Accretia yang melihat situasi ini segera bertindak dengan menembakkan launcher. Ditambah lagi, mereka menggunakan peluru area. Kami semua terdesak karena serangan itu. Para Grazier pun segera mengganti Isis mereka dengan Paimon. Feena pun segera meminta aku dan Gailardia untuk berkumpul dengan yang lain dulu. Sepertinya situasi memang tidak memungkinkan untuk melangkah lebih jauh. Kami juga disibukkan oleh beberapa Calliana Atroc dan Calliana Crue yang datang menghampiri. Tiba - tiba saja seorang gerombolan Accretia berganti haluan menyerang kami. Memang, kalau dilihat dengan baik, kami memang sangat tidak diuntungkan. Cora memiliki animus dan Accretia memiliki launcher. Namun tidak ada satupun dari kami yang mengendarai MAU. Mereka mendesak kami sampai ke sudut.

“Gai.. Situasi tidak menguntungkan. Apa yang harus kita lakukan?”, tanyaku.
“Ya. Komposisi pasukan kita saat ini bukanlah untuk bertarung. Kalau begitu, kita ganti rencana. Kumpulkan yang lain.”, jawab Gailardia. Kami pun segera berkumpul sambil berlindung di balik dinding es. “Aku, Hazel dan Graham akan menahan serangan di sini. Sisanya, terobos ke dalam dan bawa etherite. Lalu kita pergi. Mengerti?”
“Ya!”, lalu kamipun segera bergerak.

Yang pertama kami hendak bereskan adalah pasukan Accretia. Gailardia berjalan menghampiri mereka. Para Striker segera mengarahkan launcher mereka ke arahnya. Tiba - tiba, Gailardia berteriak sangat keras. Tanah di sekitarnya pun sampai bergetar. Segera setelah itu, ia berlari ke arah Mercenary yang melindungi para Striker. Aku pun maju membantunya.

SOLAR BLADE! FROST NOVA! LIGHTNING CHAN!
Kulancarkan beberapa sihir serangan sekaligus. Mereka pun cukup kewalahan. Gailardia pun melompat ke arah mereka.

DOUBLE CRASH!! DUAGHH!
Mercenary yang menahan serangannya secara langsung terpental jauh. Gailardia segera melanjutkan serangannya ke arah Striker yang ada. Beberapa warrior mencoba menghadangnya. Melihat itu aku segera melangkah maju. Hah?! Ada apa ini? Aku tidak bisa bergerak. Kulihat ke belakang, ternyata seorang Punisher telah membatasi pergerakanku. Untung saja Feena dan Graham datang membantu. Sementara mereka menyibukkan Punisher tersebut, aku segera menggunakan Purge dan lari menuju Gailardia. Tapi masalah kembali datang. Kini giliran warrior Cora yang sepertinya seorang Black Knight datang menghadangku. Dan rupanya ia tidak sendiri. Di belakangnya ada dua Isis berwarna emas. 3 lawan 1. Aku tidak gentar sama sekali.

SWARM! AIR BLAST! WAVE RAGE!
Salah satu Isis terkena telak dan mundur. Sementara yang satunya langsung lenyap. Namun Black Knight itu masih berdiri dan kini ia berlari ke arahku. Ia mengangkat pedangnya dan ia loncat sambil menghantam pedangnya ke tanah. Cih, untung saja aku sempat menghindar. Tapi belum selesai. Ia melakukan serangan berputar dengan cepat. Ternyata Black Knight ini cukup ganas. Serangannya cepat dan kuat.

UAGHH!! Sial, lenganku terluka. Black Knight itu menghentikan serangannya dan menyuruhku berdiri. Ia pun sempat menjilat darahku yang menempel di pedangnya. Astaga, ternyata aku menghadapi seorang maniak. Maniak seperti ini harus segera dibereskan. Langsung saja..

SLOTH! ENSNARE! ELEMENTAL BURN! BLAZING LANCE!
Seranganku ini mengenainya dengan telak. Ini kesempatan! Akan kuselesaikan..

FROST NOV… Uagh!!
Aku terkejut dengan sebuah api yang menyambar. Seorang Grazier menyerangku secara tiba - tiba. Untung saja aku masih bisa menghindar. Feena datang membantu menembaki Grazier itu. Aku juga membantu menghujaninya dengan Blaze Pearl dan Frost Nova. Black Knight yang tadi kuhajar pun sudah berdiri kembali. Grazier itu masih sempat memanggil Paimon untuk berlindung dari serangan kami. Aku dan Feena berjuang keras untuk melawan serangan Cora.

Belum lagi banyak Calliana Atroc yang datang melompat. Meski mudah kubereskan, jumlah mereka tak ada habisnya. Untung saja Calliana Princess masih belum bergerak. Tapi ia menjaga pintu di belakangnya dengan ketat. Tiba - tiba…

BOOM! Sebuah granat meledak di dekat kami. Ternyata ada beberapa Scientist di pasukan Accretia. Belum lagi serangan Striker yang membabi buta. Black Knight dan Grazier tadi pun sepertinya terdesak oleh serangan Accretia. Mereka sangat mengganggu.

TECTONIC MIGHT! FROST NOVA! SWARM!
Gerombolan pelempar granat itu terkena seranganku dan mundur. Namun Striker yang tadi masih bisa menembak. Bahkan kini ia mengarahkan launchernya ke arahku. Beberapa saat kutunggu ia belum juga menembak. Cora yang tadi ada pun segera menyingkir. Apakah ada sesuatu?

“HAZELL!! LARII! ITU DOOM BLAST!!”, teriak Graham dari jauh. Apa?! Sial! Aku tidak akan sempat menghindar. Langsung saja aku berlari. Namun terlambat, ia sudah menembakkan launchernya. Aku langsung saja melompat untuk menghindar. Uwaa!! Nyaris saja. Meskipun tidak terkena telak, efek ledakan itu membuatku terpental. Aku kembali berdiri untuk membalas. Tapi tiba - tiba saja aku merasakan sesuatu. Kulihat ke tempat ledakan Doom Blast tadi. Ternyata yang terkena adalah Calliana Princess! Ia sepertinya terluka sedikit karena serangan itu. Dan ia yang tadinya diam saja, kini maju menyerang.

Striker tadi segera menembak berulang - ulang ke arah Calliana Princess. Namun selalu saja ada Calliana Crue atau Calliana Atroc yang menghadang. Cora pun disibukkan oleh kejaran para Calliana, sementara Calliana Princess tadi menyerang gerombolan Accretia. Melihat ini aku dan Feena segera berlari ke tempat etherite. Cih, tidak semudah itu. Aku lupa dengan Black Knight tadi. Ditambah lagi ada seorang Punisher yang mengejar.

“Akan kutangani, kau pergilah saja”, kata Feena.
“Kau yakin?”, balasku.
“Cepatlah! Sebelum Calliana Princess menyadarinya. Heaa!! WILD SHOT! EAGLE STRIKE!!”, Feena segera maju bertempur. Aku pun segera berlari ke arah celah yang ada. Muncul dua Calliana Atroc menghadangku. Tanpa kesulitan aku berhasil membereskan mereka. Namun di ujung jalan, ada seorang Grazier menghadangku dengan membawa Isis berwarna emas. Cih.. Memang tidak mudah. Baiklah…

WAVE RAGE! BLAST SHOT!
Bersamaan dengan itu Grazier pun juga mengeluarkan Solar Blade dan Tectonic Might. Sihir kami beradu dengan hebatnya. Ternyata imbang. Isis yang tadi pun segera datang menyambar. Sial. Betapa sulitnya menghadapi Grazier seorang diri.

FETOR! SWARM!
Seranganku cukup untuk mengalihkan perhatian mereka. Langsung saja aku berlari ke arah celah. Namun belum selesai. Terlebih lagi, kini sang tuan rumah yang menyambutku. Ya, kini Calliana Princess telah menyadari maksudku. Gerombolan Accretia tadi sudah ditinggalkannya. Melawan pitboss seorang diri? Menarik…

FIREBALL! FLAME ARROW! BLAZE PEARL!
Badai api segera membakar monster itu. Namun ia masih bertahan dan maju menyerangku. Aku melompat untuk menghindari serangannya. Baru saja aku mendarat, beberapa bilah es menyambarku. Aku masih sempat menghindar, namun serangan Isis dengan telak melukaiku. Hah.. Hah.. Grazier tadi masih ada rupanya. Tiba - tiba saja… BRUAKK!! Ada warrior Accretia menyerangnya. Ia pun menghabisi beberapa Calliana Crue yang ada. Dan ia juga menyerang Calliana Princess.

Kulihat keadaan yang lain, sama kacaunya. Tim investigasi Bellato sangat tertekan. Gailardia pun terlihat kewalahan menghadapi Punisher, Templar Knight dan Calliana Atroc yang ada. Sementara Feena masih sibuk oleh Black Knight dan seorang Striker. Sementara Graham dan yang lain bertarung sengit dengan beberapa pasukan Cora dan Accretia. Aku harus cepat menyelesaikan ini.

Heaa… SOLAR BLADE!
Calliana Princess sangat terkejut karena serangan ini. Warrior dan Grazier tadi pun mundur menghindari seranganku. Ini dia! Aku kembali berlari ke celah itu. Lagi - lagi Calliana Crue dan Calliana Atroc menghadangku. Cih, tidak ada habisnya. Serangan area api dan air kukeluarkan berturut - turut. Calliana Princess yang tadi terpental tiba - tiba saja sudah berada di dekatku. Celaka!

Uagh!! Lenganku terkena serangannya. Isis yang tadi menyerang Calliana secara bertubi - tubi, sementara beberapa sihir datang ke arahku. Mereka ini keras kepala sekali. Argh!! Sial, aku tidak melihat warrior tadi. Ia dengan mudah menebas punggungku. Aku segera berguling dan mengeluarkan Tectonic Might dan Aqua Blade. Dengan cepat aku juga memulihkan lukaku. Benar - benar pertarungan yang menguras tenaga. Darah mengucur dari lengan kiri dan kepalaku. Aku kembali berdiri dan bersiap menyerang. Tiba - tiba saja terjadi keributan di tempat lain.

Para Accretia dan Cora yang tadi bertarung kini mundur. Mereka seperti ketakutan akan sesuatu. Ternyata, MAU!! Yeah! Dengan begini keadaan akan membaik. Gailardia dan yang lain pun segera memburu kedua bangsa itu. Ada 2 MAU mendukung di belakang mereka. Para Calliana yang ada juga ikut dihabisi.

“Hazel! Kau tidak apa - apa? Ini aku, Kyra”, terdengar suara dari salah satu MAU Goliath yang datang menghampiriku.
“Ya. Aku baik - baik saja. Kenapa kau menyusul kemari?”, tanyaku.
“Aku merasa ada yang tidak beres karena kalian tidak kembali juga. Maka aku ajak temanku untuk datang ke sini”, jelasnya.
“Lalu siapa yang menjaga di terminal?”, tanyaku lagi.
“Masih ada beberapa Armor Rider dan Sentinel yang berjaga - jaga”, jawabnya.
“Baguslah. Kyra, tolong tangani di sini. Aku akan masuk dan mengambil etherite”, kataku.
“Baik. Serahkan saja padaku”, jawabnya.

Dengan segera ia menyerang Calliana Princess dan Calliana Atroc yang menghampiri. Aku pun segera berlari menuju celah itu. Kali ini berhasil. Tidak ada halangan sama sekali. Aku menengok ke belakang sesaat. Aku berpikir dalam hati. Inikah yang dinamakan perang? Walaupun hanya dalam skala kecil, nyawa tetap menjadi taruhan. Semuanya berjuang demi bertahan hidup dan mereka saling bahu membahu. Setelah itu aku segera melanjutkan perjalanan lebih jauh.

Ketika berlari cukup jauh, lorong terasa semakin gelap. Lalu kulihat sepertinya ada ujung dari lorong ini. Aku segera bergegas menuju ke sana. Namun aku terkejut akan apa yang aku dapati. Sebuah jembatan es menuju ke suatu lubang. Tapi jembatan itu sangat kecil. Dan karena terbuat dari es, akan sangat mudah retak. Sedangkan di bawahnya terdapat jurang yang sepertinya sangat dalam. Kuambil sebongkah es yang ada dan kulempar ke bawah.

….
Tidak ada bunyinya sama sekali! Astaga, pasti jurang yang sangat dalam. Aduh, bila tahu begini aku tidak akan mau mengambil etherite itu. Tapi apa boleh buat, aku harus melakukannya. Ini demi yang lain juga. Aku melangkah dengan sangat hati - hati. Jembatan itu sempat bergetar saat pertama kali aku menginjakkan kaki. Belum lagi banyak bunyi “crack” tiap kali aku melangkah. Ini benar - benar mengerikan. Fiuh..

Sesekali aku menengok ke bawah, kepalaku langsung pusing. Jurang itu terlihat sangat gelap. Ah, tidak boleh. Aku harus konsentrasi. Saat aku berjalan sudah agak jauh, kudengar suara gaduh dari belakang. Siapa ya? Apa Gailardia dan yang lain? Wah, bisa celaka kalau Calliana Princess datang kemari. Atau jangan - jangan, bangsa Cora atau Accretia? Yang manapun itu, aku harus bergegas. Jembatan ini mungkin hanya kuat menahan berat satu orang saja. Aku mempercepat langkahku. Sementara itu, ada suara langkah yang kian mendekat…
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:51 am

The Story of Bellato #5

5. PERFECT STRANGER

Sedikit lagi aku sampai di ujung jembatan itu. Kurasakan ada kehadiran orang lain di ruangan ini. Saat aku menoleh ke belakang, ternyata ada Cora yang mengikutiku. Seorang Grazier rupanya. Ia terlihat ragu untuk melangkah lebih jauh. Aku pun kembali berjalan menuju ujung jembatan. Sesaat jembatan itu terasa bergetar. Ternyata Grazier itu memberanikan diri untuk melangkah. Celaka! Aku harus lebih cepat.

Beberapa langkah lagi aku akan sampai di ujung jembatan. Aku menengok ke belakang untuk melihat keadaan Grazier itu. Astaga! Dia memanggil Isis. Situasi seperti ini sangat tidak memungkinkan untuk bertarung. Isis itu pun segera menghampiriku. Sial. Isis itu melayang dan bisa sampai lebih dulu. Tak ada pilihan lain. Aku pun segera mengambil kuda - kuda untuk mengeluarkan sihir. Namun gerakanku terhenti saat aku melihat ada Accretia yang juga sampai ke sini. Dan sepertinya seorang Warrior! Celaka. Muncul lagi satu masalah. Parahnya, warrior itu hendak berlari di jembatan ini.

Jembatan mulai bergetar dengan kencang saat warrior itu berlari di jembatan ini. Grazier tadi pun tampak kehilangan keseimbangan. Namun Isis miliknya masih terus melaju ke arahku. Kalau begini bisa gawat. Tidak mungkin aku bertarung dalam keadaan seperti ini. Aku pun segera berbalik badan dan berlari ke ujung jembatan secepat mungkin. Jembatan bergoyang makin kencang. Dan tiba - tiba saja terdengar bunyi “crack!” di ujung jembatan satunya lagi. Jembatan ini akan runtuh!!

Warrior tadi tidak bisa menyelamatkan diri dan ia jatuh lebih dulu. Kemudian Grazier itu pun mengalami nasib yang sama. Isis miliknya pun kemudian menghilang. Tinggal diriku sendiri sekarang. Ujung jembatan tinggal sedikit lagi. Namun jembatan yang runtuh terus mengejarku. Tidak akan sempat! Kalau begini aku akan ikut jatuh. Aku berlari semakin kencang dan aku pun melompat. Saat aku di udara, pijakanku sudah tidak ada. Aku harus menggapai tebing yang ada. Hiaaa!!

Hup! Aku berhasil menggapai tebing itu walau hanya dengan satu tangan. Dengan sekuat tenaga aku mencoba mengangkat tubuhku. Namun sangat berat bila hanya mengandalkan satu tangan. Kutarik dengan sekuat tenaga untuk naik. Tapi saat aku menengok ke atas, tampak sosok seseorang memakai jubah hitam. Aku tidak bisa melihat mukanya. Siapakah dia? Teman atau lawan?

Argh! Dia menginjak tanganku. Aku mencoba bertahan, namun ia menginjak makin keras. Sial! Aku tidak tahan lagi. Aku masih terus bertahan dengan sekuat tenaga. Peganganku semakin lemah. Akhirnya akupun melepaskan peganganku dan aku jatuh ke jurang yang dalam itu.

Saat aku tersadar, aku sudah berada di sebuah ruangan es yang sangat terang. Saat kulihat sekeliling, warrior dan Grazier tadi juga ada. Mereka masih pingsan rupanya. Lalu aku mencoba untuk beranjak. Tapi, auw! Seluruh badanku masih terasa sakit. Tapi anehnya, aku hanya sedikit lecet. Tidak terasa ada tulangku yang patah. Seberapa tinggikah jurang yang tadi?

“Kau sudah sadar, nak?”, suara seseorang mengagetkanku.
“I-iya. Siapa kau?”, jawabku.
“Tenanglah.. Lebih baik kita tunggu teman - temanmu sadar, baru aku akan menjelaskan semuanya. Karena kalian sudah jauh - jauh datang ke sini, akan kuberitahu sesuatu yang penting. Ini menyangkut bangsa kalian masing - masing”, balasnya.

Aku hanya bisa menuruti ucapannya saat ini. Karena aku juga tidak tahu sedang ada dimana saat ini. Lagipula aku tidak merasakan ada niat jahat dari orang itu. Akupun mencoba berdiri dan melihat keadaan sekitar. Yang pertama kali kulihat adalah warrior Accretia tadi. Terlihat ia memang menyeramkan. Tinggi dan terlihat kuat. Baru pertama kali aku bisa melihat bangsa Accretia dari jarak sedekat ini. Lalu akupun beralih ke Grazier tadi.

Ternyata bila dilihat baik - baik, tidak semua wanita cora tinggi. Yang satu ini tidak lebih tinggi dariku tampaknya. Ia memang terlihat cantik dan lucu. Apalagi jika sedang tertidur seperti ini. Tapi, apa dia tidak kedinginan ya? Di sini kan dingin sekali. Tapi ia berpakaian terbuka seperti ini. Aduuh.. Aku tidak boleh terlalu lama memandangnya. Kalau dia tiba - tiba bangun bisa gawat. Aku pun kembali ke Accretia tadi. Ketika aku mendekat, tiba - tiba bola mata merah miliknya menyala. Ia pun langsung terbangun dan mencekik leherku. Ugh…

“Jangan banyak bergerak dulu!”, suara seseorang mengagetkan kami. Rupanya orang tua tadi kembali lagi. “Tubuhmu masih belum berfungsi normal setelah jatuh dari ketinggian tadi. Sebaiknya kau istirahat”, lanjutnya. Accretia tadi terlihat geram. Ia pun memandangku dengan tajam. Namun akhirnya ia mau melepas cekikannya. Huff.. Untung saja orang itu datang. Tapi tunggu dulu. Kenapa aku dan Accretia tadi bisa mengerti apa yang diucapkannya? Ini aneh. Bahasa kami kan berbeda satu sama lain. Karena penasaran, aku pun bertanya pada dirinya.

“Hei, kek. Aku ingin bertanya. Kau ini berbicara dalam bahasa apa? Lalu kenapa kami semua masih bisa hidup setelah jatuh dari tempat yang sangat tinggi?”, tanyaku dengan lantang.
“Kau sangat tidak sabaran ya. Padahal kan sudah kubilang, akan kujelaskan setelah kalian semua sadar. Sekarang kita tunggu saja wanita cora itu siuman”, jawabnya dengan tenang.
“Huh.. Menyebalkan. Aku tidak bisa membuang - buang waktuku di sini. Aku harus segera kembali ke markas”, tiba - tiba Accretia tadi marah - marah. Eit.. Tunggu dulu, kenapa aku bisa mengerti bahasanya ya? Ini semakin aneh saja.

Accretia tadi pun dengan kasar membangunkan wanita Cora tadi. Wanita Cora itu pun sampai terbangun karena kaget. Aduu.. Lucu sekali wajahnya. Aarrgh.. Aku harus kembali ke akal sehatku. Dia itu musuh.. Dia itu musuh.. Wew.. Ketika ia terbangun, ia celingak celinguk melihat ke sekitar. Ia seperti kebingungan mencari sesuatu. Lalu orang tua tadi pun akhirnya muncul. Ia pun mengajak kami semua pindah ruangan. Setelah kami tiba di ruangan lain, ia pun mempersilahkan kami duduk. Wew.. Sofanya terbuat dari es. Brr…

“Baiklah. Akan kujelaskan semuanya. Pertama - tama, perkenalkan, namaku Sleith. Aku bukanlah Accretia, Bellato maupun Cora. Aku adalah seorang Esperian. Apa kalian pernah dengar?”, orang tua itu mulai berbicara. Kami semua hanya terdiam sambil menggeleng kepala. Lalu ia pun melanjutkan omongannya.

“Wajar saja. Kami adalah penduduk planet Esper sudah hidup lebih lama dari kalian. Dulu kami mempunyai sebuah planet di dekat galaksi ini. Namun muncul bangsa Herodian yang memusnahkan planet kami. Beberapa dari kami bisa selamat dan melarikan diri ke tempat ini. Pada awalnya, kami yang selamat hidup bersama - sama dalam damai. Tapi ada beberapa dari kami yang menaruh dendam pada bangsa Herodian hingga saat ini. Mereka ingin membalas dendam dengan menggunakan planet ini sebagai markas baru mereka.”, sambungnya.

“Maaf aku menyela. Aku hanya penasaran, ada berapa orang yang selamat? Dan apa jumlahnya cukup untuk berperang?”, tanyaku dengan segera.

“Haha.. Kau jeli juga. Aku baru akan menjelaskan. Jumlah yang selamat hanya 11. Yang 1 tubuhnya sudah hampir hancur. Bisa dikatakan hidupnya tak akan lama lagi. Lalu ada 2 orang termasuk aku yang tidak setuju dengan rencana mereka. Kami berdua pun melarikan diri dari 8 orang yang memaksa kami untuk ikut berperang. Aku berhasil melarikan diri. Namun temanku tidak. Ia terbunuh saat melarikan diri”, jawabnya.

“Au, kejam sekali”, ucap wanita Cora itu.

“Kau bercanda ya? Bagaimana bisa berperang hanya dengan 8 orang?”, tanya Accretia itu yang dari tadi diam saja.

“Kau benar sekali. Tepatnya setelah mereka memutuskan untuk berperang, tak lama kemudian muncullah 2 bangsa baru. Yaitu bangsa manusia baja, Accretia dan bangsa manusia, Cora. Kami semua selalu memperhatikan perang kedua bangsa itu saat berperang. Mereka berencana memanfaatkan kedua bangsa itu. Tapi mereka masih merasa jumlah 2 bangsa itu masih kurang. Hingga akhirnya muncul lagi 1 bangsa yang ikut berperang, yaitu Bellato. Melihat jumlah ketiga bangsa itu, timbul niat mereka untuk memanfaatkan kedua bangsa itu sebagai prajurit mereka. Aku dan temanku sangat tidak setuju dengan rencana mereka. Maka dari itu kami melarikan diri. Aku pun akhirnya berada di sini.”, jawab Sleith.

Ha? Kita semua akan dimanfaatkan? Keterlaluan. Ini semua tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera keluar dari sini dan melapor pada Exodus dan Kuru.

“Kalau begitu kita harus segera melapor pada para petinggi kita masing - masing. Ini akan sangat berbahaya!”, tegasku pada mereka.

“Kau percaya? Aku tidak. Kerajaanku tidak akan mau tunduk pada siapapun. Lagipula aku masih penasaran akan 1 hal. Kenapa kita semua bisa berbicara dalam 1 bahasa? Apa penjelasanmu tentang ini hei kakek”, tanya Accretia tadi.

“Anak muda sekarang ini memang tidak sopan. Begini, kalian ini berada sangat dekat dengan sebuah batu yang sangat kuat, yaitu etherite. Batu ini memiliki kekuatan yang sangat hebat. Batu ini mampu menyatukan bahasa dari bangsa yang berbeda. Dan kalau batu ini diproses dan digabung dengan batu lain bisa dijadikan sebuah senjata yang sangat mematikan.”, jawab Sleith.

“Umm.. Bagaimana cara dari batu ini menerjemahkan bahasa kami?”, tanya Grazier itu.

“Bisa dikatakan bahwa etherite ini membukakan mata hati kalian. Karena mata hati kalian sudah terbuka, kalian bisa mengerti bahasa apapun yang kalian dengar. Jadi walaupun kalian berbicara dalam bahasa yang berbeda, sudah ada yang akan menerjemahkan itu semua”, jelasnya.

“Mata hati? Kami bangsa mesin tidak perlu hal yang tidak berguna seperti itu. Dan kami juga tidak memiliki apa yang kalian namakan hati”, tiba - tiba Accretia tadi berbicara.

“Kau salah. Kau memiliki hati. Karena kau bisa mengerti bahasa kami semua. Terlebih lagi, kau bisa saja membunuh kami semua di sini kan? Tapi kau tidak melakukannya. Itu bukti lain bahwa kau memiliki hati”, balas Sleith.

“Terserah apa katamu. Sekarang beritahu jalan keluar dari sini. Aku tidak ada niat untuk mendengar semua omong kosongmu”, kata Accretia itu.

“Baiklah kalau itu maumu. Akan kutunjukkan jalan keluarnya. Keluarlah kalau kau bisa”, jawab Sleith.

Ha? Apa yang dia maksud dengan “kalau dia bisa”? Apa ada sesuatu? Karena ingin tahu akupun mengikuti mereka menuju jalan keluar yang dikatakan oleh Sleith. Grazier itu pun berjalan mengikuti kami. Sleith pun mengembalikan semua senjata yang kami pakai. Kami pun kembali berjalan. Hingga akhirnya kamipun tiba di pintu yang sangat besar. Tiba - tiba hawa mistis terasa dari dekat pintu itu. Banyak petir bermunculan pada satu titik, menghimpun kekuatan yang sangat besar. Lalu muncul lah sosok monster yang dirantai ke pintu itu.

“Itu adalah penjaga pintu ini. Sepertinya teman - temanku mengetahui kalau aku bersembunyi di sini. Sehingga mereka menciptakan guardian ini. Jujur saja, aku yang sekarang tidak sanggup menghadapi monster ini. Kalau kalian bisa mengalahkannya, kalian akan bisa keluar dari sini”, jelas Sleith.

Accretia tadi segera mengeluarkan Spadona miliknya dan maju ke arah monster itu. Grazier tadi pun langsung memanggil Isis untuk menyerang. Aku pun segera bersiap mengeluarkan force.

TORNADO! DEATH HACK! Accretia itu memulai serangannya, disusul dengan beberapa tebasan. Namun sepertinya semuanya berhasil ditahan. Isis milik Grazier itu pun membantu menyerang. Tapi bisa dengan mudah dipentalkan oleh monster itu. Aku dan Grazier tadi bersama - sama menyerang dengan berbagai force. Namun semuanya gagal. Accretia tadi tetap tidak menyerah dan terus menyerang. Aku pun terus mengeluarkan Blaze Pearl dan Blast Shot ke monster itu. Sementara Grazier tadi bersama dengan Isis miliknya terus menyerang ke monster itu.

BRUAGH!! Accretia itu terpental dengan jauh karena satu kibasan monster guardian itu. Isis pun juga kembali dipentalkan. Lalu monster itu menghimpun bola api dan menembak ke arahku dan Grazier itu. Tiba - tiba saja ada yang menarik kembali menjauh dari pertempuran. Ternyata Sleith.
Kami semua ditarik mundur olehnya. Namun sepertinya Accretia tadi tidak menerima perlakuannya.

“Hei! Kenapa kau menarikku? Aku masih bisa bertarung!”, kata Accretia itu.
“Weleh.. Bukannya berterima kasih kau malah membentakku. Kuberitahu saja, kalau seperti tadi, kalian bertiga pun bukan tandingan monster itu”, jawab Sleith.

“Lalu bagaimana caranya agar kami bisa keluar?”, tanyaku pada Sleith.
“Ikutlah denganku. Nanti juga kalian akan tahu”, jawab Sleith dengan tenang.

Kami pun kembali berjalan ke dalam. Dia membawa kami ke sebuah lorong yang sangat dingin. Setelah berjalan cukup jauh, kami tiba di ujung lorong itu. Tampak samar - samar aku bisa melihat sesuatu yang sepertinya sudah membeku untuk waktu yang cukup lama. Ketika kuperhatikan baik - baik, ternyata ada 3 benda. Sebuah pedang, tongkat dan monster. Bentuknya pun belum pernah kulihat. Bahkan di buku milik Kuru pun aku tidak pernah melihat ada senjata dan monster seperti itu.

“Ini adalah 3 senjata artifak milik 3 bangsa yang ada. Pedang itu adalah Hades, senjata artifak milik seorang warrior Accretia. Lalu ada Helios, tongkat milik seorang Wizard yang sangat kuat dari Bellato. Dan terakhir, aku sendiri kurang tahu itu apa. Tapi tampaknya itu adalah animus milik Cora. Karena dulu aku pernah melihat seorang Grazier memilikinya. Ketiga senjata itu dulu pernah bisa menerobos guardian dari pintu itu”, jelas Sleith.

“Jadi dulu ada orang lain yang pernah ke sini selain kami?”, tanyaku.
“Ya. Namun tak lama kemudian mereka pergi meninggalkan gua ini sambil meninggalkan senjata itu di sini. Mereka berpesan padaku agar menjauhkan senjata ini dari tangan yang salah. Setelah mereka pergi, tak lama kemudian guardian pintu itu kembali muncul”, jawab Sleith.
“Jadi yang perlu kami lakukan hanya menggunakan senjata ini untuk melawan monster itu bukan?”, tanyaku lagi.
“Pada dasarnya, iya. Tapi tidak semudah itu untuk mendapatkan semua senjata ini. Bila kalian sudah siap, sentuhlah senjata ini dan kalian akan tahu sendiri”, jawab Sleith.
“Apakah ada semacam ujian?”, tanya Grazier tadi.
“Sudah kubilang, kalian lihat saja sendiri”, jawab Sleith dengan agak kesal.
“Baiklah. Aku akan mulai”, kata Accretia itu.

Kami semua pun bersiap berdiri di depan senjata itu. Saat tangan kami menyentuh bongkahan es dimana senjata itu ada, muncul sebuah ruang dimensi yang mengisyaratkan kami semua untuk masuk ke dalam. Huff.. Jantungku berdetak dengan kencang. Kira - kira apa ya yang ada di dalam sana? Ah, sudahlah. Jangan banyak berpikir.

“Hei, sebelumnya. Bolehkah aku mengetahui nama kalian semua?”, tanyaku.
“Layla, Grazier”, jawab Grazier itu dengan singkat. Lalu ia pun langsung masuk ke ruang dimensi itu. Lain halnya dengan Accretia tadi yang langsung masuk ke dalam. Wew.. Kelihatannya dia memang tidak bersahabat. Ya sudahlah. Sekarang yang penting adalah masuk ke dalam dan mengambil Helios.
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:53 am

The Story of Bellato #6

6. SUMMONER’S SANCTUARY

Uwaaaa…… Hup. Ternyata memang pintu ruang dimensi. Hmm.. Mirip dengan pintu di battle dungeon kalau dilihat - lihat. Tapi ngomong - ngomong, nama monster tadi apa ya? Animuskah? Tapi setahuku kan animus hanya ada 4. Yah, nanti juga aku akan melihatnya sendiri. Kulanjutkan langkahku masuk ke dalam. Hingga akhirnya aku berada di semacam altar. Di situ kurasakan hawa magis yang sangat kuat. Tiba - tiba saja muncul seseorang di depanku. Aku pun langsung mengeluarkan tongkatku dan bersiap menyerang. Bersama dengan itu segera kupanggil Isis untuk berjaga - jaga. Ternyata seorang wanita yang berpakaian seperti seorang spiritualist.

“Jadi kaukah orang yang dipilih oleh DECEM?”, tanya wanita itu. DECEM? Ternyata dia Cora. Jangan - jangan dia adalah Grazier pemilik monster yang diceritakan kakek tua tadi?
“Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kau ada di sini?”, tanyaku padanya.
“Fufu.. Anak yang bersemangat. Sebenarnya aku hanyalah ilusi. Mungkin bisa dibilang hantu, Karena aku sudah lama meninggal. Tapi aku memilih untuk tinggal di sini dan menjaga animusku. Namaku Reita. Seorang Grazier sama sepertimu. Aku di sini untuk memastikan bahwa orang yang akan memakai animusku bukan orang sembarangan”, jawabnya dengan tenang.
“Jadi apa yang kau mau?”, tanyaku lagi.
“Coba kulihat.. Mungkin semacam ujian. Bisakah kau mengalahkanku, anak kecil?”, jawabnya dengan senyum menghina. Kurang ajar. Baiklah kalau itu maumu. Isis! Maximus Animus! Serang dia!!

SHYAK!! SHYAK!!
Berkali - kali Isis ku menyerang dia. Namun dia tidak bisa diserang. Ada semacam pelindung di sekitarnya.

“Kenapa? Ada masalah? Oo.. Mungkin Isis mu ingin ditemani ya? Keluarlah Isis!!”, ucap Reita.
Muncullah Isis berwarna merah. Isis itu langsung menyerang Isis ku. Terjadi pertarungan yang cukup sengit antara kedua Isis. Namun sepertinya Isisku kalah, dan Isisku pun terpental. Langsung saja kutarik dia.

Keluarlah Paimon! Heal Animus!
Isisku kupulihkan dulu dan sementara kupanggil Paimon. Isis tadipun menghentikan serangannya.

“Fufu.. Ada apa anak kecil?”, ejek Grazier itu.
“Hei, jelas saja animusku kalah. Isisku masih berwarna emas dan Isismu berwarna merah. Tidak mungkin aku bisa menang!”, jawabku dengan emosi.
“Lalu kenapa? Kau ingin memakai Isis merah? Kau kira aku tidak tahu kejadian di gurun Sette beberapa bulan yang lalu?”, tanyanya dengan serius.
“H-ha?!”, tanyaku kaget.
“Walaupun aku sudah tidak ada, aku tetap bisa memantau coloni Cora setiap saat. Sekarang kutanya padamu, ISIS SIAPA YANG LEPAS KENDALI DI TENGAH GURUN SETTE?!! SAMPAI MEMBUNUH BANGSA SENDIRI?!!”, tanyanya dengan keras.
“A-ah, I-itu. Itu bukan urusanmu!”, balasku.
“Bukan urusanku?! Saat aku masih menjadi wakil Archon, jauh sebelum kau lahir, aku selalu menanamkan pada seluruh Grazier di coloni untuk tumbuh bersama animus mereka. Tidak sepertimu yang hanya bisa membeli animus milik orang lain! Cora tidak memerlukan Grazier LEMAH sepertimu!”, jawabnya lagi.
“HENTIKAAN!!”, teriakku.
“Kenapa?! Kau tidak sanggup menerima kenyataan?! Cora TIDAK BUTUH Grazier lemah sepertimu!”, bentaknya lagi.
“SUDAHH!! SUDAAHH!!”, aku berteriak semakin keras.

BLAZE PEARL!
Langsung saja kuhujani dia dengan api. Dia terkena sedikit namun ia sempat mengganti Isis nya dengan Paimon sebelum terkena lebih banyak. Lalu ia berkoar lagi.
“Jadi sampai segitu keahlianmu? Ternyata sebagai Grazier kau masih sangat hijau. Sekarang kutanya padamu, tahukah kau kenapa Grazier membutuhkan animus?”, tanyanya.
“Karena animus adalah senjata andalan Grazier”, jawabku.
“SALAH! Jangan sekali kali kau menyebut animus adalah SENJATA!! Mereka adalah teman. Teman seperjuangan para Grazier. Karena mereka tidak memiliki kekuatan sihit sekuat Warlock, mereka butuh animus di sisi mereka. Aku yakin sekali kalau sampai sekarang kau masih belum bisa berbicara dengan animusmu”, balasnya.
“Kau tahu apa tentangku, hah?! Semua animusku sudah bersama - sama denganku sejak aku masih kecil. Tidak ada yang lebih mengerti mereka selain diriku!”, jawabku.
“Jangan kau membuatku tertawa. Bahkan aku bisa membaca pikiran animusmu sekarang”, ucapnya dengan sombong.

Cih, dasar wanita banyak omong. Rasakan ini!
FROST NOVA!!
Lagi - lagi Paimon miliknya bisa menahan seranganku.
“Baiklah, akan kutunjukkan perbedaan kekuatanmu denganku. Hecate, Isis, keluarlah! Maximus Animus! Serang dia!”, serentak 2 animus itu menyerangku sementara Paimon tetap menjaganya. Apa - apaan ini? 2, tidak, 3 animus sekaligus? Paimon segera kuarahkan untuk melindungiku.

Celaka! Hecate miliknya menghentikan gerakan Paimonku! Isisnya pun segera menyerangku. Aku tidak akan sempat menghindar!
KYAAA!!

….
….
“..la Layla.. bangunlah..”, suara seseorang terdengar olehku. Saat kubuka mataku, kulihat sekelilingku sangat gelap. Dimana ini? Apakah aku sudah mati?
“Syukurlah kau sadar..”, suara itu datang lagi. Lalu setelah kucari asal suara itu, ternyata…Inanna? Apa ini mimpi?
“Kau, Inanna? Kenapa bisa berbicara denganku?”, tanyaku heran.
“Sebenarnya kami semua ingin berbicara denganmu sejak dulu. Namun baru sekarang kami bisa melakukannya”, jawabnya.
“Kenapa? Kenapa baru sekarang kalian bisa?”, tanyaku lagi.
“Kalau boleh aku berbicara, selama ini kau memang menganggap kami sebagai senjata andalanmu”, tiba - tiba terdengar suara lain. Ternyata…Paimon?
“Ternyata setelah bertahun - tahun kita bersama dia, dia tidak berubah sama sekali ya?”, kata satu suara lagi. Hecate? Ternyata begitukah perasaan kalian semua?

“Maaf…maafkan aku…aku memang grazier yang payah. Hanya bisa mengandalkan kalian saja. Sekarang…sekarang aku akan gantian bertarung untuk kalian”, kataku pada mereka.
“Makanya tidak salah kalau mereka bilang kau lemah!”, muncul 1 suara lagi.
“Kaukah…Isis?”, tanyaku.
“Grazier tadi berkata kalau Grazier tidak akan bisa bertarung tanpa animus. Begitu juga kau”, timpal Isis lagi. Aku hanya terdiam mendengar kata - katanya.
“Namun tidak berarti kami tidak akan membantumu”, lanjutnya. Aku terkejut mendengar kata - kata itu.
“Kami akan selalu mendampingimu sampai saat terakhir”, kata Inanna.
“Aku akan selalu menjadi tamengmu saat kau butuh”, sambung Paimon.
“Kalian…”, aku tidak bisa berkata apa - apa. Namun tiba - tiba saja air mataku keluar dengan sendirinya.
“Sekarang bukan saatnya untuk menangis. Mari kita tunjukkan siapa Grazier dan animus yang paling kuat”, Hecate menambahkan. Inanna mendekatiku dan mengusap air mataku. Inikah animus? Ternyata mereka memang bukan sekedar senjata. Mereka adalah bagian dari diriku. Mereka bukan bertarung untukku dan aku bukan bertarung untuk mereka. Kami bertarung bersama - sama demi kami sendiri. Sekarang aku mengerti.
“Terima kasih, Paimon, Inanna, Hecate dan Isis. Rasanya sekarang hatiku sudah terhubung dengan kalian. Mulai sekarang kita akan bertarung bersama - sama!”, kataku pada mereka. Mereka semua terlihat gembira dan kembali bersemangat. Rasanya akupun bisa memenangkan semua pertarungan asalkan ada mereka.
“Kau sudah siap? Kita mulai”, Isis mengakhiri.

Seraya itu juga aku kembali tersadar. Aku masih di ruangan itu, dimana Reita masih berdiri dengan Paimon, Hecate dan Isis mengelilinginya.

“Hoo.. Ternyata kau sudah sadar? Kukira kau sudah kembali ke DECEM”, kata Grazier itu.
“Aku tidak akan bertemu DECEM sebelum mengalahkanmu! Bersiaplah!”, aku langsung memanggil Paimon dan Isis.
“Coba kau serang aku kalau bisa. Hecate! Isis! Lumpuhkan dia!”, seru Reita.

“Isis, Paimon, kalian bisa mendengarku?”, kataku pada mereka.
“Ya. Ada apa?”, tanya Isis.
“Bagus. Kalian pergi ke belakangnya dan cari celah. Aku akan mengalihkan perhatiannya”, seruku pada mereka.
“T-tapi…”, Isisku masih ragu - ragu.
“Cepatlah! Tidak ada waktu lagi!”, jawabku.

Aku segera menambah kecepatan gerakanku. Aku berlari mengindari Isis dan Hecate miliknya. Saat itu juga Isis ku mendekati dia dari belakang. Rencanaku berhasil, ia kebingungan karena datang serangan dari belakang. Saat dia menoleh ke arah Isis ku, ia pun langsung bersiap menyerangnya. Bersamaan dengan itu, Paimonku masuk di antara dia dan Isisku. Ini saatnya!

FLAME ARROW! DHUAR!
Sihirku lumayan mengagetkannya dari belakang. Saat ia menengok kembali ke arahku, Isis ku langsung menyerangnya. Punggungnya terluka cukup parah. Namun aku sama sekali lupa dengan Hecate dan Isis miliknya yang mengejarku. Aku diserang berdua dan terluka cukup parah juga. Kami masing - masing menarik animus kami masing - masing dan memanggil Inanna untuk memulihkan luka kami masing - masing.

“Kau tidak apa - apa?”, tanya Inanna kepadaku.
“Aku baik - baik saja”, jawabku.
“Kau nekat. Kau malah menjadi umpan untuk membukakan kami celah menyerang”, katanya lagi.
“Tidak apa - apa. Lebih baik begini, aku yang menjadi umpan dan mereka yang menyerang. Aku percaya pada mereka. Kita akan lihat, siapa Grazier yang lebih hebat. Dia atau aku!”, jawabku.

Setelah aku cukup memulihkan lukaku, Isis dan Hecate kupanggil kali ini. Sedangkan ia hanya berdiri sendiri tanpa ditemani animus miliknya.

“Ternyata kau punya nyali juga. Bisa menyerangku dengan cara seperti itu. Baguslah, kalau tidak begini tidak akan menarik. Atas ucapannya salutku atas keberanianmu, akan kutunjukkan sesuatu padamu. Bersiaplah!”, serunya.

Aku agak mundur sedikit untuk mengamati apa yang akan dia lakukan. Sementara Isis dan Hecate ku terus berjaga - jaga. Perlahan - lahan kulihat tubuhnya seakan diselimuti suatu aura. Semakin lama terasa semakin kuat. Aku menggenggam tongkat sihirku makin erat. Lalu ia pun mengangkat kedua tangannya, lalu ia berseru…

“KELUARLAH, BELZE!”, saat itu juga muncul pentagram sihir di tanah. Dari situ juga muncul satu sosok animus. Ia berbeda dari animus yang selama ini kulihat. Ia bukan Paimon, Inanna, Hecate maupun Isis. Bentuknya kecil, sedikit lebih tinggi dari Bellato. Memiliki sayap kelelawar yang besar. Tubuhnya kekar dan terlihat sangat kuat. Sama seperti Isis, di kedua tangannya terdapat sepasang pedang force. Tunggu, rasanya aku pernah melihatnya. Iya! Itu adalah monster yang membeku di pintu masuk menuju ruang ini. Ternyata, itu animus yang dibicarakan kakek itu. Belze… Animus seperti apa dia…

“Sepertinya kau lumayan terkejut. Kau belum pernah melihatnya? Ini adalah Belze, animus terkuat di antara para prajurit DECEM”, kata Reita. Sampai saat ini animus itu masih menunduk. Aku tidak bisa melihat mukanya dengan jelas. Tiba - tiba saja dia mendongak dan mata birunya menyala menatapku.
“Kenapa? Apa kau takut?”, ejek Reita.
“S-siapa yang takut? Isis! Hecate! Kita serang! FLAME ARROW!”, kuawali serangan kombinasi kami dengan itu. Kami pun segera maju. Aku pun bersiap mengeluarkan force berikutnya. Sementara itu Hecate dan Isis segera menuju Belze. Tapi…

SASHH!! UWAA!!
Se-sejak kapan Belze ada di depanku?! Cepat sekali! Belum sempat aku menghela nafas, ia terus menyerangku. Ia sangat gesit, jauh berbeda dengan animus yang lain. Di sela - sela serangannya, aku sempat memanggil Paimon. Namun apa daya, Paimon pun bisa dipentalkan olehnya. Begitu juga aku, dengan sekali tendang aku terpental cukup jauh. Hecate dan Isis yang pergi menyerang pun berhenti melihat aku diserang. Kesempatan itu diambil Reita untuk menyerang kedua animusku. Celaka!

“Kembalilah, Hecate! Isis! Paimon!”, aku tidak punya pilihan lain. Inanna kembali kupanggil untuk memulihkanku. Lukaku cukup parah. Hampir seluruh tubuh bagian atasku dipenuhi luka tebasan. Belze pun masih berjalan mendekatiku. Inanna segera mengentikan pemulihannya dan berusaha menghalangi Belze.

“Ja…jangan…kau sentuh…Inanna…”, kataku terengah - engah.
“Kemba…lilah…Ina…nna…”, dengan sisa tenagaku aku menarik kembali semua animusku. Ha?! Inanna tidak mau kembali! Aku berusaha keras untuk menariknya kembali, namun tetap tidak bisa menariknya. Malah sebaliknya, Paimon, Hecate dan Isis keluar dengan sendirinya. Kalian ini… Kenapa tidak mau menuruti perintahku?!

“Hoo…Liatlah perbuatanmu. Karena pemiliknya terlalu lemah, para animusnya sampai bertindak diluar keinginan Graziernya”, ejek Reita.
“Diam kau!”, bentakku padanya.
“Kau ini! Perlu kuajarkan sopan santun juga ya! Belze!”, serunya.

Dengan segera Belze bergerak dengan cepat. Paimon segera menghalanginya. Namun dengan sekali tendang, ia sudah terpental jauh. Isis dan Hecate kini mencoba menghadangnya, sementara Inanna terus memulihkan lukaku. Tembakan Hecate berkali - kali dihindarinya, begitu juga dengan serangan Isis. Tak lama kemudian, mereka berdua sudah tumbang. Kini tinggal aku dan Inanna. Inanna yang melihat itu segera menjadi benteng untukku. Aku saat ini benar - benar tidak berdaya. Aku hanya bisa melihat Inannaku dicabik - cabik olehnya. Kini tinggal aku sendiri.

JLEBB!! UWAAAA!!
Belum sempat aku bersiap tempur, ia sudah menusukku. Tepat mengenai dada kiriku. Untung saja aku masih sempat mengangkat bahu kiriku, sehingga tidak mengenai jantungku. Lalu ia pun mencabut pedangnya dan bersiap melancarkan serangan lagi. Tamatlah riwayatku…

SHYAAKK!!
Isis?! Dia masih bisa bergerak dan menyerang Belze! Saat itu juga Paimon segera bangkit dan mendorongnya ke dinding. Dengan sisa tenagaku, aku berlari menuju Reita. Ia pun segera melancarkan beberapa Flame Arrow dan Frost Arrow. Hecate pun dengan sigap segera menyingkirkan semua itu dengan serangannya. Reita kembali bersiap melancarkan serangannya. Dengan segera aku menembak Flame Arrow ke stalaktit es yang ada langit - langit. Stalaktit itu segera berjatuhan tepat ke arah Reita.

Ia pun melompat ke belakang untuk menghindarinya. Sementara itu aku terus berlari ke arahnya. Usahaku untuk mengalihkan perhatiannya berhasil. Saat ia bangun, Hecate segera membuatnya tidak bisa bergerak. Sekarang!!

BLAST SHOT!!
Reita terkena seranganku dari jarak yang sangat dekat. Ia pun terhempas ke dinding. Aku pun langsung roboh karena kelelahan. Belze pun segera kembali ke sisi Reita. Begitu juga dengan semua animusku. Belze masih terlihat sehat, dan ia pun kembali bersiap menyerang.

“Sudah cukup, Belze”, kata Reita. Ha? Ia pun lanjut berkata. Belze pun segera menghilang. Aku pun ikut menarik semua animusku.
“Kau sudah tumbuh menjadi seorang Grazier yang hebat, Layla Silkwood.”
Eh? Darimana dia tahu namaku? Ia pun berjalan menghampiriku.
“Dari lambang di kerahmu aku bisa mengetahui kalau kau adalah anggota klan Silkwood, klan Grazier yang sangat terkenal. Tidak heran jika kau telah menguasai Isis sejak kecil. Dan juga kau masih bisa bertahan sampai sejauh ini. Aku benar - benar salut padamu. Sebagai gantinya, kuserahkan Belze padamu”, katanya lagi.
“T-tapi…”, aku kaget mendengar ucapannya.
“Tenanglah. Kau adalah orang yang terpilih. Kau pasti bisa. Namun ada beberapa hal yang perlu kau ketahui. Saat memanggil Belze, kau hanya bisa memanggil dia saja. Ia tidak akan bisa berada bersama animus lain. Dan satu lagi, lampauilah kemampuan Grazier”, jelasnya.
“Apa maksudmu?”, tanyaku.
“Keluarkanlah potensi animus yang sesungguhnya. Mereka bukanlah senjata maupun alat. Mereka adalah teman terbaikmu. Satukanlah hatimu dengan semua animusmu. Oiya, peperangan antara Accretia, Bellato dan Cora sangat dahsyat bukan? Akan lebih dahsyat lagi bila kekuatan kalian digabungkan. Kembalilah, teman - temanmu pasti sudah menunggu”, jawabnya.
“Aku mengerti”, aku pun berusaha berdiri. Reita juga membantuku berdiri.
“Terima kasih. Aku akan berangkat sekarang”, aku pun berbalik badan dan berjalan pergi.
“Tunggu…”, ia memanggilku lagi.
“Ada apa?”, tanyaku.
“Aku mendengar bahwa ada rumor tentang adanya penambah kekuatan bagi bangsa Cora”, katanya.
“Ha? Memangnya ada yang seperti itu?”, tanyaku penasaran.
“Yang kudengar, di sekitar Istana Haram, ada seorang Black Knight dengan luka di dahi yang menciptakan ramuan penambah tenaga. Kusarankan kau untuk mencari kebenarannya. Bentuknya berwarna hijau dan kecil. Kabarnya ramuan itu dingin dan terasa kenyal”, jawabku.
“Baiklah…”, setelah itu aku segera berbalik badan dan meninggalkannya. Tercipta kembali pintu ruang dimensi seperti saat aku masuk. Aku pun masuk ke dalamnya. Dalam sekejap aku sudah berada di tempat semula. Namun kali ini bongkahan es yang berisi Belze sudah hilang. Namun bongkahan es berisi pedang dan tongkat masih ada….
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 10:54 am

The Story of Bellato #7

7. STRENGTH OF A WARRIOR

Dimana ini? Jangan - jangan kakek tadi menjebakku. Huh.. Walaupun ini jebakan, akan kuhadapi siapapun yang menghalangiku. Kulanjutkan berjalan, hingga akhirnya aku menemukan sebuah pedang tertancap di tanah. Itu kan pedang yang membeku tadi? Langsung saja aku mendekati pedang itu. Begitu aku mendekat, tiba - tiba muncul seseorang di belakang pedang itu. Sesosok prajurit yang memakai jubah kulit berwarna gelap. Jubahnya menutupi sekujur tubuhnya. Dari matanya, dia…Accretia? Ia hanya terdiam memandangku. Mata merahnya dengan tajam menatap mataku.

“Apa maumu ke sini?”, tanya Accretia itu.
“Aku ke sini untuk mengambil pedang itu dan menghabisi guardian di pintu”, jawabku.
“Apa kau bisa?”, tanya dia dengan sombong.
“Kurang ajar! HEAAA!!”, aku langsung menyerangnya.

GREP!!
Apa?!! D-dia menangkap pedangku?! Ugh.. Genggamannya kuat sekali.
“Jangan terburu - buru. Beritahu dulu siapa namamu. Setidaknya aku mengetahui nama orang yang akan kuhabisi”, jawabnya dengan santai.
“KURANG AJAR!! HEAAA!!”, aku maju menyerangnya bertubi - tubi. Namun berkali - kali ia menghindar. Saat aku melihat celah, kutebaskan pedangku ke arah kakinya. Apa? Dia masih bisa menghindar? Ia melompat dan…

BHUAGG!!
Dia menendang mukaku dengan telak. Aku terpental lumayan jauh karena tendangannya itu. Sementara itu ia sudah kembali berdiri dengan sigap. Lalu ia kembali berbicara,”Hanya segini kemampuanmu? Apa kau sama sekali tidak punya “kekuatan”? Prajurit sepertimu akan tewas di medan perang!”

Cih.. Ternyata dia banyak omong juga. Aku kembali berdiri dan bersiap melancarkan serangan berikutnya.
“Hoo.. Masih bisa berdiri rupanya. Kau yang tidak sayang nyawa ya?”, ia masih banyak berbicara. Langung saja aku maju ke arahnya. Ketika aku tepat berada di depannya, aku segera melompat ke samping. Ia pun seperti terkejut. Saat ia menoleh ke arahku, aku segera lompat ke arah sebaliknya sambil menebas kakinya. Berhasil! Ia kehilangan keseimbangan, lalu…

PRESSURE BOMB!! DHUAGG!!
Walaupun ia mencoba menahan seranganku dengan kedua tangannya, ia tetap terpental jauh karena seranganku. Kali ini seranganku berhasil. Tapi ia masih bisa berdiri. Dari balik jubahnya ia mengeluarkan sepasang Laser Gun. Lalu ia kembali menghampiriku.
“Bersiaplah!”, serunya.

Ia berlari mendekatiku sambil menembak bertubi - tubi. Aku berusaha menghindar dan menahannya dengan pedangku. Ia terus bergerak kesana kemari. Cih, menyebalkan! Harus kukunci gerakannya.

MAGNETIC WEB!
Seketika gerakannya terhenti. Aku segera maju untuk mengambil kesempatan ini dan menyerangnya.

TORNADO! DHUAG!!
Dia kembali menahan seranganku dengan tangannya, namun ia masih terpental karena kekuatan serangan putaranku. Apa?! Ia masih bisa berdiri? Lawan yang menarik. Ia pun berjalan perlahan menuju pedang tertancap itu. Jangan - jangan dia bermaksud mencabut pedang itu! Aku pun segera berlari untuk mencegahnya. Namun…APA?!! Tubuhku… Aku tidak bisa bergerak!! Ini… Magnetic Web?! Ternyata dia juga seorang Punisher! Ia mendekati pedang itu dan mencabutnya. Terlihat kekuatan yang besar mengalir pada dirinya. Ia pun menghampiriku dengan membawa pedang itu. Ia pun kembali berbicara. Dan sepertinya ia tidak sadar kalau Magnetic Web nya sudah terlepas.

“Tak kusangka kau bisa melakukan gerakan seperti itu. Sekarang aku akan bertarung dengan serius. Sebelumnya, kuberi tahu 1 hal. Dari tadi aku belum mencabut pedang ini. Jadi belum bisa dibilang aku sudah bertarung sekuat tenaga. Kini kau akan benar - benar kuhabisi”, katanya lagi.
“Berbicaralah sesukamu. Karena sebentar lagi KAU AKAN MENGHILANG!! HIYAA!!”, aku langsung berlari ke arahnya. Ia pun segera mengambil kuda - kuda bertarung. Aku langsung mengayunkan pedangku tepat ke arahnya. Ia berhasil mengelak lalu balas menyerang. Cepat sekali! Aku terkena tebasannya!

Kemudian ia melanjutkan beberapa tebasan bertubi - tubi. Aku hanya bisa menahannya dengan pedangku. Beberapa dari serangannya dengan telak mengenaiku. Belum selesai, ia mundur beberapa langkah, lalu menyimpan pedang itu dipunggungnya dan mengeluarkan Laser Gun lagi. Ia menembakiku bertubi - tubi. Kali ini aku benar - benar tidak bisa mengelak. Sambil menembak ia pun melompat maju ke arahku. Semakin lama semakin mendekat. Aku benar - benar menjadi bulan - bulanannya. Begitu jarak kami sudah dekat, ia melempar pistolnya dan kembali menebasku bertubi - tubi, yang diakhiri dengan sebuah Tornado. Pedangnya kembali disimpan. Dari balik jubahnya ia mengeluarkan sebuah Bazooka.

DHUARR!
Ia langsung menembakiku dengan Bazooka miliknya. Aku benar - benar tidak diberi kesempatan untuk membalas sama sekali. Sensor penglihatanku sedikir rusak. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Namun samar - samar aku melihat dia berjalan ke arahku. Ia pun kembali berbicara.

“Hei. Siapa namamu?”, tanyanya.
“Proto… Saber…”, jawabku.
“Nama yang terdengar kuat. Sayang sekali nama itu sebentar lagi hanya tinggal kenangan”, ujarnya. Aku pun kembali berusaha untuk berdiri. Aku tidak boleh menyerah di sini. Masih ada yang harus aku lakukan!
“Aku…tidak akan kalah…dari besi rusak sepertimu…”, kataku
“Besi rusak? Aku juga punya nama. Raxion…”, jawabnya.
Ra..xion? Entah kenapa saat mendengar namanya aku merasa ketakutan. Rasanya di depanku berdiri seseorang yang sangat kuat.
“Kenapa? Apa kau takut setelah mendengar namaku?”, tanyanya sombong.
“Huh… Justru aku semakin bersemangat. Aku….pasti akan mengalahkanmu!!”, setelah berkata begitu aku langsung menyerangnya.

PRESSURE BOMB!!
Ia terkena sedikit seranganku. Meskipun tidak mengenai tubuhnya, seranganku telah merobek jubahnya. Kini tersingkap sosok dia yang sesungguhnya. Armor warna putih terpasang di sekujur tubuhnya. Laser Gun tadi ada di pinggangnya dan pedang itu, Hades terpasang di punggungnya. Apakah dia Raxion yang itu? Ksatria legendaris yang melarikan diri dari kerajaan? Mengapa dia bisa ada di sini?

“Hei… Bukankah kau Raxion yang dulu melarikan diri dari kerajaan karena pergi bersama dengan bangsa lain?”, tanyaku penasaran.
“Memangnya kenapa? Apa salah bila aku berteman dengan bangsa lain? Mereka adalah orang - orang yang bisa aku percaya”, balasnya.
“Prioritas utama bangsa Accretia adalah bertarung dan terus bertarung untuk menjadi lebih kuat dan pada akhirnya menguasai planet ini”, jawabku.
“Kau ini… Rupanya kau belum tau arti kekuatan yang sesungguhnya ya? Kau juga tidak tahu darimana sumber kekuatan terbesar”, ujarnya.
“Jangan bicara soal kekuatan denganku. Aku berlatih dan menjalankan tugas setiap saat agar aku menjadi lebih kuat. Latihan yang aku lalui pun jauh lebih berat dari yang lain. Dan kekuatanku itu akan kubuktikan dengan mengalahkanmu!”, seruku.
“Begitu ya? Kalau begitu kau akan kuajari arti kekuatan yang sebenarnya. Mari kita lihat, kekuatan mana yang akan menang. Kekuatan “terlatih” milikmu atau kekuatan “hati” milikku. Bersiaplah!”, setelah selesai berbicara ia langsung maju menyerangku.

DHUARR! DHUARR!
Ia menembakkan Bazooka berkali - kali sambil mempersempit jarak. Aku tahu yang ia rencanakan. Ia pasti ingin mengalihkan perhatianku lalu menyerang dengan pedang. Kalau begini aku harus menjaga jarak. Aku terus menghindar dan menjauh darinya. Kami hanya berputar - puar di ruangan. Lalu ia berhenti mengejarku dan berdiri di dekat sebuah bongkahan es. Aku pun bersiap - siap dengan kuda - kudaku. Ia pun berdiri di belakang bongkahan es itu dan menaruh Bazooka miliknya di atasnya. Tunggu! Bentuk es itu…menyerupai Siege Kit! Jangan - jangan…

DHUARR! DHUARR! DHUARR!
Kali ini ia menembakiku lagi namun dengan energi yang jauh lebih besar. Cih! Aku salah menduga. Aku hanya bisa berlari dan mencari tempat bersembunyi. Aku pun dapat bersembunyi di balik sebuah tiang es. Namun ia masih terus menembakiku. Bagaimana caranya agar aku bisa menyerang balik?! Aku terus melihat sekeliling untuk mencari cara.

Hei… Tunggu dulu. Tiang es di dekatku ini tidak menyentuh langit - langit. Dan sepertinya panjang tiang ini bisa mencapai tempat Raxion. Baiklah…

SHINING CUT!
Kupotong dasar tiang itu sehingga tiang itu roboh menimpa Raxion. Ia pun segera terkejut dan berusaha menghindar. Aku pun segera berlari ke sebelah kanan. Kalau dugaanku tepat, ia akan melompat ke sana. Tepat! Sekarang giliranku menyerang.

TORNADO!
Segera saja kuserang dia sekuat tenaga. Saat ini ia tidak memiliki pertahanan. Tapi…

DHUAGG!
Ukh… Ia masih bisa menghindariku, mencabut pedangnya dan membalas dengan Tornado juga. Kami pun kembali beradu pedang dengan mengeluarkan semua jurus kami. Jurus yang kami gunakan ternyata sama semua. Tapi gerakannya berbeda dengan gerakanku. Tornado yang diagonal, Shining Cut yang terbalik dan Death Hack yang jauh lebih banyak dan cepat. Lama kelamaan aku pun semakin terdesak. Sampai pada akhirnya kami berdua melompat dan sama - sama melancarkan Pressure Bomb. Inilah penentuannya!

Setelah kami beradu Pressure Bomb dan telah mendarat, aku segera mengincar ini untuk melancarkan jurus terakhir.
“SELESAILAH SUDAH!!”, langsung saja aku melancarkan Death Blow tepat setelah kami mendarat. APA?!! Dia menghilang… Tidak! Dia ada di atas. Sejak kapan dia melompat?!

PRESSURE BOMB!! UAGHH!!
Setelah ia melompat ia kembali melancarkan Pressure Bomb. Aku terkena dengan telak. Aku terkapar tak berdaya seketika. Bagaimana bisa? Melancarkan serangan yang sama tanpa jeda. Dia ini…monster… Ia pun hanya berdiri saja memandangiku yang sudah tidak berdaya.

“Aku kalah… Cepat habisi aku…”, kataku dengan pasrah. Ia pun segera membalik pedangnya dan mengangkatnya tinggi - tinggi. Palladium…maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu dalam menjalankan tugas lagi. Tak kusangka hidupku akan berakhir seperti ini. Saat kulihat dia hendak menancapkan pedangnya, aku segera memadamkan sensor penglihatanku.
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:01 am

The Story of Bellato #8

8. CAUSE YOU’RE DIFFERENT

Kunyalakan kembali sensor penglihatanku dengan perlahan. Aku…..masih hidup? Aku masih berada di tempat terakhir bertarung dengan Raxion. Saat ku menoleh, kulihat Hades menancap tepat di samping kepalaku. Apa maksudnya ini? Dia tidak jadi membunuhku? Aku…..merasa sangat terhina. Aku tidak mau dikasihani seperti ini! Aku pun segera bangkit dan mencari Raxion. Kutemukan dia sedang terduduk diam. Segera saja aku berjalan ke arahnya. Dia pun menoleh.

“Hei! Apa maksudmu melakukan ini?”, tanyaku.
“Melakukan apa?”, tanyanya balik.
“Jangan pura - pura bodoh. Apa maksudmu masih membiarkan aku hidup? Aku merasa sangat terhina!”, jawabku.
“Kau ini….. Harusnya kau berterima kasih masih kubiarkan hidup. Lagipula, aku tidak pandai dalam hal mengakhiri nyawa seseorang”, jawab Raxion.
“Oh, begitu? Kalau begitu jangan salahkan aku bila aku yang tiba - tiba membunuhmu. Kau akan menyesal!”, kembali aku berbicara dengan nada tinggi. Ia pun terdiam sejenak. Lalu kembali berbicara.

“Lakukanlah…. Lakukanlah kalau kau bisa….”, jawabnya dengan santai.
“Jangan salahkan aku!”, aku pun segera berbalik untuk mengambil pedangku.
“Kau yang sekarang tidak akan bisa mengalahkanku”, samar - samar aku mendengar Raxion berkata seperti itu. Aku pun menghentikan langkahku.
“Saat ini kau tidak punya kekuatan apa - apa di dalam dirimu. Percuma saja. Kau tidak akan bisa mengalahkan kekuatanku”, sambungnya lagi. Aku terkejut mendengarnya. Kata - kata itu terdengar sangat menyakitkan. Di kerajaan, aku dikatakan prajurit biasa yang memiliki kekuatan setara dengan para archon dan wakilnya. Bukan hanya aku saja. Bersama dengan Palladium dan Erza, aku sudah banyak mengalahkan bangsa lain dan mencapai pangkat Cohort dalam waktu singkat. Aku tidak punya kekuatan? Jangan bercanda.

“Hei! Apa kau mau bertanding ulang? Kali ini akan kutunjukkan semua kemampuanku”, tantangku padanya. Ia hanya terdiam dan menunduk. Huh, sudah kukira dia akan takut. Tadi dia menang hanya kebetulan saja.
“Aku tidak mau”, jawab Raxion.
“Apa?! Apa kau takut padaku?”, tanyaku lagi.
“Bukan itu. Hasilnya sudah ketahuan. Kau tidak mungkin menang”, jawabnya lagi.
Mendengar kata - kata itu aku semakin naik pitam. Ia tidak berhenti menghinaku.

“Kau mau marah?”, tanya Raxion. Aku hanya terdiam saja sambil memandangnya.
“Kau coba angkat dulu pedangku itu. Kalau kau bisa mengangkatnya, aku mengaku kalah”, ujar Raxion. Apa? Dia ini main - main ya?
“Hei. Jangan bercanda. Pertarungan yang sesungguhnya adalah dengan beradu kekuatan. Bukan dengan cara seperti ini”, kataku lagi.
“Sudah. Jangan banyak omong. Coba saja angkat. Kalau kau bisa….”, kata - kata terakhirnya memancingku untuk mengangkat pedang itu. Lihat saja! Kau akan menyesal!

Aku pun segera menghampiri Hades yang tertancap di tanah itu. Kugenggam ujung pedang itu dan segera kukerahkan seluruh tenaga untuk mengangkatnya. Ughh… Berat sekali. Pedang itu serasa menyatu dengan tanah. Kurang ajar! Akan kucoba lagi. Ugh… Sial!! Tidak bisa! Kalau begitu…

MAGNETIC ARM!
Kukerahkan semua tenaga yang kupunya untuk mengangkatnya. Tapi….tetap tidak bisa. SIAAAL!!! Aku hanya bisa terdiam memandangi pedang itu. Aku tidak menyangka dengan semua kemampuan yang kupunya, aku tidak mampu mengangkat pedang tersebut.

“Kau sudah mengerti kan?”, tanya Raxion.
“Mengerti? Mengerti apa?!!”, jawabku.
“Sekarang kutanya padamu. Apa arti kekuatan bagimu? Dan apa fungsinya?”, tanyanya lagi.
“Kekuatan? Sudah jelas kekuatan adalah sesuatu yang aku gunakan untuk mengalahkan orang lain. Untuk menghancurkan semua penentang kerajaan. Bagiku kekuatan adalah syarat terpenting untuk tetap bertahan hidup”, jawabku. Ia terdiam untuk sejenak setelah mendengar kata - kataku. Kemudian ia bangkit dan menghampiriku.

“Saat ini aku tidak bisa berkata banyak kepadamu. Karena memang sulit untuk dijelaskan. Suatu saat nanti kau pasti mengerti apa arti kekuatan sebenarnya dan apa sumber kekuatan terbesar di dunia ini”, katanya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan. Selama ini yang kulakukan untuk mendapat kekuatan adalah dengan latihan dan menjalankan tugas. Lalu berperang dengan bangsa lain untuk menguji sampai sejauh mana kekuatanku. Dengan cara itu aku merasa sudah bisa menjadi kuat. Lalu, apa lagi yang salah? Ia pun kembali berbicara.

“Perlu kau ketahui. Walaupun kita adalah bangsa cyborg, bukan berarti kita tidak diberi kuasa untuk berpikir dan merasakan sesuatu. Kita juga memiliki sesuatu yang dinamakan dengan “perasaan”.
“Perasaan? Jangan bercanda. Kita tidak memerlukan sesuatu yang akan membuat kita menjadi lemah. Kita hanya butuh kekuatan”, tegasku.
“Apakah kau mempunyai teman?”, tanya Raxion.
“Teman? Kalau yang kau maksud anggota grup, aku memang punya”, jawabku.
“Lalu apa kau selalu bersama dengan mereka?”, tanya Raxion lagi.
“Selain misi ini, kami semua selalu bekerja bersama. Namun kali ini mereka mendapat tugas lain. Dan hanya aku sendiri yang ada di misi ke Ether ini”, jelasku.
“Apa kau merasa kehilangan? Maksudku, apakah ada sesuatu yang kurang saat sedang tidak bersama mereka?”, tanyanya lagi.
“Ada sedikit. Tidak ada teman mendobrak lawan yang bisa diandalkan. Tidak ada Striker yang bisa menyokong dari belakang. Tidak ada Battle Leader yang tegas dan pandai mengambil keputusan. Makanya aku cenderung bekerja seorang diri”, jawabku.

“Memangnya biasanya ada?”, tanyanya lagi.
“Ya. Biasanya ada Punisher, Mercenary, Striker dan Battle Leader yang bisa diandalkan untuk menyelesaikan tugas apapun. Bahkan kami bisa menyelesaikan tugas pembasmian Turncoat di daerah Elan hanya berlima saja”, jawabku. Aku tidak akan bisa melupakan serunya bertualang ke Elan bersama mereka. Palladium, Erza, Evilmist, Aximand dan Vathian. Kalian memang partner terbaikku. Raxion yang daritadi terdiam kembali bicara lagi.

“Tadi kau bilang kau tidak punya teman. Lalu mereka kau anggap apa? Dari ceritamu aku menarik kesimpulan kalau kau tidak bisa bekerja dengan baik tanpa mereka. Dan tanpa kau sadari, keberadaan mereka memberikan kekuatan tersendiri bagimu. Benar begitu?”, tanyanya lagi. Mendengar kata - katanya aku menjadi sadar, kalau mereka bukanlah anggota grup biasa. Mereka sudah seperti menjadi bagian dari diriku sendiri. Banyak kejadian yang telah kami lalui bersama. Kami mulai masuk militer bersama - sama. Kami menjadi kuat bersama - sama. Dan kami juga membela bangsa bersama - sama.

“Oiya, aku hampir lupa. Satu - satunya kunci untuk kembali ke tempat asalmu, kau harus menggunakan Myth itu”, kata Raxion.
“Myth? Apa maksudmu dengan Myth?”, tanyaku.
“Jadi kau belum tahu? Begini, kau pasti sudah kenal dengan Relic dan Leon bukan? Di atas Relic dan Leon, setahuku masih ada 2 jenis lagi yang sampai sekarang belum diungkap. Salah satunya adalah Hades, pedang itu”, jelasnya.
“Kenapa belum diungkap? Bukankah sudah jelas ada di sini?”, tanyaku lagi.
“Karena tidak sembarang orang bisa memakainya. Senjata Myth memiliki kekuatan yang sangat besar untuk mempengaruhi mental dan pikiran seseorang. Seseorang bisa berubah menjadi jahat dan kejam seketika karena memakai senjata Myth. Atas alasan itu juga aku membawa senjata itu ke sini. Agar tidak ada seorangpun yang memakainya”, jawab Raxion.

“Lalu, darimana kau mendapatkan senjata seperti ini?”, tanyaku lagi.
“Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana caramu mendapatkan pedang itu. Alasan kenapa kau tidak bisa mengangkat pedang itu adalah karena jiwa dan hatimu masih jauh lebih lemah dibanding energi pedang itu. Sebenarnya aku bisa saja mencabut dan memberikan pedang itu padamu. Namun bila begitu, kau tidak akan bisa menguasai pedang itu dan bukan tidak mungkin kau bisa terbunuh oleh pedang itu”, jelas Raxion.
“Baiklah. Aku akan berusaha dengan kekuatanku sendiri. Heaaa!!”, aku segera memusatkan tenaga dan berusaha mencabut pedang itu.

Ugh!! Masih belum bisa. Aku berkonsentrasi sejenak dan berpikir, apa yang harus kulakukan. Aku pun mengingat - ingat kata - kata Raxion tadi. Apa ya? Hati? Teman? Mental? Mungkin itu bisa menjadi jawaban. Tiba - tiba Raxion mengatakan sesuatu yang cukup mengagetkanku.

“Apa kau akan terus membuat temanmu menunggu?”, mendengar itu aku terkejut. Aku menjadi teringat suatu kejadian di masa lalu pada saat Chip War. Ketika itu kami dibagi beberapa kelompok untuk serangan tiba - tiba. Karena aku datang terlambat dan tidak sempat berkumpul dengan teman - temanku, mereka diserang pasukan MAU tanpa bisa memberikan perlawanan. Evilmist hampir saja hancur karena itu. Tidak! Aku tidak mau hal yang sama terjadi 2 kali. Kali ini aku tidak akan membiarkan teman - temanku menunggu! HEAAAA!

CRACK!
Dengan sekali tarik aku akhirnya berhasil mencabut pedang itu. Pedang itu pun bercahaya dengan hebatnya. Namun karena pedang itu sangat berat, aku tidak bisa mengangkatnya tinggi - tinggi. Raxion pun menghampiriku sambil menepuk tangan.

“Hebat… Hebat… Akhirnya kekuatan hatimu telah membukakan jalan”, kata Raxion.
“Kekuatan…hati?”, tanyaku.
“Hanya mereka yang berhati kuat yang mampu mengangkat pedang itu. Dan kau salah satunya”, jawab Raxion.
“Hati? Kau ini jangan berkata lelucon tidak berguna seperti itu. Kita ini bangsa cyborg, mana mungkin memiliki sesuatu yang dinamakan hati. Kita tidak memerlukan itu”, kataku.
“Kau salah. Mungkin saat ini kita adalah lempengan besi yang diciptakan untuk bertarung. Namun di masa lalu kita sebenarnya adalah manusia. Jadi kita sebenarnya masih memiliki sesuatu yang dinamakan hati. Hanya saja tidak semua orang menyadarinya, bahkan ada juga yang menyangkalnya”, ujar Raxion.

Aku hanya bisa terdiam mendengar kata - katanya. Di tengah keheningan itu aku teringat akan pedang itu. Aku pun penasaran pedang apa ini sebenarnya dan darimana dia bisa mendapatkan pedang seperti ini. “Raxion, aku penasaran. Pedang apa ini sebenarnya?”, tanyaku. Raxion pun menjelaskannya.

“Begini. Pedang ini sangatlah unik. Karena menuntut komunikasi yang baik dengan pemakainya. Tidak semua pedang bisa seperti ini. Dan lagi, kekuatan dan sifat pedang ini ditentukan dari hatimu. Maka kukatakan, hatimu haruslah kuat. Karena kalau tidak, kau bisa dikendalikan oleh pedang ini dan menjadi mesin pembunuh yang sangat kuat. Itulah kenapa pedang ini dinamakan Hades, yang berarti dewa kematian”, mendengar kata - kata itu aku sedikit takut. Yang kutakutkan adalah aku lepas kendali dan tidak sengaja menyerang teman - temanku. Aku pun kembali bertanya.

“Darimana kau mendapatkan pedang ini?”, tanyaku.
“Temanku di markas dulu pernah memberikah sebilah pedang padaku. Kala itu pedang ini masih berwarna biru langit. Dan kekuatannya pun hebat seperti sekarang. Namun saat aku bertualang ke Tanah Outcast, aku bertemu dengan seseorang yang berjubah hitam. Dia terus berkata kepadaku, “Jadilah kekuatanku… Jadilah kekuatanku…”. Tentu saja aku tidak mau diperalat seperti. Namun dia jauh lebih kuat dan berhasil mengalahkanku. Lebih dari itu, pedang ini patah menjadi 2 bagian. Saat itu juga aku marah padanya. Dan tanpa sadar, pedang itu terbentuk kembali namun kali ini dengan warna hitam kelam. Setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Hingga akhirnya aku berada di tempat ini dengan pedang itu dengan warna perak”, ujar Raxion bercerita.

“Jadi pada awalnya pedang ini tidak seperti ini? Lalu darimana nama Hades didapat?”, tanyaku lagi.
“Pada awalnya pedang ini bernama Blu Terre, kata temanku sewaktu di markas. Setelah berubah, orang tua yang bernama Sleith itu memanggil senjata ini dengan sebutan Myth yang bernama Hades. Awalnya aku tidak percaya dengan kakek itu. Karena ia bukanlah Accretia, Bellato ataupun Cora. Dan rasanya tidak mungkin kalau dia bangsa Herodian. Setelah dia menjelaskan semuanya, barulah aku percaya”, kata Raxion.
“Satu lagi, bagaimana kau bisa berada di sini? Di ruang gelap dan dingin seperti ini?”, tanyaku lagi.
“Ooh.. Itu.. Itu karena aku tidak ingin ada sembarang orang yang memakai pedang ini. Atas saran kakek itu, aku bersembunyi di sini dalam bersama pedang itu dalam keadaan dorman alias tertidur. Hingga akhirnya kau membuka segel pedang ini dan tiba di tempat ini”, jawabnya.

Aku kembali terdiam mendengar semua ceritanya. Masih banyak hal yang ingin kutanyakan. Namun aku bingung bagaimana menanyakannya. Ternyata yang apa yang sudah ia alami memang sangat menakjubkan. Tunggu… Dia berkata jubah hitam? Mungkinkah…

“Raxion… Tadi kau bilang bertemu seseorang berjubah hitam. Apakah mereka bangsa Esper yang diceritakan Sleith?”, tanyaku lagi.
“Hum? Aku sendiri kurang tahu. Yang jelas, dia bukan orang biasa. Mungkin saja kakek itu lebih tahu. Hei, sampai kapan kau mau di sini? Mungkin saja teman - temanmu sudah menunggumu untuk kembali”, ujar Raxion.
“Teman? Saat ini aku tidak tahu mereka kawan atau lawan. Yang penting aku bisa keluar dari tempat ini dan kembali ke markas. Lagipula saat ini aku sedang bersama Bellato dan Cora”, kataku.
“Haha.. Berpetualang dengan bangsa lain ya? Itu bukanlah suatu hal yang buruk. Dulu aku juga pernah mengalaminya. Nanti juga kau akan melihat, bagaimana kekuatan yang selama ini berseteru, bila digabung akan tercipta kekuatan yang sangat menakjubkan”, kata Raxion.

“Kita lihat saja nanti. Baiklah… Sekarang aku akan kembali ke sana”, kataku. Aku pun melambai tangan dan membawa pedang itu pergi menuju ruang waktu yang ada. Tiba - tiba saja Raxion memanggilku kembali.
“Tunggu sebentar”, kata Raxion. Ia segera mengambil jubahnya. Lalu di dalam jubah itu terdapat bungkusan. Setelah dibuka, terlihatlah jubah yang memiliki banyak sayap. Itu kan…Panzer Pligel?
“Ini untukmu… Bawalah. Suatu saat kau akan memerlukannya. Berhati - hatilah dalam perjalananmu. Dan jangan biarkan mata hatimu buta. Selamat tinggal”, setelah berkata begitu Raxion berbalik badan dan mengambil barang - barangnya. Bisa kulihat dia sedang mengamati Bazooka miliknya. Aku pun berpaling dan memasuki ruang waktu tadi.

ZUUNG…
Dalam sekejap aku sudah kembali ke tempat semula. Ruang waktu di belakangku pun perlahan - lahan hilang. Aku sempat terkejut. Karena kukira aku masih bisa bertemu dengan Raxion. Ternyata tadi adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengan dia. Kemudian masih ada ruang waktu dan sebuah tongkat beku di dekatku. Berarti Bellato itu masih di dalam. Perhatianku teralih pada bercak darah di lantai. Bercak darah itu seperti membentuk suatu jejak. Kuikuti saja jejak itu sampai ke tempatnya.

Rupanya itu adalah darah gadis Cora tadi. Rupanya dia sudah kembali. Tapi darah yang keluar banyak sekali. Bisa kulihat dia terduduk lemas dengan nafas tidak beraturan. Tangannya menutupi dadanya yang terluka. Segera saja kuhampiri dia. Matanya terpejam seperti menahan sakit. Namun nafasnya masih menandakan kalau dia masih sadar.

“Hei… Kau baik - baik saja?”, tanyaku. Dengan susah payah ia mencoba menengok. Matanya perlahan terbuka. Ia menatapku dengan pandangan lemas dan sayu sambil menggelengkan kepalanya. Tidak lama sesudah itu, ia pingsan dan terlentang. Melihat itu aku menjadi tidak tega dan membopoh dia. Badannya terasa hangat. Inikah tubuh manusia? Aneh sekali aku bisa baik seperti ini terhadap bangsa lain. Aku pun teringat kata - kata Raxion tentang hati. Mungkin saja ini yang dia maksud.

Kubawa dia ke tempat lebih tinggi agar ia bisa menyandarkan kepalanya. Setelah kuletakkan tubuhnya, bisa kulihat dada sebelah kirinya terdapat luka tusukan. Namun sepertinya ia masih beruntung dan tidak mengenai jantungnya. Bila kuperhatikan, ia terlihat manis juga. Aku pun tidak bosan untuk memandangnya. Perasaan apakah ini? Raxion… Andai kau bisa ada di sini dan menjelaskan padaku semuanya.

Karena aku tidak mengerti tentang medis dan sepertinya kakek itu sedang tidak ada, aku hanya bisa diam menemani gadis itu sedang tidur. Mungkin saja tidak lama lagi Bellato tadi akan kembali dan bisa menyembuhkan luka gadis ini. Sepertinya ia sudah melalui pertarungan yang sangat berat. Tapi dia tampak tiba di sini lebih dulu. Bisa kusimpulkan bahwa yang kami bertiga alami bukanlah pertarungan ringan. Dan alasan kenapa Bellato itu belum juga kembali mungkin karena dia menghadapi pertarungan yang sangat berat. Gadis ini Grazier, dia punya Animus. Aku seorang Punisher, pasti bisa bertahan hidup. Tapi…apa seorang Holy Chandra bisa melaluinya? Cepatlah kembali makhluk kecil. Di sini ada yang membutuhkan pertolonganmu…
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:03 am

The Story of Bellato #9

9. EVIL ASSOCIATION

Kubuka mataku dengan perlahan dan kulihat aku berada di sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan ini terasa lebih dingin dari ruang sebelumnya. Kulangkahkan kakiku untuk melihat apa saja isi ruangan ini. Tampak dari jauh terlihat ada sebuah altar. Segera saja kupercepat langkahku untuk melihatnya. Mungkin saja itu barang yang aku cari. Setelah kudekati ternyata ada seseorang di sana. Ia memakai jubah besar dan berpenampilan seperti seorang spiritualist. Di dekatnya ada sebuah tongkat yang tergeletak di altar. Aku pun menghampirinya.

“Ada tamu rupanya…”, tiba - tiba orang itu berbicara. Mengagetkan saja…
“Ada perlu apa kau ke sini?”, tanyanya lagi.
“Tongkat itu…”, jawabku singkat.
“Hmm… Begitu? Untuk apa kau mencari tongkat ini?”, tanyanya lagi.
“Kakek yang di luar sana memberitahuku kalau tongkat ini dapat mengalahkan monster penjaga pintu. Maka dari itu aku ke sini untuk mengambilnya”, jawabku.
“Lalu… Bila sudah selesai, akan kau apakan tongkat ini?”, tanyanya lagi.
“Err…”, aku bingung mau menjawab apa. Lagipula aku sudah malas menjawabnya.
“Baiklah. Kuganti pertanyaanku. Siapa namamu?”, tanyanya lagi. Astaga…
“Hazel”, jawabku singkat.
“Apa kau tahu siapa namaku”, kembali lagi muncul pertanyaan.
“Mana aku tahu…”, lama - lama aku menjadi jengkel juga.
“Apa kau mau tahu?”, kembali lagi ia bertanya.
“Terserah…”, aku sudah jengkel sekali.
“Haha… Kau memang menarik. Namaku Rhodean. Seorang Bellato sama sepertimu. Ouw… Aku tidak menyangka dia seorang Bellato juga. Mungkin karena tertutup jubah.

“Lalu… Apa profesimu?”, aduh… Masih belum selesai juga?
“Holy Chandra”, jawabku lagi dengan singkat.
“Hoho… Berbeda denganku. Aku seorang Wizard”, balasnya. Wew… Siapa yang bertanya?
“Hmm…”, dari gelagatnya dia sudah selesai mewawancaraiku. Aku harus bersiap - siap.
“Apa aku tampan?”, GUBRAKK. Apa - apaan ini? Tiba - tiba saja dia melontarkan pertanyaan yang sangat tidak berguna. Dasar orang aneh. Aku lebih memilih untuk diam.
“Ya… ya… Aku tahu kalau aku tampan. Wajar saja kau terdiam penuh kekaguman seperti itu”, astaga. Lama - kelamaan aku menjadi jengkel sendiri. Baru pertama kali aku bertemu seseorang yang aneh seperti ini.
“Ehem… Kita kembali ke masalah utama. Kau bilang kau mau tongkat ini kan? Lalu…apa kau bisa?”, hee… Pertanyaan tadi langsung mengubah sorot mataku. Sepertinya ini akan menjadi lebih dari sekedar perbincangan tak berguna.
“Apa maksudmu bertanya seperti itu?”, tanyaku.
“Aku hanya ingin tahu apa kau mampu memakai Helios ini. Ada yang salah?”, jawabnya.
“Hhh… Lalu apa maumu?”, tanyaku lagi.
“Aku sedang berbaik hati. Akan kubiarkan kau mengambilnya asal kau bisa bertahan hidup”, jawabnya.
“Ha? Dari apa?”, tanyaku lagi.
“Sebentar lagi kau akan tahu”, jawabnya dengan nada serius.

Benar saja. Tongkat yang tadi tergeletak gini bercahaya dan terbang. Cahayanya pun bersinar semakin terang. Lama kelamaan cahaya itu terbagi menjadi 2 bagian yang bersinar sama terangnya. Perlahan - lahan cahaya itu pudar. Terlihatlah sosok 2 orang. Apa?! Mereka… Aku??! Apa maksudnya ini??!! Dari pakaian dan senjata semuanya sama. Warna rambut dan bola matanya juga. Hanya saja mereka tidak memiliki ekspresi. Lelucon macam apa ini?!!

“Sepertinya kau cukup terkejut. Sekilas mereka hanyalah tiruan dirimu. Tapi dibalik itu, ada sesuatu yang sangat berbeda. Mereka adalah dirimu dalam wujud Wizard dan Astralist. Yang mana yang Wizard dan yang mana yang Astralist, aku juga tidak tahu. Hahahaha..”, Rhodean kembali bercuap - cuap. Menarik juga. Jadi setelah mengalahkan mereka aku akan segera mendapatkan tongkat itu? Baiklah kalau be… UWAAA!

Aku segera melompat ke samping menghindari semburan api yang keluar. Baru saja aku akan berdiri, aku kembali dihujani dengan api. Aku kembali berlari untuk menghindar. Sial! Apa - apaan mereka ini?! Benar - benar tanpa basa basi. Mereka pun kembali menghimpun kekuatan.

EDIAN SOUL!
Tubuh mereka berdua seperti diselimuti aura kuat. Jadi ini Edian Soul, penambah kekuatan sihir para Psyper. Aku harus lebih berhati - hati. Increase Speed! Elemental Shield! Agility! Pertama - tama Wizard itu harus kutumbangkan terlebih dahulu.

WAVE RAGE! BLAZE PEARL!
Segera saja aku menyerang dengan 2 sihir sekaligus. Mereka terlihat siap menerima seranganku dan…

WAVE RAGE! BLAZE PEARL!
Apa?!! Mereke juga melakukan hal yang sama. Bahkan dengan kekuatan lebih dahsyat. Melihat ini, segera kutambahkan dengan Aqua Blade dan Sandstorm. Selagi pandangan mereka terhalangi, aku segera bersembunyi dari mereka.

Tidak mudah menghadapi mereka secara bersamaaan seperti ini. Mereka harus dipisahkan. Kulihat sekeliling untuk mencari kalau ada yang bisa digunakan. Tiba - tiba saja…

BOOM!
Pilar tempatku bersembunyi terkena ledakan cukup besar. Sial! 2 orang itu benar - benar tidak akan melepaskanku. Aku kembali berlari menghindari serangan mereka berdua. Saat jarak aku dengan mereka cukup dekat, segera kulancarkan Sandstorm untuk membutakan mereka. Karena yang terdekat denganku adalah Astralist, dengan segera kuhantam dengan Wave Rage dan Blast Shot.

CRACK! CRACK!
Ha?!! Dia berubah menjadi bongkahan es! Dan sepertinya serangku tidak mempan terhadap dia. Mereka pun tertawa melihat seranganku gagal.

“Hahaha… Sekarang kau lihat kan kekuatan kami?”, ucap Astralist itu.
“Itu adalah Ice Guard. Jurus pertahanan nomor 1 di bangsa kita”, timpal Wizard itu.
Sial. Kalau begini caranya tidak akan mudah. Mereka harus dipisahkan. Dengan cepat aku berlari mendekati mereka dan melancarkan serangan.

AIR BL…
Belum sempat aku mengeluarkan sihir, tiba - tiba saja..

DEADLY STAFF! DHUAG!
Wizard tadi sudah ada di belakangku dan menyerangku. Ukh.. Kepalaku pusing sekali dan badanku tidak mau bergerak. Samar - samar kulihat mereka berdua mengambil langkah mundur dan menyerang bersama.

METEOR! WAVE RAGE!
Dengan serempak mereka melancarkan serangan. Aaakkh!! Sekujur tubuhku diselimuti rasa panas dan dingin secara bersamaan. Tempat di sekitarku pun menjadi sedikit cair karena Meteor barusan. Mereka berhasil mengenaiku dengan telak kali ini. Yang tadi itu benar - benar serangan yang bagus dan berbahaya. Segera setelah aku sadar, aku langsung kembali berdiri.

MIST SHOT!
Kuserang mereka dengan kepulan asap. Dengan cepat aku berlari dan bersembunyi di balik bebatuan es yang ada di sana. Wew… Dari dulu aku memang tidak menyukai pertarungan yang berat sebelah seperti ini. Harus kupikirkan cara untuk mengalahkan mereka. Astralist itu bisa berlindung di balik bongkahan es. Sedangkan Wizard itu bisa melumpuhkan lawan. Aku juga harus berhati - hati agar tidak terkena Force Revoker. Bila aku terkena itu dan Elemental Burn, habislah sudah. Hmm… Harusnya masih ada 1 cara yang bisa dipakai. Mudah - mudahan berhasil.

Segera kupulihkan lukaku dengan Healing dan kuperkuat diriku dengan Increase Speed, Elemental Shield dan Agility. Aku keluar dari persembunyian dan berbalik menyerang mereka dengan serangan api bertubi - tubi. Mereka pun ikut membalas seranganku. Setiap kali kekuatan sihir kami beradu, terjadi ledakan cukup besar. Ledakan terjadi di hampir semua tempat. Aku terus berlari dan menyerang. Namun lama kelamaan makin susah untuk berlari. Lantainya terasa makin basah dan licin. Mungkin meleleh karena sihir api yang dikeluarkan.

Pertarungan masih berlanjut dalam jangka waktu yang lama. Kekuatan sihirku pun hampir mencapai batas. Lantai pun sudah digenangi air sampai menutupi sepatuku. Tunggu dulu… Kalau tidak salah daritadi tidak ada seorangpun yang mengeluarkan listrik. Rupanya mereka juga sadar kalau memakai itu kami semua akan tamat. Tiba - tiba terlintas ide gila dalam kepalaku. Aku melihat keadaaan sekitar. Ada! Ada tempat yang lebih tinggi dan berbentuk pijakan. Sepertinya aku bisa naik ke sana. Saatnya untuk memulai serangan yang sesungguhnya!

FROST NOVA!
Kuarahkan ke depanku untuk mengagetkan mereka. Tidak hanya itu, lantai di depanku pun ikut menjadi beku. Dengan Mist Shot dan Sandstorm mereka jadi tidak bisa melihatku. Aku pun segera meluncur dan menjegal mereka. Astralist itu kujatuhkan dengan kakiku sementara Wizard itu tumbang dijegal tongkatku. Mereka berdua terjatuh di genangan air. Sekarang sekujur tubuh kami sudah basah. Aku pun segera bangkit dan berlari ke tempat tinggi tadi.

Sesampainya di sana mereka berdua sudah bangun. Segera saja kuhimpun force angin dengan kekuatan penuh. Astralist tadi mengambil posisi bertahan dengan memasang Ice Guard. Lalu Wizard tadi bersiap menyambut seranganku. Inilah saatnya…

LIGHTNING CHAIN!
Petir yang sangat besar keluar menyambar mereka. Astralist tadi yang sedang dalam keadaan Ice Guard tidak bisa lari kemana - mana. Ia terkena kejutan listrik yang sangat kuat. Sayangnya Wizard itu masih bisa lolos dan selamat dari seranganku. Setelah kejutan listrik itu berakhir, tubuh Astralist tadi roboh dan terkapar tak berdaya. Ia sepertinya masih hidup setelah menerima serangan yang menyeramkan itu.

“Ba..gai..mana.. mung..kin..? Ice..gu..ukh..guard.. ada..lah.. per..tahan..an..ukh.. pa..ling.. sem..purna..”, ucap Astralist tadi dengan susah payah.
“Sekuat apapun dirimu, kau tidak akan bisa mengalahkan kekuatan alam. Air akan selalu kalah oleh petir. Tubuhmu sudah basah kuyup oleh air. Bukan hal yang sulit untuk mengaliri listrik”, jawabku.
“Si..sial..”, setelah berkata begitu, Astralist tadi berubah menjadi pijar - pijar cahaya lalu pudar.

“Hebat juga kau. Untung saja aku segera menyadarinya”, kata Wizard tadi.
“Cih… Sepertinya cara yang sama tidak akan mempan padamu”, kataku.
“Tapi apa kau punya cara lain? Kau sudah hampir mencapai batas kan?”, balas Wizard itu.
“Bukan hanya aku saja tentunya. Kau juga kan?”, jawabku.
“Aku? Kekuatanku tidak terbatas! Heaaaa!! SAGE FORCE!”, tubuhnya diselimuti kekuatan yang sangat kuat. Udara di sekelilingnya pun terasa mencekam. Aku menggenggam tongkatku erat - erat untuk bersiap menyambut serangannya.

“Bersiaplah! IMPACT FORCE!”, seru Wizard itu. DHUAG!
Aku terkena hempasan energi yang sangat kuat. Dan yang sangat menakjubkan, jangkauan serangan itu sangat jauh. Dari sini aku akan kalah dalam jangkauan. Mau tidak mau aku harus mendekat. Restoration! Increase Speed! Agility! Elemental Shield! Efficiency! Aku langsung berlari ke arahnya dan menyerang.

TECTONIC MIGHT!
Sial… Seranganku tidak dapat menjangkaunya. Sebaliknya, dia terus menghujaniku dengan berbagai force. Mulai dari Blaze Pearl, Frost Nova, Flame Arrow, Lightning Chain, Tectonic Might, Aqua Blade sampai Impact Force milik Wizard. Aku benar - benar kalah jangkauan. Yang bisa kulakukan sekarang hanya menghindar saja. Walaupun sudah kukeluarkan Efficiency, tetap saja energi force ku akan mencapai batasnya. Hanya ada 1 peluang.

Kalau kuperhatikan, dari tadi pola serangannya selalu sama. Diawali dengan Impact Force dan diakhiri dengan Aqua Blade. Dia mengeluarkan sihir dengan beruntun dan tanpa jeda. Kecuali setelah Aqua Blade. Sempat terlihat ia berlari sejenak sebelum memulai lagi gelombang serangannya. Mungkin hanya itu satu - satunya kesempatanku. Kusiapkan untuk melancarkan serangan terakhir. Setelah dia mengeluarkan Tectonic Might, langsung saja aku maju mendekat. Tepat sesuai perkiraan. Sekarang!

METEOR!
Memang aku kalah dalam hal jarak. Tapi bukan itu yang aku incar. Jalur Aqua Blade miliknya tertahan oleh bebatuan yang jatuh. Aku segera berlari mendekat. Aku menaiki batu - batu yang ada dan melompat ke arahnya. Bingo! Saat ini ia tidak ada pertahanan.

FORCE REVOKER!
Tubuhnya diselimuti listrik yang mencegah dia memakai sihir. Ini saatnya! Kutambahkan dengan Elemental Burn! Lalu…

SOLAR BLADE! WAVE RAGE! BLAST SHOT!
Ia terkena dengan telak semua seranganku. Ia terpental cukup jauh. Ternyata sebagai seorang Wizard ia bisa lupa terhadap sihir yang satu ini. Apa?! Ia masih bisa bangun? Orang macam apa dia?

“Sial!! IMPACT FORCE!”, sekali lagi dia menyerangku dengan kumpulan energi. Ukh… Bagaimana bisa?! Sial… Aku tidak menyangkanya.

“Kurang ajar. Beraninya kau membungkamku dengan Revoker. Tapi sayang sekali. Impact Force ku tidak bisa dihentikan dengan sihir seperti itu. SEKARANG KAU AKAN BENAR - BENAR KUHABISI! PURGE!”, dengan sekali Purge, sihir negatif yang kuberikan hilang semuanya. Lebih dari itu, ia seakan mengamuk.

“KAU AKAN MATI!! AQUA BLADE!”, apa?!! 3 Aqua Blade sekaligus?! Sial…
AAARRGH!! Ketiga serangan itu serentak mengenaiku. Belum selesai, ia terus menyerangku lebih cepat dan dengan jumlah yang sangat tidak biasa. Kalau begini aku benar - benar bisa celaka. Masih ada yang harus aku perbuat. Aku tidak boleh gagal di sini. Tidak bisa… TIDAK BISA!!

SNOW DRIFT!! HEAAAA!!!
Seketika muncul gelombang salju yang sangat besar. Gelombang salju itu menerpa Wizard itu dengan sangat keras. Ia pun tenggelam dalam salju itu. Tidak terlihat lagi ada tanda dia masih hidup. Hanya muncul pijar - pijar cahaya yang naik ke atas. Cahaya itu seakan beriringan menuju sebuah bola yang melayang di atas. Itu…Rhodean?

“Hebat… Hebat…”, kata Rhodean sambil bertepuk tangan. Ia bukan penyihir biasa rupanya. Ia bisa terbang tanpa menggunakan Force Booster.
“Tak kusangka Holy Chandra sepertimu bisa memanggil salju dengan force tingkat Master”, katanya.
“Hei! Siapa mereka sebenarnya?”, tanyaku.
“Mereka hanyalah ilusi yang diciptakan Helios sendiri untuk mengujimu”, jawabnya.
“Helios? Jadi bukan ciptaanmu?”, tanyaku lagi.
“Tentu saja bukan. Dan sepertinya Helios menyukaimu. Ini”, setelah berkata begitu, kumpulan cahaya tadi turun dan menghampiriku. Cahaya itu menyelimuti tubuhku, lalu hilang. He? Apa maksudnya ini? Kenapa hilang?

“Hei! Kemana cahaya tadi?”, tanyaku.
“Helios sudah menyatu dengan tubuhmu. Apa kau tidak sadar?”, jawabnya.
“Lalu bagaimana aku menggunakan tongkat itu?”, tanyaku.
“Helios berarti cahaya. Tongkat hanyalah salah satu wujudnya”, jawabnya.
“Maksudmu…ada bentuk lain?”, tanyaku lagi. Aku menjadi penasaran.
“Itu tugasmu untuk mencari tahu. Tidak ada lagi yang bisa aku katakan”, jawabnya.
“Kenapa? Apa aku harus bertarung denganmu untuk membuatmu menjelaskan padaku?”, tanyaku lagi.
“Ada saatnya kita bertemu di medan pertempuran. Tapi bukan sekarang. Sekarang bergegaslah kembali ke tempat asalmu. Bukan hanya temanmu yang sedang dalam bahaya. Tapi juga bangsamu. Kekuatan besar dan jahat mengancam ketiga bangsa di Novus ini”, setelah berkata begitu ia langsung menghilang begitu saja.
“Hei… Tunggu! Aaaa”, aku pun dihisap oleh suatu ruang waktu. Dan ketika aku sadar, aku sudah kembali ke tempat asal.

Banyak sekali hal yang misterius. Aku harus segera mencari tahu. Kekuatan Helios dan kekuatan yang mengancam bangsa - bangsa di Novus harus kucari tahu. Tidak kusangka misi pencarian sebuah batu seperti ini akan menjadi sesuatu yang rumit. Kulihat di lantai ada bercak darah yang cukup banyak. Hmm… Darah siapa ini? Accretia tadi tidak mungkin mengeluarkan darah. Kakek Sleith pun sepertinya baik - baik saja. Jangan - jangan…
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:05 am

The Story of Bellato #10

10. GET YOU CORNERED

Aku bergegas mengikuti bercak darah yang ada di lantai. Sepertinya ada seseorang yang terluka cukup parah. Setelah kuikuti bercak darah itu, aku melihat seseorang sedang terduduk lemas dengan seseorang di sampingnya. Ternyata benar dugaanku. Layla, Grazier itu terluka cukup parah. Di sebelahnya ada Accretia yang belum kuketahui namanya. Aku pun bergegas menghampiri mereka. Melihat aku mendekat, Accretia itu segera menghampiriku.

“Hei. Kau bisa menyembuhkan luka kan? Lakukanlah sesuatu pada lukanya. Ia terlihat sangat menderita”, kata Accretia tadi dengan terburu - buru.
“Baiklah. Biar kulihat dulu”, kataku.

Kuhampiri Layla yang sedang terluka itu. Dadanya terluka cukup dalam. Aku tidak tahu apa sisa tenagaku akan mampu menyembuhkan lukanya. Tapi kucoba saja. Healing!




Masih belum ada perubahan. Kucoba lagi. Healing!




Sial…
“Hei! Kau sedang apa sih?!”, Accretia itu mengagetkanku.
“Sabarlah. Aku juga sedang berusaha sekuat tenaga”, jawabku.
Healing!




Masih belum juga. Ini mungkin kesempatan terakhir. Kupusatkan semua energiku untuk 1 sihir ini. HEALING!



“Ungh…”, gadis Cora itu akhirnya sadar.
Syukurlah. Perlahan - lahan dia mencoba membuka matanya. Sorot matanya masih terlihat sangat lemas. Namun aliran darah dari lukanya sudah berhenti. Aku bantu dia berdiri dan kupapah dia ke tempat untuk berbaring. Accretia tadi pun membantuku. Oiya, aku belum tanya namanya.

“Saber… Namaku Saber”, Accretia itu tiba - tiba saja menyebutkan namanya. Wew… Dia ini aneh dan mengejutkan. Yah sudahlah, yang penting aku tahu namanya.
“Namaku Hazel”, sahutku singkat.
Setelah menemukan tempat untuk berbaring, Layla kubaringkan di sana. Hmm… Kakek Sleith kemana ya? Kuharap dia punya obat untuk Layla. Ah, itu dia.

“Hoho… Kalian sudah kembali. Ouw… Kenapa dengan gadis ini?”, kakek itu menghampiri kami.
“Aku tidak tahu. Yang jelas dia sudah begini saat aku tiba di sini”, jawabku.
“Kuserahkan ini pada kalian berdua ya”, ucap Saber sembari meninggalkan kami semua. Ada apa gerangan dengannya? Kakek itu kembali berbicara.
“Kau tidak bisa memulihkan lukanya dengan total?”, tanyanya kepadaku.
“Tenagaku terkuras habis. Aku butuh beristirahat sejenak untuk memulihkan energiku”, jawabku.
“Pergilah ke belakang. Di sana ada kolam dengan air terjun Mana. Kau bisa memulihkan energimu bila berendam di sana”, kata Sleith sambil menunjukkan jalan.
“Baiklah. Aku pergi dulu”, aku pun meninggalkan mereka dan pergi ke tempat yang dibilang kakek Sleith.

Setelah berjalan sesuai petunjuk kakek Sleith, aku menemukan sebuah kolam. Hawanya hangat. Tempat yang sangat bagus untuk berendam. Langsung saja kutanggalkan pakaianku dan masuk ke kolam itu. Aah… Rasanya sangat nyaman. Otot - ototku yang tadi tegang terasa lebih santai. Kekuatan sihirku pun terasa kembali sedikit demi sedikit. Aku pun berenang sedikit di kolam itu. Lalu aku bersandar di sebuah batu besar. Tanpa tersadar, aku tertidur pulas di kolam itu.

———————————–
Beberapa jam kemudian
———————————–

Suara langkah seseorang membangunkanku. Apakah orang itu menuju kesini? Mungkin kakek itu ingin berendam di tempat ini juga. Kalau Saber, rasanya tidak mungkin. Aku mengintip dari balik batu tempatku bersandar untuk melihat siapa yang datang. Sosok seseorang tampak dari mulut gua tempat masuk menuju kolam ini.

APAA?!! Layla??! Entah kenapa aku menjadi bingung sendiri melihat dia memasuki ruangan ini. Ia pun seakan mau menanggalkan pakaiannya juga. Bodoh… Apa dia tidak melihat pakaianku? Aku langsung memalingkan wajah dan bersembunyi di balik batu tadi. Celaka… Bagaimana ini??!!

Bisa kudengar suara langkah orang yang masuk ke kolam ini. Dia sudah berendam. Terdengar juga suara air yang bergerak. Aku benar - benar tidak berani melihat ke belakang. Aduh… Kenapa ini? Baru pertama kali aku merasa bingung dan panik seperti ini. Kudengar ada suara orang bersandar. Dia ada di balik batu tempatku bersandar! Aku berusaha untuk diam dan tidak membuat suara agar tidak ditemukan.

“Terima kasih…”, he? Tadi Layla yang berkata?
“Terima kasih karena telah menolongku”, sambungnya lagi. Aku masih terdiam dan bingung mau menjawab apa.
“Y-ya… Sama - sama”, jawabku terbata - bata.
“Bagaimana lukamu?”, tanyaku lagi.
“Sudah jauh lebih baik. Ini berkat kau”, jawabnya.

Setelah itu kami berdua hanya bisa terdiam dalam waktu yang cukup lama. Aku hanya memandang cerminan wajahku di kolam itu.

“Maaf telah merepotkan”, Layla kembali berbicara.
“He? S-sama sekali tidak”, jawabku.
“Tadi aku benar - benar kehabisan tenaga. Bahkan untuk memanggil Inanna saja aku tidak sanggup”, katanya lagi dengan nada lemas.
“Memangnya apa yang kau alami di dalam sana?”, tanyaku.
“… Aku menjadi sadar akan arti kehadiran para animusku. Tidak seperti Warlock dan Dark Priest yang pada dasarnya sudah kuat, kami para Grazier sangat bergantung pada animus kami. Mulai sekarang, aku akan menjadi kuat bersama para animusku. Di sana juga aku mendapat animus khusus yang konon katanya animus milik DECEM sendiri”, jawabnya.

Aku hanya bisa terdiam mendengar ceritanya. Pasti yang dia alami adalah sebuah pertarungan yang hebat. Sampai bisa menyadarkan akan sesuatu dan dia juga mendapat sesuatu yang menakjubkan. Sedangkan aku? Haaah…

“Umm…”, Layla seakan ingin mengucapkan sesuatu.
“Hazel… Izinkan aku membalas kebaikanmu tadi. Aku merasa sangat berhutang budi”, sambungnya. Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Anak ini rupanya lucu juga. Padahal yang kulakukan hanyalah hal yang sederhana.

Bisa kudengar dengan jelas ada suara air yang beriak. Sepertinya ia akan segera beranjak pergi. Tunggu, kenapa suara airnya tidak menjauh. Malah terdengar bergerak ke samping. Jangan - jangan… dia mau ke tempatku??

Degg… Aduh… Bagaimana ini??! Hatiku berdegup semakin kencang. Baru pertama kali aku merasakan hal seperti ini. Aku merasa sangat panik dan bingung pada saat itu. Lalu…

BRUGGG!
Terjadi gempa di gua itu. Semua terasa bergetar. Apakah terjadi sesuatu? Aku harus melihat. Aku pun berdiri dan bersiap untuk keluar. Lalu aku menghampiri Layla.

“Layla! Sepertinya terjadi se… UWAAAAA!!”, aku teriak dengan seketika saat bertatap muka denganya.
“KYAAA!”, Layla juga berteriak dengan keras.
Karena gempa tadi aku jadi lupa akan keadaan kami sekarang! Karena panik aku langsung memalingkan wajah sementara Layla masih berteriak histeris.

“KELUARLAH PAIMON!! AQUA BLADE!”, dengan sigap dia memanggil Paimon dan menembak Aqua Blade kearahku. Ugh… Tanpa armor apa - apa terasa sekali bila terkena serangan. Ia pun segera lari sambil dihalangi oleh Paimon. Aku pun tidak berani melihat lama - lama dan membalik badan. Setelah kudengar ia selesai berpakaian dan meninggalkan kolam, baru aku naik dan bersiap - siap. Sepertinya terjadi sesuatu. Aku segera berlari keluar dan ke tempat kami berkumpul. Tidak ada siapa - siapa. Terdengar suara dari pintu keluar. Aku pun bergegas ke sana. Benar saja, di sana ada Sleith, Saber dan juga Layla.

“Ada apa ini?”, tanyaku pada Sleith.
“Sepertinya guardian di sini lepas kendali. Seakan ada yang membangunkannya dari tidur”, jawab Sleith. Benar saja, guardian itu mengamuk dan terus mengerang tak menentu. Perlahan - lahan tubuhnya diselimuti cahaya. Lama - lama cahaya itu menyelimuti tubuhnya. Cahaya itu menjadi bola yang besar dan terapung. Setelah agak lama…

BLEDHARR, bola itu meledak dan mengeluarkan banyak asap. Dalam sekejap hawa di situ terasa mencekam. Seakan kekuatan yang sangat besar hadir. Saber pun langsung mencabut pedang dari punggungnya. Pedang itu terlihat lain dari pedang yang kulihat. Terasa lebih kuat dari sebelumnya. Layla juga segera bersiap dan mengeluarkan Sickle Staff miliknya. Aku juga segera menyiapkan.

Apa??! Sickle Staffku terlihat memudar. Sementara itu asap sudah mulai reda dan terlihat sepasang sayap yang besar. Tongkatku semakin memudar dan akhirnya berubah menjadi serpihan cahaya. Tak lama kemudian, cahaya itu hilang begitu saja. Terdengar suara raungan yang sangat keras. Layla sampai menutup telingnya karena itu. Saber bersiap menyerang Guardian itu. Ternyata… naga!

“Tunggu! Apa kalian sudah siap melawannya?”, tanya Sleith.
“Siap atau tidak, kami harus melakukannya”, tegas Saber.
“Sepertinya dia juga tidak bisa diajak berdamai, sahut Layla.
Sial… Aku tidak bisa menjawab apa - apa. Hilangnya senjataku membuatku bingung. Semburan api yang sangat besar tiba - tiba mengagetkanku. Kami semua melompat untuk menghindar.

“Keluarlah, Isis!”, seru Layla. Dalam sekejap animus beroda emas itu langsung muncul dan maju menyerang naga itu.

“Magnetic Arm!”, setelah Saber berteriak begitu ia langsung melompat dan maju menyerang.
“HEAA!! MANGLE!”, tebasan bertubi - tubi ia lakukan ke arah kepala naga itu. Isis tadi pun ikut menyerangnya. Namun serangan mereka gagal semua. Saat akan terpojok, naga itu terbang lebih tinggi sehingga tidak bisa dijangkau. Aku langsung melihat sekeliling untuk mencari pijakan untuk melompat ke punggungnya dan menebas sayapnya. Hanya itu cara yang terpikir untuk mengalahkan dia.

Increase Speed! Agility! Aku langsung melesat ke dinding di ruangan itu untuk mencari pijakan. Ada! Tapi letaknya di samping naga itu. Aku segera berlari kesana. Tapi..

DHUAAG!
Naga itu mengibaskan ekornya ke arahku. Untung saja aku masih sempat menghindar. Tapi aku tidak bisa balas menyerang.

“BLAZE PEARL! LIGHTNING CHAIN!”, Layla menyerang naga itu saat perhatiannya teralih kepadaku. Hecate juga terlihat sudah menggantikan Isis miliknya. Paimon pun terlihat muncul di sisinya. Saber kembali melompat. CRASS! Dia berhasil menebas kaki naga itu. Naga itu menjadi mengamuk dan mengibas - ngibaskan ekornya dengan liar sambil menyemburkan api kemana - mana.

Bagaimana ini? Hanya aku yang tidak bisa menyerang naga itu. Padahal seharusnya force ku dapat menjangkaunya dengan mudah. Kalau saja aku bisa mengeluarkan sedikit Flame Arrow… Hanya Flame Arrow… Tiba - tiba secara tak sadar aku mengarahkan kedua tanganku ke arah naga itu dan…

FLAME ARROW! DHUAR!
Keluar api dari tanganku, tanpa memakai tongkat. Namun sepertinya kekuatan seranganku menurun drastis. Tidak apa, biar kucoba lagi. Mungkin harus berkonsentrasi lebih. Aku terus mencoba untuk menembak. Walaupun seranganku sangat lemah, aku terus mencoba mulai dari force dasar. Perlahan - lahan aku mulai bisa mengeluarkan force tanpa tongkat. Inikah kekuatan Helios?

“Bola itu!”, seru Saber. Aku dan Layla terdiam bingung mendengar katanya. Kami berdua hanya saling memandang. Lalu Saber menunjuk ke kepala naga itu. Bila dilihat baik - baik, di dahi naga itu terlihat ada seberkas cahaya dari sebuah batu. Mungkin itu titik kelemahan naga itu.

“Saber! Maksudmu bola di dahinya?”, tanyaku.
“Ya. Ini hanya dugaanku saja. Tapi tidak ada salahnya mencoba kan?”, jawabnya.
“Serangan force bisa menjangkaunya, tapi tidak cukup kuat. Harus dengan serangan frontal”, sambung Layla.
“Baiklah, kita buat naga itu terjatuh”, ucapku.
“Bagaimana? Dia terlalu kuat untuk dijatuhkan begitu saja”, tanya Layla.
“Umumnya, naga sangat lemah di bagian punggung. Mungkin saja bila kita bisa naik ke atas sana dan menyerang sayap dan punggungnya, dia bisa hilang keseimbangan dan jatuh”, jawabku.
“Baiklah. Kalau begitu aku dan Paimon akan mengalihkan perhatiannya. Kalian berdua carilah celah”, ucap Layla.

Tanpa banyak omong, Layla langsung maju dan menyerang naga itu. Paimon dengan sigap menahan semua serangan naga itu, sementara itu Layla terus menyerangnya dari belakang. Saber pun berlari ke samping dan aku ke sisi lainnya. Tapi tidak semudah itu. Naga itu bisa melihat kami dan kerap mengibaskan ekornya. Sesekali aku mencoba membalas dengan force ku yang sangat terbatas. Saber juga sempat beberapa kali berusaha menebas ekornya.

Kalau begini terus kami tidak akan bisa naik. Paimon pun sudah menerima serangan terlalu banyak. Oh iya! Aku yang harus menjadi umpan. Semoga saja aku bisa memakai cara itu.

“Layla! Biar aku saja yang mengalihkan dia. Kau carilah celah untuk naik!”, seruku.
“Tapi…”, Layla mencoba menyela.
“Sudah! Tidak ada waktu lagi! OPTIC PALSY!”, naga itu langsung berbalik badan dan menghadapiku. Saat ini yang bisa dia lihat hanyalah aku. Seharusnya mereka bisa mencari celah.

UWAA! Naga ini ganas sekali. Aku tidak bisa menyerang dan hanya bisa menghindar. Sempat kucoba untuk menghadangnya dengan Blind Sight, Power Drain dan Sloth. Namun semua itu tidak mempan. Kulihat Saber berhasil memanjat dinding yang ada. Hanya saja jaraknya masih terlalu jauh. Aku pun berlari - larian agar naga itu bergerak. Saat mulai dekat, Saber langsung melompat ke punggungnya.

“Saber! Sekarang!”, seruku.
“PRESSURE BOMB! DEATH BLOW!”, naga itu terkena telak serangan Saber. Ia pun langsung meneruskan dengan beberapa tebasan di pangkal sayap naga itu. Naga itu pun langsung terbang agak rendah. Layla yang sudah menunggu di bawah dengan Isisnya langsung menghajar bola yang menyala di dahinya.

“Isis! Serang! BLAZE PEARL!”, kepala naga itu dihujani serangan kuat dengan beruntun. Naga itu terkapar tidak berdaya dalam sekejap. Saber pun melompat turun dan memandang naga itu mengerang kesakitan. Pedang yang ia genggam terlihat sangat kuat. Sementara gabungan kekuatan Layla dan Animusnya semakin kuat. Tapi aku? Haah… Aku benar - benar merasa tidak berguna.

Bebatuan yang ada di ujung lorong itu perlahan runtuh. Mulai terlihat pancaran cahaya yang masuk melalui celah - celah kecil di antara bebatuan itu. Lama kelamaan dinding itu roboh dan menciptakan sebuah pintu keluar. Berhasil! Kami akan segera bisa keluar dari tempat ini.

“Kalian sudah berhasil. Kerja yang bagus”, kata Sleith.
“Sudah saatnya aku pergi dari sini”, ucap Saber.
“Mengapa buru - buru?”, tanya Sleith.
“Banyak yang harus aku laporkan pada petinggi bangsaku”, jawab Saber.
“Ya. Sama halnya denganku”, jawabku.
“Terima kasih, kek. Kami pergi dulu”, sambung Layla.
“Mengapa kalian terburu - buru sekali? Setelah keluar dari sini mungkin kalian tidak akan bisa berkomunikasi lagi”, kata Sleith.
“Itu tidak masalah. Kami akan kembali ke jalan kami masing - masing setelah ini. Mungkin lain kali aku akan kembali untuk mengambil etherite itu dengan teman - temanku”, kata Saber.

Ah, iya. Aku hampir lupa dengan etherite itu. Namun sepertinya ada yang lebih penting dari sekedar batu itu. Kekuatan baru ini, siapa sebenarnya? Saber pun segera melangkah menuju jalan keluar itu. Tiba - tiba saja 2 orang berjubah hitam melompat turun dari atas. Jubah itu… Rasanya aku pernah melihatnya. Saber langsung menghentikan langkahnya. Sleith juga terlihat mengambil langkah mundur. Layla mengganti Isis dengan Paimon. Sementara salah satu orang berjubah hitam itu mengeluarkan sebuah pedang yang cukup besar.

Aku ingat! Mereka lah yang menjatuhkanku dari tebing itu! Orang yang sudah membawa pedang itu menghampiri naga yang sudah terkapar tidak berdaya itu. Pedang yang dia bawa diangkat tinggi - tinggi. CRAAASH! Sekali tebas naga itu langsung terbelah menjadi 2. Dan perlahan - lahan hancur menjadi serpihan debu. Selesai 1 masalah, malah muncul 2 masalah. Kali ini mungkin jauh lebih berat…
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:07 am

The Story of Bellato #11

11. BLACK PRESSURE

“Mau kemana kalian?”, tanya seorang berjubah hitam itu. Ha? Kenapa kami bisa mengerti bahasa mereka? Mungkinkah ini masih efek dari etherite itu?

“Kemana kami ingin pergi bukanlah urusan kalian”, jawab Saber dengan berani.
“Hoho… Kau tidak sayang pada nyawamu ya? Eh iya, robot mana punya nyawa? Hahaha!”, setelah diejek begitu Saber langsung maju dan menyerang.

“PRESSURE BOMB!” ,mereka berdua melompat dan menghindar. Salah seorang tadi mengeluarkan busur dan panah dan menyerang Saber.

“Starfall!”, dengan santai dia menembaki Saber. Namun dengan sigap, Saber menghindar dengan sebuah roll back. Melihat mereka masih di udara, langsung saja aku menyerang.

FROST ARROW! FLAME ARROW! Cih! Force ku masih sangat lemah. Untung saja Layla membantu menyerang. Mereka terkena cukup telak. Tapi sepertinya mereka tidak terluka sedikitpun. Hanya jubah mereka saja yang jadi sedikit lusuh. Mereka masih bisa mendarat dengan aman.

Aku tetap tidak menyerah dan mencoba berkonsentrasi lebih. Kubuka lebar telapak tanganku dan kuarahkan ke 2 orang itu. Sekali lagi kucoba…

AQUA BLADE! TECTONIC MIGHT! BLAZE PEARL!”, kali ini sudah mulai terlihat sedikit lebih kuat. Saber pun kembali maju dan beradu pedang dengan salah satu dari mereka. Aku segera menyerang yang membawa busur. Sial! Gerakannya sangat cepat. Aku berusaha mati - matian untuk menghindar dan tidak bisa menyerang sama sekali.

“Hazel! Tolong ulur waktu sebentar. Aku akan menyerangnya”, seru Layla.
“Baiklah”, jawabku menyanggupinya. Berkata memang mudah, namun untuk menghadapi yang satu ini butuh usaha lebih. Aku tetap mencoba menyerang dengan rentetan force saat ada celah. Hampir tidak ada yang mengenainya. Gerakannya sangat cepat.

“Kenapa kau bocah? Tidak bisa menyerangku?”, sial. Dia menghinaku. Aku tetap diam dan berusaha mengulur waktu. Mungkin saja Layla bisa melakukan sesuatu. Seranga force ku pun makin lama makin menguat. Aku sudah bisa mengeluarkan force tanpa tongkat. Mungkinkah ini kekuatan Helios?

“Kau ini merepotkan juga. SILENCE!”, ugh! Apa ini? Rasanya seperti menerima Force Revoker. Bahkan untuk mengeluarkan Optic Palsy dan Acuteness pun aku tidak bisa. Sebaliknya, ia menjadi semakin ganas. Sekarang dia memakai anak panah beam dan terus menembakiku. Karena daerah yang sempit, tempat bertarung antara aku dan si pemanah serta Saber dengan si jubah hitam berpedang itu sangat berdekatan.

“Rana. Berikan data tentang dia”, ucap yang membawa pedang itu. Si pemanah itu, yang sepertinya bernama Rana, mengeluarkan sebuah alat kecil seukuran saku.
“Sebentar Ash. Accretia, Punisher. Petarung jarak dekat. Mempunyai kemampuan melumpuhkan lawan secara total”, balas si pemanah tadi. Astaga, mereka mengetahui semua tentang kami?
“Punisher ya? Menarik. MANGLE!”, dengan segera orang yang bernama Ash itu mengeluarkan jurus milik Punisher. Saber terlihat sedikit terkejut dan menjadi lengah. Untung saja dia masih bisa menghindar. Sementara itu, Rana masih menjaga jarak dan bersiap untuk bertempur kembali.

Kurasakan pengaruh sihir tadi sudah hilang. Segera kutembakkan beberapa force serangan secara beruntun sebelum dia dalam keadaan siap sepenuhnya. Tapi tetap saja masih bisa dihindari.
“Optic Palsy mu bisa sangat merepotkan ya”, ucapnya. Sial! Dia tahu tentang ku juga? Pertarungan ini makin tidak seimbang. Pihak lawan mengetahui semua tentang kami. Namun kami sama sekali tidak mengetahui kemampuan mereka. Di tengah kebingungan itu, hawa kuat yang lain muncul. Ternyata itu Layla! Namun, Animus apa yang dia keluarkan? Bukan Isis, Paimon, Hecate maupun Inanna.

“Hazel. Serahkan ini padaku. Animus ini tidak akan kalah soal kecepatan. Bersiaplah!”, Animus asing itu langsung mendekati Rana dengan kecepatan yang sangat tidak biasa. Beberapa tebasan pun segera dikeluarkan. Meskipun ia sempat menghindari beberapa serangannya, namun banyak juga serangan yang terkena telak. Bisa kulihat ada darah bercucuran di jubah miliknya.

“Dasar bocah tengik! Strength! Mind Retord!”, lagi - lagi Rana mengejutkanku dengan menggunakan kemampuan Hidden Soldier Bellato. Setelah itu ia langsung berlari menjauhi animus Layla. Ia kembali melompat tinggi. Aku pun sudah bersiap menyambutnya.

“Layla! Kita serang bersama! LIGHTNING CHAIN! FLAME ARROW!”, Layla juga ikut membantu menyerang. Gelombang force datang menerjang Rana yang sedang labil saat di udara. Apa?! Dalam keadaan begitu ia masih bisa mengelak. Bukan hanya itu saja, ia langsung kembali dalam posisi siap. Layla juga tidak kalah terkejutnya. Animus miliknya segera melompat dan menerjang Rana.

“Terima ini. PRIMAL STRIKE!”, UAGHH! Anak panah yang ia luncurkan tepat mengenai lututku. Sementara itu animus Layla berhasil mengenainya beberapa kali. Setelah mereka berdua mendarat, animus itu terus menyerang Rana tanpa memberi celah sedikitpun. Aku yang sudah tidak bisa banyak bergerak ini hanya bisa membantu dengan beberapa tembakan force saja. Layla bergegas menghampiriku.

“Hazel! Kau baik - baik saja?”, tanyanya.
“Ya. Aku tidak apa - apa”, jawabku.
“Yang tadi itu jurus serangan Archer Cora. Darimana dia tahu?”, perkataannya membuatku terkejut. Tadi Ash mengetahui kemampuan Punisher, sedangkan Rana bisa mengetahui kemampuan Holy Chandra, Hidden Soldier dan Archer. Darimana mereka tahu akan itu semua? Untung saja animus Layla berhasil mendesak Rana. Ia terlihat kewalahan menghadapi kecepatan dan kekuatan animus itu. Animus yang menakjubkan.

“Layla. Animus apa itu? Aku belum pernah melihatnya?”, tanyaku.
“Namanya Belze. Dia animus yang kudapat dari seorang Grazier yang kutemui tadi”, jelasnya. Ia pun menarik Belze kembali dan memanggil Inanna.
“Kau istirahatlah dulu. Biar aku yang menangani. Inanna… Tolong sembuhkan lukanya”, animusnya langsung menurutinya dan menyembuhkan lukaku. Sementara dia sendiri bersiap maju menyerang Rana yang sudah cukup terluka parah.

“Rush! Broad Outlook! Might! Heaa… BLAZE PEARL!”, Layla segera menghujani Rana dengan api. Langsung dilanjutkan dengan beberapa serangan force. Rana benar - benar terdesak. Berkat Inanna, lukaku sudah lumayan pulih. Aku segera bergabung untuk membantunya. Namun…

CRAAASH!
Ugh… Siapa? A-Ash? Dia tiba - tiba saja berada di belakangku dan menebas punggungku. Untung saja tidak terlalu dalam. Layla yang mendengar itu menjadi terpecah perhatiannya. Ia segera mundur membantuku. Namun Rana mengambil kesempatan itu untuk menyerangnya. Kulihat Saber sudah roboh tak berdaya. Dari tubuhnya terlihat percikan listrik kecil. Inanna segera menghampiri Layla. Tapi dengan mudah ia dihajar oleh Ash dan Rana. Untung saja Layla masih sempat memanggilnya kembali. Ia pun segera menjauhi Rana dan Ash.

Sekarang ini kami benar - benar terdesak. Inikah kekuatan bangsa Esper? Hanya 2 orang saja tapi mampu menumbangkan 3 orang dengan mudah. Entah makhluk seperti apa yang ada di balik jubah hitam itu. Kulihat Saber masih mencoba untuk bangkit kembali. Aku pun berusaha menahan sakit dan mencoba untuk bangkit. Ash berjalan pelan menghampiri Saber. Ia mencekik leher Saber dan mengangkatnya. Astaga! Ia mampu mengangkat Saber ke atas walaupun Saber lebih tinggi. Lalu ia membalik pedangnya dan hendak menusuk Saber. Sial! Kalau begini…

DHUARR!
Sebuah ledakan besar mengagetkan kami semua. Aku segera mencari sumber tembakan itu. Kulihat dari dalam ada seseorang yang berdiri dengan launcher. Apa ada orang lain yang mengetahui keberadaan kami? Ternyata Accretia! Accretia dengan armor berwarna putih membawa Bazooka itu terus menembaki Ash dan Rana. Ash pun menjadi geram dan berlari ke arah Accretia itu. Maka Bazooka itu pun disimpan dan dia mencabut Spadona dari punggungnya. Maka terjadilah suatu pertarungan hebat.

Serangan Ash tidak ada yang masuk sama sekali. Sebaliknya, Accretia tadi bisa terus menyerang Ash dengan leluasa. Rana yang melihat itu segera menghampiri untuk membantu. Namun ia pun dikejutkan oleh 3 bilah Aqua Blade yang datang secara bersamaan. Belum lagi ada Hecate dengan tanduk yang menyala menghajarnya habis - habisan. Mereka dipukul mundur oleh serangan gabungan itu. Bersamaan dengan itu pula, terlihat lagi ada 2 sosok muncul dari dalam.

“Ra..raxion?”, ucap Saber dengan susah payah dan keheranan. Raxion? Siapa dia? Tunggu. Bukankah itu…Rhodean? Kenapa dia bisa ada di sini? Mereka pun menghampiri kami semua.
“Kalian tidak apa - apa?”, tanya Raxion.
“Sistem kendali motorik ku sedikit rusak. Jadi gerakanku sedikit terhambat. Lagipula Hazel juga mengalami cedera lutut. Pergerakan kami menjadi sangat terbatas”, jelas Saber.

BRUG!
Suara itu mengagetkan kami. Layla! Tiba - tiba saja dia roboh. Seorang lagi yang nampaknya Grazier segera mendekati Layla.
“Kalian sebaiknya mundur”, ucap Raxion.
“Ya. Kalian yang sekarang tidak mungkin menang. Lebih baik kalau kalian mundur dan kembali ke markas kalian masing - masing. Beritakan apa yang kalian lihat di sini. Novus sedang dalam bahaya!”, tegas Rhodean.
“Tapi…”, Saber berusaha menyanggah.
“Dengarkan! Sekarang cuma kalian yang tahu bagaimana keadaan yang sebenarnya. Kalian pun sudah tahu sekuat apa musuh yang kalian hadapi”, timpal Rhodean.
“Sleith juga sudah bercerita pada kami. Bangsa yang kalian hadapi berniat memanfaatkan 3 bangsa di Novus untuk menghadapi bangsa Herodian. Oleh karena itu persiapkanlah bangsa kalian. Jangan mau diperbudak oleh salah satu dari mereka”, Raxion menambahkan.

“Baiklah.. Lalu, bagaimana dengan kalian?”, tanyaku.
“Kami sudah lama menetap di sini. Maka kami akan terus tinggal di sini. Namun bila saatnya tiba, kami pun akan ikut membantu kalian”, jawab Raxion.
“Hazel, temukanlah kekuatan Helios yang sesungguhnya. Inti dari kekuatan Helios adalah cahaya dan force. Jangan lupakan itu!”, ucap Rhodean. Aku hanya menggangguk pelan dan segera bangkit berdiri. Saber pun dibantu berdiri oleh Raxion. Sementara itu, Layla sudah sedikit dipulihkan tenaganya. Sleith pun akhirnya muncul.

“Kudoakan keselamatan kalian”, ucapnya.
“Terima kasih. Tapi, bagaimana dengan dirimu nanti?”, tanyaku.
“Aku pasti akan baik - baik saja. Oiya, setelah pergi dari sini, kalian tidak akan mengerti bahasa yang lain. Efek etherite hanya menjangkau wilayah ini”, jelas Sleith.
“Kami berangkat!”, ucap Saber.

Aku, Saber dan Layla menyelinap keluar dari gua. Sementara Raxion, Rhodean dan Grazier itu menahan Ash dan Rana di dalam. Bisa kulihat kalau Ash dan Rana sangat terdesak oleh kekuatan mereka bertiga. Raxion terus menyerang dengan pedangnya. Rhodean dan Grazier itu membombardir mereka dengan serangan force yang sangat kuat. Kami pun segera berlari meninggalkan gua itu.

Setelah kami berada di White Hole, kami bertiga berpencar. Aku pergi ke arah barat, Saber ke arah utara dan Layla ke arah timur. Saat ini kami tidak lagi bisa berbicara satu sama lain. Kami hanya bisa memakai bahasa isyarat. Saber pergi lebih dulu meninggalkan aku dan Layla. Layla sempat menghampiriku dan membungkuk. Dia terlihat mengkhawatirkan lututku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengacungkan ibu jariku, menandakan aku baik - baik saja. Aku pun langsung bergegas menuju terminal Bellato.

Namun di tengah perjalanan, bisa kurasakan ada seseorang yang mengejarku. Aku pun berhenti sejenak dan menunggu. Mungkin saja itu Layla. Setelah beberapa saat, yang muncul bukanlah Layla, melainkan sesosok jubah hitam dengan busur. Sial, itu Rana! Aku segera mempercepat langkahku sambil menahan sakit di lututku. Ia terus menghampiriku dan menembakiku dari jauh. Aku terus berlari dan berlari.

UWAGH!
Sial! Panahnya tepat mengenaiku pundakku. Aku berusaha untuk tidak menghiraukannya dan terus berlari. Saat aku menoleh kebelakang, ia sudah berada sangat dekat. Kutembakkan beberapa force untuk menghambatnya. Namun karena sudah lemah, kekuatanku tidak berguna apa - apa. Saat semakin dekat, ia pun melompat dan mengarahkan busurnya padaku. Celaka!

DOR! DOR! DOR!
Rana ditembakki di udara dan terjatuh dengan seketika. Saat kulihat ke arah depan, ada sebuah MAU Catapult berwarna hitam di sana. Dari belakang MAU itu ada seseorang yang melompat dan menembaki Rana dari udara. Bahkan setelah mendaratpun, Rana tetap ditembakki. Akhirnya ia pun melemparkan bom cahaya yang sangat menyilaukan kami semua. Setelah kami bisa melihat, ia sudah hilang dari pandangkan kami.

“Hei. Kau tidak apa - apa?”, tanya Ranger itu.
“Ya. Aku tidak apa - apa. Hanya sedikit cedera”, jawabku.
“Baiklah. Kau naik saja ke atas MAU itu. Kita segera kembali ke markas”, jawab Ranger itu.
Sesampainya di terminal, pesawar Kartela belum tiba. Aku pun duduk dulu di dekat pilar. Ranger itu pun datang dan membawakan Bless HP Potion yang cukup besar.
“Ini. Minumlah untuk mengurangi rasa sakitmu”, ucapnya sambil memberikan potion itu padaku.
“Terima kasih”, jawabku singkat.

“Ngomong - ngomong, siapa namamu? Aku Kare, Hidden Soldier”, ucapnya.
“Namaku Hazel, Holy Chandra”, jawabku. Dia terlihat terkejut mendengar namaku.
“Benar kau Hazel? Syukurlah masih ada yang selamat”, ucapannya membuatku bingung.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti”, tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Kukira tidak ada lagi yang selamat dari misi investigasi di Ether”, ucapnya dengan nada lemas.
“Memangnya apa yang terjadi?! Tolong ceritakan padaku”, ucapku serius.
“Tanyalah pada Strive. Ia lebih tahu”, ucapnya sambil memanggil Armor Rider tadi.

“Ada apa Kare?”, tanya Armor Rider itu yang bernama Strive.
“Bisakah kau ceritakan padanya tentang kejadian bulan lalu?”, ucap Kare.
“Begini. Setelah beberapa minggu misi itu berjalan, tidak ada seorangpun dari kalian yang kembali. Lalu aku dan beberapa tim Armor Rider lain datang untuk melihat keadaan kalian. Namun yang kami dapati hanya..”, ucapannya terhenti.
“Hanya apa?”, tanyaku dengan keras.
“Tidak ada yang selamat. Semuanya tergeletak tak bernyawa. Baik Accretia, Bellato maupun Cora”, mendengar ucapannya tadi membuat jantungku serasa berhenti berdenyut. Aku benar - benar kaget mendengar semua ini. Siapa? Siapa yang melakukan semua ini?!!
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:09 am

The Story of Bellato #12

12. SHINE

“Tunggu! Kalau tidak salah masih ada 1 orang yang masih hidup kan?”, sela Kare.
“Oh! Aku lupa. Ada yang masih selamat. Dia bernama Kyra. Namun sekarang keadaannya sudah lumpuh dan tidak bisa berperang lagi. Ia selamat karena ia berada dalam MAU”, jelas Strive. Yah, masih untunglah ada yang selamat. Aku ingin mengetahui apa yang terjadi. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya pesawat Kartela tiba juga. Kami pun segera masuk dan pulang ke markas.

Sesampainya di markas, semua orang nampak terkejut melihat keberadaanku. Karena lukaku belum sembuh total, aku masih harus dibantu Kare untuk berjalan. Beberapa Holy Chandra langsung datang membawakan tandu untukku. Aku pun dibawa ke ruang perawatan untuk diperiksa. Kuru pun datang mengunjungiku.

“Syukurlah kau masih hidup. Aku percaya kau pasti kembali”, ucap Kuru.
“Memangnya apa yang terjadi? Saat di sana aku terpisah dari yang lain. Lalu selebihnya aku tidak tahu”, balasku dengan bingung.
“Sebentar. Kyra sedang dipanggil ke sini”, Kuru pun pergi keluar ruangan untuk mencarinya. Tak lama kemudian ia kembali bersama seseorang yang duduk di kursi roda.

“Hazel? Kaukah itu?”, tanya Kyra tidak percaya.
“Ya. Ini aku. Apa yang terjadi dengan yang lain?”, tanyaku. Kyra menunduk sebentar dan terdiam. Setelah beberapa saat ia pun angkat bicara.

“Begini. Setelah kau berhasil menyusup ke dalam, ada seorang Accretia dan seorang Cora yang juga mengikutimu. Namun kami semua yang di luar tidak dapat pergi begitu saja. Kami semua masih sibuk berperang. Sampai..”, kata - katanya sempat terpotong.
“Sampai apa?!”, tanyaku dengan tidak sabar.
“Muncul 3 orang berjubah hitam. Yang 1 membawa pedang, yang 1 membawa busur dan 1 lagi membawa bayonet”, lanjut Kyra. Yang membawa pedang itu Ash, lalu yang membawa busur itu pasti Rana. Tapi siapa yang membawa bayonet itu?

“Lalu apa yang terjadi?”, tanyaku lagi.
“Mereka semua membantai kami habis - habisan. Bukan hanya itu, mereka juga bisa meniru semua jurus setiap bangsa. Dan mereka bisa menghancurkan MAU dengan mudah. Kami tidak tahu mereka siapa. Yang pasti mereka sangat kuat”, jelasnya. Jadi dari situ mereka meniru semua jurus kami.
“Lalu bagaimana nasib Gailardia, Feena dan yang lainnya?”, tanyaku penasaran.
“Aku tidak tahu. Feena menyuruhku untuk pergi ke terminal dan meminta bala bantuan sementara ia dan yang lainnya menahan mereka”, jelasnya.
“Mereka masih hidup kan?”, tanyaku lagi.
“Semoga saja begitu. Karena ada seseorang yang mengejarku dan menghancurkan MAU ku. Aku curiga ia sudah membantai semua yang ada di dalam. Tapi semoga saja tidak”, Kyra pun berharap cemas.

“Kau sudah cerita pada siapa saja tentang ini?”, tanyaku.
“Sudah kuceritakan kepada archon. Namun semuanya menganggap mereka hanya turncoat. Namun turncoat yang sangat kuat!”, tegasnya.
“Aku sendiri curiga soal ini. Tidak mungkin ada turncoat yang sekuat ini”, sela Kuru.
“Mereka bukan turncoat! Mereka adalah bangsa Esper, bangsa yang berniat memanfaatkan kita semua untuk berperang dengan bangsa Herodian”, jawabku tegas.
“Kau tidak sedang bercanda kan? Kau mengetahui semua ini darimana?”, tanya Kuru heran.
“Aku juga penasaran apa yang kau alami di sana”, Kyra menambahkan.
“Begini ceritanya…”, akhirnya aku menceritakan tentang semua yang aku, Saber dan Layla alami. Tentang Helios, kekuatan terpendam etherite dan kemunculan bangsa Esper.

“Lalu bagaimana dengan etherite itu sekarang?”, tanya Kyra.
“Sekarang yang perlu dikhawatirkan bukan itu. Etherite saat ini ada di tempat yang aman. Yang mengkhawatirkan adalah bangsa Esper itu. Mereka benar - benar ingin meneliti tentang kita semua”, jelasku pada mereka.
“Hazel. Apa kau tahu dimana mereka bersembunyi sekarang?”, tanya Kuru.
“Sayang sekali tidak. Namun dugaanku saat ini mereka tidak jauh dari wilayah Ether. Dan nampaknya mereka masih mengincar etherite itu”, jelasku.
“Kalau begitu kita harus meyakinkan para petinggi Bellato untuk segera bersiap menghadapi serangan bangsa ini”, ucap Kuru.
“Tapi tidak semudah itu. Mereka terkesan tidak percaya pada ceritaku. Terutama archon baru kita”, sanggah Kyra.
“Archon baru? Maksudmu, tuan Exodus sudah turun pangkat?”, tanyaku penasaran.
“Bukan hanya turun pangkat. Beliau dan dua wakil archonnya, Rudra dan Luna menghilang tanpa jejak begitu saja”, jelas Kyra.
“Lalu siapa yang menjadi archon sekarang?”, tanyaku lagi.

Kyra bercerita bahwa saat masa kekosongan kekuasaan itu, muncul 3 orang Bellato yang profesinya Armsman, Wizard dan Shield Miller. Mereka bertiga selalu berada di garis paling depan saat Chip War. Dan dalam 2 minggu ini, kami menuai kemenangan tanpa henti. Oleh karena itu, semua orang memilih mereka untuk menjadi archon dan wakilnya. Archon sekarang adalah seorang Wizard yang bernama Lezard dan wakilnya adalah Armsman yang bernama Zieg dan Shield Miller yang bernama Sophia. Bahkan dengan serangan 2 bangsa pun, mereka berhasil membaliknya dengan mudah dan menang perang.

“Astaga.. Mereka hebat sekali. Tapi aku masih penasaran. Apa yang terjadi dengan Exodus dan yang lainnya ya?”, tanyaku.
“Itu dia yang masih menjadi misteri. Entah kenapa sosok sehebat mereka bisa menghilang di tengah sengitnya pertempuran antara 3 bangsa ini”, jawab Kyra.
“Aku sudah merasa baikan. Bisakah kita keluar dari sini? Aku ingin menemui kedua orang tuaku”, tanyaku pada mereka.
“Baiklah. Lukamu pun sudah diperban. Mari kita keluar”, ajak Kuru.

Akhirnya kami pun keluar dari ruang perawatan. Di tengah jalan kami bertemu 3 orang sedang berjalan. Dari aura mereka, terlihat bahwa mereka adalah archon kami. Kami pun langsung memberi hormat pada mereka.
“Ah, tidak perlu formalitas. Kita semua kan bersaudara”, ucap Lezard, archon baru Bellato.
“Oiya, bagaimana dengan lukamu?”, tanya wakil archon Sophia. Sama sekali tidak terlihat kalau wanita cantik ini adalah seorang Shield Miller. Menakjubkan..
“O-oh.. Tidak apa - apa. Aku sudah merasa jauh lebih baik”, balasku.
“Syukurlah..”, timpalnya dengan gembira.
“Hari ini kau istirahat saja dulu. Biar kami semua yang turun berperang”, sambung wakil archon Zieg.
“Umm.. Kalau diizinkan, aku ingin terjun ke medan perang hari ini juga. Aku sudah mendengar cerita tentang kalian. Aku ingin sekali bisa ikut bertempur bersama kalian”, jawabku.
“Tapi kau masih terluka. Lagipula esok hari masih ada perang bukan?”, bujuk Zieg agar aku tidak turun berperang.
“Tapi..”, aku masih ingin memaksa untuk berperang. Namun Kuru pun mendekatiku dan menepuk pundakku.
“Sudahlah. Sebaiknya kau dengarkan kata - kata archon. Aku akan berjuang untuk bagianmu juga”, hiburnya.
“Terima kasih. Baiklah, aku mohon diri dulu. Semoga perang hari ini sukses”, ucapku pada mereka.
“Ya. Tentu saja”, setelah berkata begitu para perwira Bellato segera beranjak menuju portal di markas.

Deg!
Ukh.. Perasaan aneh apa ini? Saat archon dan wakilnya melewatiku, aku merasa sesuatu yang aneh. Aura mereka terasa sangat berbeda dengan aura tuan Exodus dulu. Entah kenapa aku merasa sangat terancam saat berada sedekat itu dengan mereka. Hawa mereka..seperti hawa pembunuh! Dan lagi, aku tidak merasakan keberadaan Bellato tadi. Entah apa yang aku rasakan ini. Tapi yang jelas ini sesuatu yang tidak biasa. Ah, sudahlah. Mungkin sebaiknya kulupakan saja. Sekarang lebih baik aku menengok ayah dan ibu. Aku pun segera berangkat melalui portal menuju Benteng Solus. Menuju gubuk kecil di pedalaman Hutan Crawler. Setibanya di sana, tidak ada yang berubah sama sekali. Aku pun mengetok pintu dan masuk.

“Aku pulang..”, salamku saat masuk ke dalam. Aku mendapati ayah dan ibuku sedang terduduk di ruang keluarga.
“Hazel?? Kau sudah pulang nak?”, ibuku langsung beranjak dari tempatnya dan memelukku.
“Iya. Aku sudah pulang, bu. Bagaimana kabar ayah dan ibu?”, tanyaku sembari membalas pelukan ibu.
“Kami baik - baik saja. Namun ibumu sedikit cemas setelah mendengar kabar dari ether”, jelas ayah.
“Memangnya kalian juga tahu tentang kejadian itu?”, tanyaku penasaran.
“Tentu saja, nak. Seluruh warga Bellato mendengar kabar menggemparkan itu. Kami pun turut cemas”, ucap ibu.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sana?”, tanya ayah.
“Baiklah. Akan kuceritakan kejadian yang sebenarnya”, aku pun bercerita panjang lebar tentang semua yang kualami di sana.

“Jadi kau tidak tahu apa yang terjadi pada teman - temanmu?”, tanya ayah.
“Tidak. Aku benar - benar kaget mendengar itu juga”, jawabku.
“Yang terpenting kau baik - baik saja. Ibu rasa teman - temanmu saat ini masih hidup. Namun kita tidak tahu mereka dimana”, ucap Ibu.
“Ya. Aku juga berharap begitu. Oiya, ada yang ingin aku tanyakan. Pernahkah kalian mendengar tentang senjata Myth?”, mereka langsung kaget mendengarnya.
“Da-darimana kau mendengar itu, nak? Itu adalah senjata yang kelasnya berada di atas Relic. Aku pernah membacanya di sebuah buku milik kakekmu”, jawab ibu.
“Kakek? Kenapa kakek mempunyai buku tentang itu?”, tanyaku.
“Kakekmu.. Dia sudah berkelana ke seluruh penjuru Novus ini. Konon dia juga pernah keluar angkasa. Mungkin dari berbagai perjalanan yang dia alami, dia menemukan buku - buku seperti itu”, jelas ayah.
“Bisakah aku membacanya?”, tanyaku lagi.
“Sebentar. Akan ibu carikan dulu”, ibu pun langsung ke rak buku untuk mencari buku itu.

“Ayah. Sebenarnya, kakek sekuat apa dulu?”, tanyaku lagi.
“Kakek? Dia adalah seorang Wizard yang sangat kuat. Tidak ada satupun dari Accretia atau Cora yang mampu mengalahkannya. Bahkan dalam situasi satu melawan banyak pun ia masih bisa menang”, aku tertegun mendengarnya. Sehebat itukah kakekku?
“Satu - satunya yang bisa mengalahkannya hanyalah sang waktu. Ia meninggal karena usianya yang sudah sangat tua. Walaupun begitu, umurnya lebih lama dibanding bangsa Bellato lainnya”, ayah menambahkan.
“Apakah itu karena ia seorang spiritualist lalu umurnya lebih lama?”, tanyaku.
“Bukan cuma kakek saja. Seluruh leluhur kita pun begitu. Mungkin darah spiritualist di dalam keluarga kita sangat kental”, jelas ayah. Ibu pun terlihat sudah menemukan buku yang dimaksud. Ia pun memberikan padaku sebuah buku yang terlihat sudah sangat lusuh.
“Ini buku yang kau cari, nak. Bacalah dengan seksama”, ucap ibu sambil menyerahkan buku itu.
“Baik. Terima kasih, bu. Umm, aku permisi dulu ya. Aku ingin istirahat sebentar”, ucapku.
“Ya. Pasti kau sudah sangat lelah. Istirahatlah dulu. Nanti kita bicara lagi”, setelah mendengar kata - kata ayah itu, aku langsung pergi ke kamarku.

Sampai di kamar, aku langsung duduk dan bersandar. Aku menghela nafas sambil mengingat akan apa yang telah aku alami sampai sekarang ini. Bangsa Esper, Helios dan kejadian di ether itu sangat mengganggu pikiranku. Aku pun mulai membolak - balik halaman demi halaman di buku yang diberikan oleh ibu. Di situ tertulis cerita tentang beberapa senjata Relic dan Myth. Wow! Spadona Relic ini terlihat begitu hebat dan bercahaya. Pasti ini senjata yang sangat kuat. Ada juga sebuah pedang Myth di sana. Jangan - jangan itu pedang yang dimiliki oleh Saber saat ini. Hades.. Dari namanya saja terdengar begitu menyeramkan. Semoga saja pedang itu jatuh ke tangan yang tepat. Ah, ini dia. Helios..

??!!!
Aku terkejut membaca penjelasan tentang Helios. Berbeda dengan senjata lainnya, penjelasan tentang senjata ini sangat sedikit. Yang bisa kutangkap dari situ hanyalah “Cahaya adalah segalanya dan segalanya adalah cahaya”. Yang kutahu memang wujud Helios adalah cahaya. Tapi kalau tidak salah bentuknya adalah tongkat saat pertama kali aku melihatnya. Hmm.. Bagaimana mengembalikan bentuknya menjadi tongkat ya? Hum.. Tanpa sadar aku pun tertidur karena memikirkan tentang itu.

Saat aku bangun, hari sudah mulai gelap. Aku pun keluar sebentar untuk berjalan - jalan di Hutan Crawler. Semuanya terlihat sepi. Mungkin sekarang adalah waktunya Chip War. Kulihat ada seorang prajurit yang kelihatannya seumuran denganku sedang berlatih melawan Crawler Rex. Wow.. Sepertinya dia adalah Shield Miller. Dikepung 5 Crawler Rex pun sepertinya bukan masalah. Kupikir tidak ada salahnya kalau aku menghampirinya. Diapun sudah selesai menghabisi kelima Crawler Rex itu.

Healing! Restoration! Kulihat dia cukup lelah, maka kupulihkan sedikit tenaganya.
“Ah, terima kasih”, ucap Shield Miller itu.
“Ya, sama - sama. Kau berlatih sendirian saja?”, tanyaku.
“Ya, begitulah. Aku harus mencapai pangkat Maximus dulu baru diperbolehkan ikut Chip War”, aku kaget mendengarnya.
“Memangnya sekarang ada peraturan seperti itu?”, tanyaku.
“Begitulah perintah archon sekarang. Katanya sebelum Maximus para Shield Miller hanyalah pengganggu. Tidak lebih dari sekadar tumbal pada saat perang”, ucapnya dengan lemas. Aku pun terkejut mendengarnya. Perintah archon sekarang terkesan kejam sekali.
“Hei, siapa namamu?”, tanyaku lagi.
“Vinch. Namamu?”, tanya Shield Miller yang bernama Vinch itu.
“Hazel”, jawabku singkat.
“Hazel?! Kau satu - satunya yang selamat dari ether itu?”, tanya Vinch bersemangat.
“I-iya. Memang kenapa?”, tanyaku.
“Hebat sekali! Ternyata seorang Holy Chandra memang sangat kuat”, katanya sambil terus memujiku.

Akhirnya kami pun jadi mengobrol banyak. Ia banyak bercerita tentang keadaan Bellato sekarang, sepeninggal archon Exodus. Lama kelamaan aku merasakan ada yang sedang mengintai kami. Vinch sepertinya tidak menyadarinya, tapi aku merasakannya. Para monster di sekitar sini pun sudah tidak terlihat lagi. Kejadian yang aneh.

“Hati - hati, Vinch. Aku merasa ada yang tidak beres di sini”, ucapku pelan kepada Vinch.
“Sungguh?!”, ia pun langsung berdiri dan menyiapkan Gunblade dan perisai miliknya.

Benar saja, dari semak belukar dan pohon yang ada, keluar banyak orang yang terlihat seperti bayangan saking cepatnya. Jumlahnya sangat banyak. Mereka mengepung kami berdua. Setelah mereka sedikit mendekat, aku terkejut mengetahui mereka adalah bangsa Bellato. Namun dengan kulit dan armor yang lebih gelap. Mata mereka pun merah menyala seperti terkena efek Chaos. Mereka pun menyerang kami bersamaan dari segala arah.

“Defender! Fortification!”, Vinch langsung memperkuat dirinya. Aku juga harus melakukan hal yang sama.
Holy Shield! Agility! Acuteness!
“Vinch, kau siap?”, seruku.
“Tentu. Ayo kita mulai!”, selesai berkata begitu Vinch langsung menerjang gerombolan hitam itu.

“DEATH BLOW!!”, dengan satu serangan itu Vinch berhasil memukul mundur musuh. Aku pun membantunya dengan Swarm dan Venom Breath.
Sial! Mereka terlalu cepat. Setelah mereka menyerang mereka langsung berlari menghindar. Taktik hit and run rupanya. Vinch pun sepertinya kewalahan diserang dari segala arah dalam kecepatan tinggi.

“Vinch! Kita naikkan tempo. Increase Speed!”, kuberikan tambahan kecepatan pada Vinch dan diriku sendiri. Satu persatu musuh berhasil dikalahkan oleh kami. Namun jumlah mereka seakan tidak ada habisnya. Terlebih lagi, gerakan mereka semakin lama semakin cepat. Tidak! Bukan mereka yang bertambah cepat. Tapi kami yang melambat. Sial! Vinch pun sepertinya sudah hampir mencapai batasnya. Namun ia tetap tidak menyerah.

“SHINING CUT! DEATH BLOW! HEAAA!”, Vinch terus menyerang gerombolan hitam itu. Aku juga tidak boleh mengendurkan seranganku.
METEOR! FROST NOVA! SANDSTORM! LIGHTNING CHAIN!
Rentetan serangan force kukeluarkan secara berturut - turut. Serangan itu berhasil mengenai mereka dalam jumlah banyak. Ditambah serangan Vinch, jumlah mereka kini tidak lebih dari 5 orang. Mereka terlihat gentar menghadapi kami berdua. Kami pun bersiap melancarkan serangan terakhir. Vinch segera maju untuk menghadapi mereka.

Tapi mereka mengambil langkah mundur dan mengeluarkan senjata api. Kini mereka bertarung dengan benar - benar menjaga jarak. Vinch terkejut menghadapi itu. Karena dihujani peluru ia tidak dapat banyak bergerak. Untuk mendekat saja susah, apalagi untuk menyerang. Aku yang harus menyerang mereka. Serangan dengan jangkauan terjauh hanyalah ini..

FLAME ARROW! FROST ARROW!
Cih! Mereka masih bisa menghindar. Kalaupun kena, tidaklah begitu terasa. Kalau saja Aqua Blade memiliki jangkauan jauh mungkin akan beda hasilnya. Aku harus berkonsentrasi. Helios pasti bisa menjangkaunya.

AQUA BLADE! BLAZE PEARL!
Cih! Tidak bisa. Jangkauannya tidak sejauh serangan tipe panah. Tidak ada cara lain, aku harus terus berkonsentrasi pada kedua force tadi. Vinch pun semakin kewalahan menghadapi serangan mereka.

FLAME ARROW! FROST ARROW!
Sedikit lebih jauh dan hampir mengenai mereka dengan telak. Andai saja Acuteness bisa menghilangkan jeda force, mungkin akan lebih mudah. Jarak dan jeda, dua hal itulah yang saat ini sangat menghambatku. Helios.. Dengarlah panggilanku.. Berikan aku kekuatan! Berikan aku KEKUATAAN!!

Tiba - tiba saja kedua tanganku bercahaya. Cahaya yang sangat menyilaukan dan menerangi daerah itu. Cahaya itu berkumpul dan memanjang. Lama kelamaan cahaya itu pudar dan terlihat sesuatu dibalik cahaya itu. Sebuah busur?! Inikah jawabanmu Helios? Busur.. Baiklah! Saatnya menunjukkan kekuatan Helios yang sebenarnya..
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:16 am

The Story of Bellato #13

13. INEXHAUSTIBLE ENERGY

FLAME ARROW! DHUAR!
Wow!! Tepat dugaanku. Kupikir bisa menggunakan Flame Arrow sebagai anak panah dan ternyata benar. Ini adalah busur dengan peluru force. Dan tenaga yang dikeluarkan jauh lebih besar sampai bisa menimbulkan ledakan sebesar itu. Vinch pun terlihat kaget melihat seranganku itu. Segera kulanjutkan seranganku.

FROST ARROW!
Yang ini juga menjadi semakin kuat dan jauh. Perlahan - lahan ketahanan Vinch kembali pulih. Sementara gerombolan penjahat itu berlarian kesana kemari menghadapi seranganku. Tunggu! Ada sesuatu lagi yang kurasakan.

FROST ARROW!
Bisa! Padahal aku baru saja memakai force itu, namun sudah bisa dipakai lagi dalam tempo waktu yang lebih singkat. Jangan - jangan..

FLAME ARROW! FROST ARROW! FLAME ARROW! FROST ARROW!
Aku terus menembakkan rentetan force tanpa henti. Dengan bantuan Taunt dari Vinch, akhirnya satu persatu musuh berhasil ditumbangkan. Namun satu dari mereka berhasil melepaskan diri. Tenagaku hanya tersisa sedikit. Menggunakan wujud busur sangat menguras tenaga. Mungkin ini serangan terakhirku. Aku pun bersiap untuk menghabisinya. Tiba - tiba saja..

DOR! DOR! DOR!
Sebuah Catapult berwarna gelap menghabisi seorang yang mencoba kabur itu. Mereka pun lenyap menjadi serpihan debu lalu terbang ke udara. Tembakan Catapult tadi sangat kuat.

“Kalian tidak apa - apa?”, tanya suara dari dalam MAU tersebut.
“Dick?! Kaukah itu?”, tanya Vinch.
“Ternyata kau Vinch”, setelah berkata begitu, MAU mendekat dan terlihat jelaslah warna dari MAU itu. Karena sudah malam, kukira itu adalah MAU Catapult berwarna hitam. Namun ternyata itu adalah MAU berwarna orange. Ini tipe yang belum pernah kulihat sebelumnya. Lalu MAU itu turun dan dari kokpit keluar seseorang. Aku pun segera menghilangkan busur tadi.

“Untunglah kau datang tepat waktu”, ucap Vinch.
“Kalian sedang apa di sini?”, tanya Dick.
“Kami sedang berbincang - bincang sampai gerombolan aneh tadi menyerang kami”, jelas Vinch.
“Memangnya siapa mereka?”, tanya Dick lagi.
“Kami juga tidak tahu. Tiba - tiba saja mereka menyerang. O iya, kenalkan. Ini Hazel”, ucap Vinch sembari mengenalkanku pada Dick. Aku pun memberi salam padanya.
“Namaku Hazel. Salam kenal”, ucapku padanya.
“Aku Dick, Armor Rider. Kau Holy Chandra yang selamat itu ya?”, tanyanya lagi.

Wah, rupanya kedatanganku merupakan sesuatu yang sangat luar biasa rupanya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Huwaah.. Ternyata gerah sekali memakai pelindung kepala ini”, ucap Vinch. Lalu ia melepaskan pelindung kepala miliknya itu. Aku terkejut ternyata saat dilepas, rambut Vinch terurai panjang ke bawah, sampai ke punggungnya. Pelindung kepala itu ternyata mengikat rambutnya juga.

“Kau lebih cocok terlihat seperti itu”, ucap Dick.
“Ah, tapi ini sangat merepotkan. Bila dalam pertempuran rambut panjang ini bisa saja menggangguku”, jawab Vinch.
“Mengapa tidak kau potong saja rambutmu?”, tanyaku. Vinch tersenyum sebentar lalu menjawab.
“Kata orang, rambut adalah mahkota wanita. Maka dari itu aku tidak mau mencukur rambutku”, mendengar ucapannya itu, aku kembali terkejut. Dia…wanita?

“Vinch. Kau..seorang wanita?”, tanyaku penasaran.
“Hihi.. Memangnya salah ya kalau seorang wanita menjadi Shield Miller?”, tanyanya sambil tersenyum.
“Ah, tidak. Hanya saja, aku tidak menyangkanya”, ucapku.
“Pasti karena tubuhnya yang rata makanya kau tidak sadar kalau dia wanita”, Dick tiba - tiba berkata begitu. Kontan Vinch langsung menatap Dick dengan aura pembunuh. Tanpa sungkan, ia langsung melempar perisai yang ia pakai tepat ke muka Dick.

DHUAG! Perisai terbang itu tepat mengenai wajahnya. Aw.. Itu pasti sakit. Dick pun langsung terkapar dan memegangi hidungnya. Sepertinya hidungnya berdarah. Aku pun menghampirinya untuk melihat lukanya.

“Ucapkan sekali lagi maka aku akan mengirimu ke neraka!”, ancam Vinch kepada Dick. Dick sendiri hanya bisa mengangguk sambil memegangi hidungnya. Karena hari sudah sangat gelap dan takut akan bahaya lebih lanjut, aku mengajak mereka pergi ke tempat lebih aman. Akhirnya kami pun pergi ke pusat Benteng Solus.

Sesampainya di sana, aku mencari perban untuk menghentikan pendarahan dari hidung Dick. Sepertinya Vinch melemparnya terlalu keras. Bukannya menolong Dick, Vinch malah pergi ke tempat lelang untuk berbelanja. Haah.. Dimana - mana memang wanita suka berbelanja.

“Masih sakitkah?”, tanyaku pada Dick.
“Ugh.. Lumayan”, ucapnya sambil menahan sakit.
“Kalian sudah kenal cukup lama ya?”, tanyaku lagi.
“Ya, begitulah. Seharusnya saat ini dia juga sudah Maximus. Hanya saja dia banyak menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk berlatih untuk menolong yang lain bila ada kekacauan. Tapi dari situ akhirnya ia bertambah kuat dengan sendirinya. Walaupun berhadapan dengan petinggi Accretia ataupun Cora, belum ada satupun dari mereka yang bisa menumbangkan Vinch”, Dick bercerita banyak tentang Vinch.
“Tapi dia bisa sampai sejauh ini tentunya berkat kau juga kan?”, ucapku pada Dick.
“Mungkin. Kebetulan kami sering turun ke medan perang bersama. Aku selalu menyokong dia dengan MAU ku”, jawab Dick.
“Oiya, soal MAU milikmu tadi. Rasanya aku baru melihat warna yang seperti itu”, ucapku penasaran.
“Oh, itu adalah Catapult terbaru. Sudah beberapa minggu lalu kami pakai itu untuk berperang. Daya hancurnya lebih kuat dari versi warna hitam. Lalu untuk Goliath ada juga yang berwarna merah. Nanti akan kutunjukkan sesuatu padamu”, ucap Dick.

Setelah kami berbincang - bincang sedikit, Vinch datang menghampiri kami dengan wajah berseri - seri.
“Ada apa kau tersenyum - senyum sendiri?”, tanya Dick sinis.
“Aku akhirnya memiliki Spirit Intense Sickle Knife. Hehe..”, ucap Vinch sambil menunjukkan pedang baru miliknya.
“Masih polos?”, tanya Dick.
“Ya. Karena yang sudah dimodifikasi harganya pasti mahal”, kata Vinch dengan wajah lemas.
“Jangan bersedih. Nanti akan kuperkuat pedangmu”, hibur Dick. Ekspresi Vinch langsung berubah dan dia menjadi bersemangat kembali.

“Benar, Dick? Terima kasih banyak”, ucap Vinch sambil tersenyum. Dick menghela nafas sejenak.
“Aku yang sebaik ini sampai dilempar oleh perisai”, ucap Dick.
“Huu.. Maaf.. Aku tidak sengaja. Aku tadi kelepasan”, ucap Vinch sambil memohon maaf.
“Hihi.. Kau terlihat lucu bila begitu. Tenang saja, aku sudah memaafkanmu dari tadi kok”, balas Dick sambil tersenyum.

Melihat mereka berdua tertawa dan tersenyum bersama turut membuatku bahagia. Sepertinya ikatan di antara mereka sangat kuat. Terlihat lebih dari sekedar teman. Dick beruntung memiliki Vinch.
“Oiya, hampir aku lupa. Mari ikut aku. Akan kutunjukkan sesuatu pada kalian”, ucap Dick.

Dick mengajak aku dan Vinch ke suatu tempat. Kami diajak keluar melalui pintu barat Solus. Di sana, di sebuah dinding terdapat suatu panel berwarna merah. Dick menyentuh panel itu dengan tangannya. Panel itu berubah warna menjadi hijau, lalu dinding itu terbuka. Kami masuk ke dalam ruangan gelap itu. Di sana hanya terlihat sebuah cahaya merah. Saat kami di dalam, dinding di luar tertutup. Semuanya menjadi sangat gelap. Hanya cahaya merah itu yang terlihat. Dick menyentuh cahaya itu yang sepertinya sebuah panel. Panel itu kembali menjadi hijau. Lantai di sana terasa turun secara perlahan. Mungkin ini adalah sebuah lift tersembunyi.

Sesampainya di bawah, terlihat sedikit cahaya. Cahaya itu hanya menerangi jalan. Dick berjalan di depan diikuti oleh Vinch yang memegan tangan Dick di belakangnya. Vinch nampak takut berada di sana. Aku semakin bertanya - tanya, tempat apa ini sebenarnya. Rasa penasaranku sirna ketika dua sosok yang tidak asing lagi muncul di hadapan kami. Kare dan Strive!

“Selamat datang kembali”, ucap Kare memberi salam.
“Oh, ada Hazel juga”, ucap Strive.
“Kalian sudah saling kenal?”, tanya Dick.
“Ya. Kami yang menjemput Hazel pulang dari Ether”, jelas Kare.
“Baguslah kalian sudah saling kenal. Mari kita ke hangar utama”, Dick pun mengajak kami berjalan ke ruangan yang lebih dalam dan gelap.

“Lihatlah ini, Hazel, Vinch. Teknologi yang akan membawa kita pada kemenangan”, Dick pun menekan tombol yang ada di sana. Semua lampu di ruangan menyala dan suasana di sana mendadak jadi terang. Ternyata ruangan ini sangat besar. Namun perhatianku tertuju pada dua sosok robot yang ada di hangar. Dilihat dari manapun, itu adalah Goliath dan Catapult. Tapi warnanya sedikit berbeda. Goliath itu berwarna merah darah dan Catapult itu berwarna orange persis seperti milik Dick tadi.

“Tempat ini adalah tempat penelitian para Armor Rider. Di sini kami mengembangkan MAU agar menjadi lebih kuat. Dan yang kau lihat ini adalah MAU Bellato yang terbaru. Dengan serangan yang lebih kuat dan pertahanan yang lebih tebal, diharapkan MAU ini dapat bertahan dalam badai nuklir sekalipun”, Dick menjelaskan segala sesuatu tentang MAU itu. Aku pun mendekati dua robot itu untuk mengamatinya lebih dekat. Wow.. Hebat sekali. Terlihat lebih menyeramkan.

“Namun perlu diketahui. Tidak semua Armor Rider bisa memakai ini”, ucap Strive tiba - tiba.
“Kenapa begitu?”, tanyaku.
“Karena MAU ini menggunakan sistem yang sedikit lebih rumit. Hanya Armor Rider yang sudah berpengalaman saja yang mampu memakainya. Sekarang giliranku yang bertanya”, tiba - tiba nada bicara Dick menjadi serius.
“Ada apa?”, tanyaku lagi.
“Sebenarnya bayangan hitam yang tadi menyerang kalian itu apa?”, tanya Dick.
“Aku juga kurang tahu soal itu. Yang jelas, makhluk aneh itu tiba - tiba saja menyerang kami berdua”, jawabku.
“Hmm.. Maukah kau menceritakan tentang apa yang kau alami saat kau berada di Ether?”, tanya Dick.
“Tentu saja. Jadi begini..”, aku kembali bercerita panjang lebar tentang semua kejadian yang kualami di Ether.

“Bangsa Esper katamu?”, tanya Dick.
“Ya. Aku khawatir mereka benar - benar berniat memanfaatkan kita semua. Aku juga takut teknologi kita ini akan jatuh ke tangan mereka”, ucapku.
“Tenang saja. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena kurasa kita bisa mencegah mereka sebelum mereka bertindak lebih jauh”, jawab Dick.
“Dengan cara apa?”, tanya Vinch.
“Apa kalian tidak memperhatikan gerak - gerik archon dan wakil archon baru kita? Kalian tidak merasa aneh?”, tanya Dick.
“Memangnya kenapa, Dick? Aku tidak merasakan sesuatu yang aneh. Bukannya mereka sudah berjasa banyak”, sanggah Vinch.
“Ya. Aku juga tidak merasa ada yang aneh”, ucap Kare. Strive hanya menggangguk tanda ia sependapat dengan Vinch dan Kare.

“Aku pernah!”, ucapku dengan lantang. Semua yang ada di sana terkejut mendengar ucapanku.
“Kapan itu?”, tanya Dick.
“Baru siang tadi. Aku merasa ada yang berbeda dari hawa mereka. Entah apa itu”, jawabku.
“Hawa yang berbeda katamu?”, tanya Kare.
“Entah kenapa aku merasakan hawa pembunuh yang sangat kuat saat berada dekat dengannya”, jawabku.
“Mungkin itu karena dia suka membunuh bangsa lain sampai terasa seperti itu”, timpal Strive.
“Aku rasa tidak. Bahkan aku tidak merasakan adanya keberadaan seorang Bellato pada saat itu”, tambahku. Semua yang ada di sana terdiam keheranan mendengar ucapanku. Dick yang daritadi diam akhirnya angkat bicara.

“Hmm.. Bangsa Esper itu berniat menguasai dan memanfaatkan kita? Kalau begitu kita harus mencegah tindakan mereka itu dengan menyingkirkan archon baru kita”, ucap Dick.
“Bagaimana caranya?”, tanya Vinch.
“Dengan ini..”, Dick lalu menyalakan komputernya. Di situ terdapat semua data tentang MAU dari dulu hingga sekarang. Apa itu?! MAU berwarna hijau dan biru?

“Dick. Maksudmu dengan ini?”, tanyaku sambil menunjuk dua unit itu.
“Ya. Ini adalah MAU yang belum dikeluarkan hingga saat ini”, jelasnya.
“Bedanya dengan MAU terdahulu, kali ini dilengkapi dengan AI. Sehingga MAU itu bisa berpikir sendiri dan bergerak dengan mengambil keputusan terbaik”, Strive menambahkan.
“Hanya saja masih ada masalah yang menghambat penelitian kami”, ucap Dick.
“Masalah apa itu?”, tanyaku.
“Kami kekurangan data tentang sistem AI yang akan digunakan. Bellato belum bisa menemukan hal secanggih itu”, ujar Dick.
“Jadi bagaimana nasib MAU ini?”, tanyaku lagi.
“Kita harus ke Armory untuk mencari data AI dari bangsa Accretia”, ucap Kare.

“Armory? Itu kan termasuk markas musuh. Apa tidak ada tempat lain?”, tanya Vinch.
“Aku rasa tidak. Hanya di Accretia yang sudah memiliki teknologi yang cukup maju. Karena mencuri data dari markas pusat sangatlah tidak mungkin, maka kita akan mencarinya di Armory. Tepatnya Armory 117″, jelas Kare.
“Kapan kalian hendak menjalankan rencana ini?”, tanyaku.
“Mungkin secepatnya”, jawab Dick tegas.
“Persiapan sudah sempurna. Kita bisa berangkat kapanpun”, ujar Strive.
“Bagus. Vinch, Hazel, kalian mau ikut?”, tanya Dick.
“Aku akan mengikuti kemanapun kamu pergi, Dick”, jawab Vinch. Dick pun tersenyum sambil mengelus - elus kepala Vinch.
“Bagaimana denganmu, Hazel?”, tanya Dick.
“Baiklah. Aku juga ikut”, jawabku.
“Karena ini adalah misi rahasia, sebaiknya kita bergerak dalam jumlah kecil. Cukup kita berlima saja. Kita berangkat malam ini juga. Kalian tidak keberatan?”, tanya Dick kepadaku dan Vinch. Vinch menjawab dengan menggeleng kepala.
“Tidak. Aku siap”, jawabku dengan tegas.
“Bagus. Kalau begitu, kita berangkat!”, akhirnya aku, Dick, Vinch, Kare dan Strive pergi untuk menyusup ke Armory 117.
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:18 am

The Story of Bellato #14

14. INSIDE OF A WILDERNESS

Csst.. Csst..
Ugh.. Sensor penglihatanku pun mulai melemah. Semakin lama juga semakin sulit untuk mengontrol gerakan tubuhku. Berkali - kali aku terjatuh di tumpukan salju. Akan sangat buruk bila salah satu dari bangsa Esper itu mengejarku dalam kondisiku saat ini. Setelah perjalanan yang terasa sangat jauh menuju ke terminal Accretia, akhirnya kulihat ada 2 orang Accretia yang berlari menghampiriku. Akhirnya bala bantuan datang pikirku. Mereka membawa tombak dan launcher, seorang warrior dan Striker. Namun yang kudapati bukanlah seperti yang kuharapkan. Warrior itu malah melemparkan Magnetic Web kepadaku! Sensor penglihatan mereka pun terlihat berwarna merah darah.

“HEY! APA - APAAN INI?!!”, kontan aku langsung menjadi emosi karena perlakuan mereka.
“Kau diamlah saja. Ini perintah dari tuan Chaos langsung”, ucap Punisher itu.
“TIDAK MUNGKIN!! TUAN ARCHON TIDAK MUNGKIN MELAKUKAN INI!!”, emosiku semakin menjadi - jadi. Selain mereka menyiksaku yang sudah tidak berdaya ini, mereka juga menjelek - jelekan nama tuan Chaos di depanku. Aku benar - benar tidak bisa menerima ini.

“Terserah kalau kau tidak percaya. Yang jelas, dia juga menyuruh kami untuk menghabisimu”, ucap Striker itu.
“SIALL!! CLEANSE!”, aku segera melepaskan diri dari jaring itu. Punisher itu langsung menghampiriku. Pertarungan pun tak terelakan. Tapi dengan kondisiku yang sekarang ini, sangat tidak mungkin untuk menandingi mereka berdua. Walaupun aku masih bisa memberikan perlawanan, sangat sulit untuk mengalahkan mereka. Namun aku tetap tidak akan menyerah!

RAGE SLICE!
Karena serangan itu pertahanan Punisher itu menjadi sedikit terbuka. Inilah kesempatanku!!

TORNA…

“COMPOUND SIEGE!”, Striker itu menyerangku. DHUARR!
Ugh! Aku terkena serangan dengan telak dari samping. Striker itu pun terus menerus menyerangku tanpa henti. Punisher tadi pun ikut menghajarku. Percikan - percikan listrik pun mulai terlihat dari beberapa bagian di tubuhku. Tidak. Aku tidak akan mati! Aku tidak akan mati sebelum aku mengetahui yang sebenarnya! Hades.. Hades! BERIKANLAH AKU KEKUATAN!!

Tiba - tiba saja aku merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir ke dalam tubuhku. Gerakanku pun terasa lebih ringan. Mereka berdua terbelalak kaget melihat keadaanku. Hades pun berubah warna. Kini pedang itu berwarna hitam pekat dan menjadi besar. Striker tadi kembali menembakkan launchernya. Namun karena banyak yang bisa aku hindari, ia menjadi frustasi dan menembak asal - asalan. Bahkan temannya sendiri hampir terkena tembakannya.

“Kurang ajar! DOOM BLAST!!”, tembakannya kali ini tidak bisa aku hindari. Maka aku tidak punya pilihan lain selain menahannya dengan pedangku.
DHUARR! Doom Blast berhasil kuhentikan dengan satu tebasan pedangku. Langsung saja aku berlari mendekati Striker itu.

PRESSURE BOMB!
Siege kit miliknya langsung hancur berkeping - keping. Waow!! Kekuatan yang luar biasa. SHINING CUT! DEATH HACK!
Dengan kombinasi serangan itu, armornya menjadi retak dan terlihat banyak percikan listrik. Ia pun menjatuhkan launchernya dan terjatuh seketika. Lama kelamaan percikan listrik itu semakin banyak dan.. DHUAR! Striker itu meledak di tempat. Tinggal satu lagi. Aku pun segera membalik badan dan menghadapinya. Ia terlihat gemetar untuk menghadapiku. Tunggu! Aku seperti bisa membaca pikirannya. Setelah ini ia akan kembali melempar Magnetic Web lalu pergi meninggalkanku. Benar saja!

“MAGNETIC WEB!”, serunya sambil melempar kapsul jaring ke arahku. Gerakanku kembali dikunci olehnya. Karena kesal diperlakukan seperti ini, aku mencoba membuka jaring ini dengan paksa. Aku mencoba menggerakan kakiku untuk melepaskannya. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk ini.

HEAA!!
Berhasil! Jaring itu terlepas. Punisher itu terkejut. Terlihat ia memegang tombaknya dengan gemetar. Kali ini dia akan kuhabisi!

MAGNETIC WEB!
Ia tidak bisa berkutik sama sekali. Aku langsung berlari menghampirinya dan melancarkan Power Cleave! CRAASH!
Meskipun ia mencoba menahan seranganku dengan tombaknya, tombak dan lengannya hancur berkeping - keping. Lebih dari itu, di dadanya terdapat luka tebasan yang sangat besar. Percikan api pun mulai terlihat. Entah kenapa tubuhku terasa bergerak sendiri dan terus menyerangnya.

MANGLE!
Aku melancarkan kombinasi tebasan yang lebih banyak dari biasanya. Kini ia hanya tersisa sepasang kaki dan tubuh serta kepala, yang semuanya dibungkus percikan - percikan listrik. Dengan satu tebasan kupusihkan tubuh bagian atas dan bawah. Lalu kedua bagian itu meledak seketika. Kekuatan ini.. Kekuatan yang selama ini aku inginkan.. Hahaha.. HAHAHA..

Ugh! Kenapa ini?! Tiba - tiba saja badanku terasa berat! Warna Hades pun telah kembali seperti semula. Tidak! Tubuhku..
BRUG! Aku pun terkapar tidak berdaya. Penglihatanku pun meredup.. Ugh..

Setelah aku tersadar, aku berada di sebuah ruangan besar. Di situ ada semua prajurit Accretia. Sial! Tangan dan kakiku semuanya diikat. Apa maksudnya ini?!! Aku memberontak dan berusaha melepaskan diri. Namun aksiku terhenti melihat aura warna ungu yang tampak di depanku. Cha-Chaos??

“Yang mulia. Dia lah pemberontak yang kita cari. Dia pun terkena tuduhan tambahan karena telah membunuh dua patriot yang menjemputnya di Ether”, ucap salah seorang wakil archon di sana.
“Saber.. Padahal kau adalah salah satu patriot terkuat yang kita miliki. Kenapa kau melakukan semua ini? JAWAB!”, bentak Chaos kepadaku.
“Cih! Aku hanya membela diri! Mereka yang lebih dulu menyerangku!”, jawabku dengan nada cukup tinggi.
“HEI! JAGA BICARAMU!!”, bentak wakil archon yang lain. Entah kenapa para petinggi Accretia yang dulunya baik padaku menjadi begini. Seperti bukan mereka.
“Pengawal! Bawa dia ke ruang interogasi dan cari tahu dimana teman - temannya berada! LAKSANAKAN!”, Chaos memerintahkan beberapa pengawal untuk membawaku ke ruang interogasi. Seluruh mata rakyat Accretia tertuju padaku. Aku benar - benar dianggap pengkhianat yang tidak berharga. Di sana aku diikat seperti tadi. Namun ada beberapa orang yang membawa Taser hendak menanyaiku.

“Hei bocah.. Aku tidak mau kasar padamu. Jadi cepat beritahu dimana teman - temanmu berada!”, ucap seorang warrior kepadaku. Aku benar - benar bingung akan yang sedang terjadi saat ini. Ditambah lagi, aku sendiri tidak tahu teman - temanku berada dimana. UAGHH! Seorang ranger menyengatku dengan tegangan tinggi. Sial! Rupanya mereka tidak main - main.

“Cepat jawab! Kau mau kusetrum lagi?!”, tanya ranger tadi dengan nada menyebalkan.
“Aku tidak tahu..”, jawabku singkat. UAGHH! Lagi - lagi..
“Hei! Kau jangan main - main dengan kami ya! CEPAT JAWAB!”, bentak warrior tadi.
“Sudah kubilang aku tidak tahu!!”, jawabku dengan nada tinggi. Akhirnya selama berjam - jam aku disiksa oleh tiga orang yang ada di sana. Setelah mereka puas menyiksaku, aku dijebloskan ke penjara bawah tanah untuk sementara. Aku pun beristirahat sementara selagi ada kesempatan. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Para petinggi mendadak menjadi aneh. Lalu aku dan teman - temanku dianggap pemberontak. Aku juga tidak tahu mereka saat ini sedang berada di mana.

Aku diawasi dengan sangat ketat. Ada seorang Mercenary dan seorang Striker yang daritadi mengawasiku terus. Senjata dan peralatanku semuanya mereka ambil. Bodohnya, ada seorang warrior yang sepertinya seorang Punisher datang ke sini dan membawa Hades.

“Hei! Lihat ini. Sebuah pedang yang bagus kan?”, ucap Punisher itu.
“Darimana kau mendapatkannya?”, tanya si Striker.
“Dari si bodoh itu. Dia ternyata memiliki pedang sebagus ini. Sayang sekali kalau jatuh ke tangan orang bodoh seperti dia. Haha..”, mereka pun tertawa kegirangan karena bisa mengejekku. Sebenarnya yang bodoh itu siapa. Karena perbuatannya, aku tidak perlu repot - repot mencari pedangku.
“Hei.. Karena ada kau, aku mau istirahat dulu ya. Aku juga mau membeli sesuatu di pelelangan”, ucap Mercenary kepada Punisher.
“Baiklah. Jangan lama - lama ya. Karena aku juga harus segera kembali ke barrack untuk mengembalikan pedang ini”, ucap Punisher itu. Hoo.. Jadi mereka membawa semua peralatanku ke barrack.

Lama kelamaan penjagaan mereka berdua mulai lengah. Mereka mulai jarang melihat ke arahku. Aku melihat di meja yang tidak jauh dari tempat mereka berbincang - bincang, ada sebuah kartu. Mungkin kartu itu yang menjadi kunci kurunganku ini. Namun bagaimana aku mau mengambilnya? Keluar dari sini saja tidak bisa.

Muncul lagi satu orang yang terlihat seperti seorang ranger. Dua orang yang lain terlihat tidak senang dengan kedatangan ranger yang satu ini.

“Kau Nidhogg kan? Ada keperluan apa di sini?”, tanya Punisher itu. Ranger itu hanya diam saja sambil mengambil kartu yang merupakan kunci penjaraku. Nidhogg.. Rasanya aku pernah mendengar nama itu.
“Hei! Kau mau apa?!”, Striker tadi mulai terlihat geram. Namun Nidhogg itu tetap tidak menghiraukan mereka dan sekarang berjalan menuju penjaraku. Ia pun hendak membuka penjaraku dengan kartu yang dia miliki.

“HEI!! KAU CARI MATI YA?!!”, kedua orang itu pun langsung memakai Chaos Charger dan menyerang Nidhogg. Dengan cepat Punisher itu langsung mengeluarkan Spadona miliknya dan mengayunkannya ke arah Nidhogg. Namun dengan sigap Nidhogg berhasil menghindarinya dan menjegal kakinya. Setelah Punisher itu roboh, Striker yang ada di sana menjadi marah dan langsung mengeluarkan Missile Launcher miliknya.

“Sejak kau masuk pasukan utama, aku sudah sangat membencimu. Mana mungkin seorang aku bisa kalah bersaing dengan Phantom Shadow sepertimu?! Sekarang.. MATILAH KAU!!”, belum sempat Striker itu menembakkan launchernya, Nidhogg tiba - tiba saja sudah berada tepat di depan Striker itu dan melayangkan tinjunya. Cepat sekali! Gerakannya tidak terlihat! Striker itu terpental cukup jauh dan jatuh terjerembab. Nidhogg pun menghampirinya untuk melanjutkan serangannya. CRACK! Kaki Nidhogg seperti tersangkut sesuatu. Ia terlihat kesusahan untuk menggerakkan kakinya. Striker itu pun tertawa dengan senangnya.

“Hahaha!! RASAKAN ANKLE SNAREKU!!”, ucap ranger berbaju Striker itu. Ternyata dia bukan Striker. Hanya armornya saja yang Striker.
“Kau ingat aku?!! Akulah Raphael!! Orang yang selalu disebut - sebut Phantom Shadow nomor dua setelahmu!! Sudah lama aku menunggu kesempatan seperti ini”, ucap Phantom Shadow yang bernama Raphael itu. Nidhogg dari tadi terus diam tanpa berkata apa - apa.
“Bagus! Sekarang kita habisi penyusup ini!!”, ucap Punisher yang tadi dijatuhkan Nidhogg.
“Kunci gerakannya! Akan kuhancurkan dia menjadi tak bersisa dengan launcherku ini. Kalau dalam jarak dekat, tidak akan ada yang selamat!!”, perintah Raphael kepada temannya.
“Baik! MAGNETIC WEB!”, kini habislah sudah Nidhogg. Keadaan sangat tidak menguntungkan. Ditambah lagi, Raphael mendekat dan mengarahkan launchernya tepat ke arah Nidhogg.
“MATILAH KAU!!”, DHUARR! Raphael menembakkan launchernya. Ledakan yang cukup besar terjadi di ruangan ini.

Setelah beberapa lama, asap bekas ledakan itu pudar. Samar - samar bisa kulihat ada seseorang yang dikelilingi percikan listrik. Ternyata ia memang hancur. Raphael tersenyum dengan bangganya karena berhasil membunuh Nidhogg. Tunggu!! Setelah asap itu benar - benar hilang, terlihat jelas kalau yang hancur adalah seseorang dengan armor warrior!! Lalu kemana Nidhogg?!! Raphael pun sangat terkejut melihatnya. Tiba - tiba saja.. JLEBB! Sebuah pisau yang bercahaya menusuk punggung Raphael. Dia pun langsung roboh dalam seketika. Dengan susah payah dalam keadaan tersungkur, Raphael berusaha menoleh ke belakang. Nidhogg yang sepertinya menghilang tadi mulai kembali terlihat.

“Ba..bagaimana mungkin?!”, ucap Raphael keheranan.
“Amatir tetaplah amatir.. Selamanya kau tidak akan bisa mengalahkanku..”, ucap Nidhogg dengan dingin.
“A..apa katamu?!! Ku..kurang ajar!!”, Raphael terlihat geram namun tidak berdaya sama sekali. Nidhogg pun menghampiriku dan membuka pintu sel ku.
“Namamu Saber kan? Aku diperintahkan untuk membawamu keluar dari sini. Aku juga tahu dimana teman - temanmu berada”, mendengar ucapan Nidhogg itu, aku merasa lega. Tanpa banyak tanya, aku pun langsung keluar bersamanya. Raphael terlihat sangat mengenaskan. Harga dirinya pasti hancur karena dibiarkan hidup dalam keadaan seperti ini. Sementara teman Punishernya sudah tidak berfungsi lagi.

“Si..sial.. Aku baru..sadar.. Cure Charger.. Remove Trap.. Chaos Charger.. Cloaking Device.. dan Illusionist.. Semua dalam waktu singkat..”, ucap Raphael terbata - bata. Jadi ternyata itu yang dilakukan Nidhogg. Cepat sekali! Sebenarnya Phantom Shadow macam apa dia ini?!
“Kali ini aku ada urusan. Tidak bisa bermain - main denganmu. Kau kuhabisi lain kali saja”, ucap Nidhogg dengan santai. Kami pun keluar dari ruangan itu. Tunggu.. Hades!!
“Tunggu sebentar, ada yang ingin kuambil”, segera saja aku masuk dan mengambil Hades. Kuletakkan di punggungku lalu aku segera keluar.

“Kau ikuti aku. Bergerak dengan hati - hati. Jangan sampai ada yang melihat. Situasi di sini sedang kacau”, aku hanya mengangguk mendengar perintahnya. Kami pun mengendap - endap di markas menuju Gerbang Snatcher. Nidhogg benar - benar professional. Tidak salah kalau dia disebut Phantom Shadow terbaik. Namun yang masih tidak kumengerti, kenapa dia melakukan ini? Ini bisa dibilang melawan archon. Setelah berhasil keluar dari markas, kami langsung berlari menuju Gerbang Snatcher. Suasana di luar markas sangat sepi. Jauh berbeda dari waktu aku di sini dulu. Sesampainya di tempat tujuan, Nidhogg menuju sebuah pintu yang terkunci. Dia pun memasukkan passwordnya lalu pintu terbuka. Di dalam aku bertemu teman - temanku dan beberapa orang yang tidak kukenal.

“Saber?!! Kaukah itu Saber?!!”, tanya Palladium sambil berlari menghampiriku.
“Ya. Ini aku. Kalian baik - baik saja?”, tanyaku kepada Palladium, Evilmist dan Aximand yang menghampiriku.
“Aku baik - baik saja. Bagaimana denganmu?”, tanya Evilmist.
“Ya, akupun baik - baik saja. Mana yang lain?”, saat kutanyakan itu, Mereka bertiga hanya bisa saling memandang. Lalu mereka pun tertunduk lemas.
“Hei! Ada apa ini? Apa yang terjadi?”, tanyaku penasaran.
“Mereka tidak selamat. Hanya aku, Kami bertiga saja yang selamat”, ucap Evilmist lemas.
“Aku tertunduk lemas mendengarnya. Aku tidak tahu kalau teman - temanku berada dalam kesulitan. Palladium dan Evilmist mencoba menghiburku.

“Jangan cengeng!!”, suara seseorang mengagetkanku. Seseorang dengan armor putih berkata dengan nada tinggi sambil membalik badannya. Apa - apaan dia? Dia pikir dia siapa?!!
“Hei kau! Jangan ikut campur masalahku. Kau tidak akan mengerti perasaanku yang kehilangan mereka!!”, aku pun turut berkata dengan nada tinggi.
“Perasaan? Pentingkah itu? Lelucon yang sangat tidak menarik..”, ucapnya dengan sinis.
“Kurang ajar!! HEAA!!”, aku pun langsung menghampirinya dan mengepalkan tinjuku. Dia pun tetap tidak membalik badannya. Dia akan terima akibat kesombongannya!! Kulayangkan tinjuku dengan cepat. Dia tidak akan bisa menghindar.

APA?!! Ugh!! Dengan cepat dia membalik badan dan menangkap tinjuku. Sikut kirinya tepat mengenai dadaku. Lalu lenganku pun dipegang dengan kedua tangannya. Dengan mudah ia pun dapat membantingku. Sial!! Belum sempat aku bangun, sebuah Hora Vulcan sudah mengarah tepat ke arah kepalaku.

“Master Xzar! Mohon maafkan dia. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan!”, ucap Palladium kepada orang itu. Apa?! Bahkan Palladium pun takut pada orang ini?! Cih..
“TEMBAK SAJA!! AKU TIDAK BUTUH DIKASIHANI!!”, aku membentaknya dengan keras karena kesal.
“Master Xzar!! Kami mohon..”, Cih.. Aximand pun turut memohon padanya. Akhirnya ia pun menarik Hora Vulcannya dari mukaku. Sial.. Aku benar - benar dipermalukan!!
“Tindakanmu tadi sangatlah salah”, ucap Nidhogg yang daritadi mengamati kami.
“Dia adalah Master Xzar. Ketua guild Schneider. Aku harap kau bisa menjaga sikapmu di depan beliau.. itu bila kau masih ingin hidup”, lanjut Nidhogg sambil membalik badan lalu meninggalkan kami. Xzar pun juga menyimpan Hora Vulcannya kembali dan pergi ke belakang bersama Nidhogg. Lalu seorang lagi datang menghampiriku.

“Kau tidak apa - apa kan? Terkadang dia memang begitu, lebih memilih bertindak daripada berbicara. Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Oiya, kenalkan, namaku Scarlet, Mercenary”, ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku.
“Terima kasih. Saber, Punisher”, jawabku singkat sambil dibantu bangun olehnya.
“Senang bertemu denganmu. Sekarang aku permisi dulu. Ada diskusi dengan para founder dan guild master”, ucapnya sambil ikut ke belakang bersama yang lain. Schneider.. Guild yang baru pertama aku dengar. Sepertinya mereka adalah kumpulan orang - orang yang sangat kuat. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Xzar. Siapa sebenarnya dia..?
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:19 am

The Story of Bellato #15

15. LAMENT

Kini aku sedang berada di persembunyian guild Schneider. Kami semua diajak untuk berkumpul di dalam yang terlihat seperti ruang pertemuan. Lalu Xzar pun berdiri di depan dan mulai berbicara.

“Baiklah. Mari kita mulai. Bonix, kuserahkan padamu”, setelah Xzar berkata begitu, seorang warrior maju ke depan dan mengambil alih.
“Sekarang kita mulai. Seperti yang kalian lihat, tentunya kelakuan para archon kita belakangan ini terlihat sedikit aneh bukan? Kami para founder memiliki dugaan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan mereka”, jelas Bonix.
“Saber. Bisakah kau ke depan. Kami ingin bertanya padamu”, ucap Nidhogg kepadaku. Mau apa lagi mereka ini? Karena teman - temanku memintaku untuk menurutinya, aku pun maju ke depan.
“Begini. Kalau tidak salah kau baru saja pulang dari Ether kan? Apa saja yang kau alami di sana? Dan kenapa kau bisa selamat sementara anggota grup lain tidak?”, tanya Bonix kepadaku.
“Tunggu dulu! Memangnya apa yang terjadi dengan mereka?”, tanyaku heran.
“Kau benar - benar tidak tahu? Harusnya kau yang berada di sana bisa lebih tahu dari kami semua”, lanjut Bonix.
“Sebenarnya..”, aku pun akhirnya menceritakan semua yang aku alami saat di Ether. Kuceritakan tentang rencana bangsa Esper yang ingin menguasai Novus. Mendengar ceritaku itu, mereka hampir tidak percaya. Sampai kuperlihatkan Hades sebagai bukti nyata, barulah mereka percaya.

“Tadi kau bilang mereka ingin menggunakan bangsa di Novus sebagai prajurit untuk menghadapi bangsa Herodian? Benar begitu?”, tanya Bonix penasaran.
“Ya. Hanya saja aku tidak tahu cara mereka melakukannya. Yang jelas, sekarang ini kita harus bersiap - siap untuk menghadapi mereka selagi mereka masih belum bergerak”, jawabku.
“Tunggu! Justru menurutku mereka sudah bertindak”, ucap Xzar dengan nada serius.
“Jika kalian melihat tingkah laku para archon dan wakil archon kita, lalu membandingkannya dengan beberapa bulan lalu, pasti akan terasa adanya perbedaan yang sangat mencolok”, lanjutnya. Aku sudah lama tidak bertemu para archon dan wakil archon, jadi aku tidak tahu banyak.
“Ada benarnya juga”, ucap Nidhogg memecah keheningan.
“Belakangan ini mereka terlihat beda. Dari cara bertingkah hingga dalam pengambilan keputusan pada saat Chip War. Aku rasa itulah salah satu penyebab kekalahan kita dalam Chip War beberapa minggu ini”, jelas Nidhogg.

“Jadi maksudmu…”, Bonix seperti hendak berkata sesuatu.
“Ya. Mereka yang disebut bangsa Esper itu telah melakukan sesuatu pada petinggi kita. Dan tidak menutupi kemungkinan kalau petinggi Bellato juga mengalami hal yang sama”, ucap Xzar.
“Dengan kata lain, bangsa Esper itu sudah mulai bertindak?”, ucap Palladium.
“Hanya saja dampaknya pada bangsa kita dan Bellato berbeda. Bellato seakan mendapat anugrah dari bangsa Esper. Dan celakanya, mereka sama sekali tidak sadar akan hal yang sebenarnya”, sambung Bonix.
“Jadi apa tindakan kita sekarang?”, tanyaku. Semua terdiam tanpa berkata apa - apa. Kemudian Xzar pun angkat bicara.

“Untuk sementara, lebih baik kita cari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada petinggi kita. Nidhogg, aku yakin aku bisa mengandalkanmu dalam hal ini”, ucap Xzar.
“Serahkan padaku”, jawab Nidhogg.
“Yang lain bisa bersiap - siap di sini. Kami membawa sedikit perbekalan di sini. Ada beberapa talic jika kalian ingin mengupgrade senjata kalian. Juga ada beberapa charger tersedia. Persiapkan diri kalian sebaik - baiknya hingga waktunya tiba untuk bergerak”, jelas Bonix. Setelah itu semuanya berpencar untuk bersiap - siap. Gerbang Snatcher ini sudah menjadi seperti markas rahasia kami. Aku pun berbincang - bincang banyak dengan teman - temanku. Tidak lupa juga aku meminta Talk Jade untuk berjaga - jaga bila aku perlu. Setelah itu, aku berjalan - jalan di dalam tempat ini dan naik ke atas. Di sana aku menemui Scarlet yang sedang menyendiri.

“Sedang apa kau di sini?”, tanyaku.
“Tidak apa - apa. Hanya sedang berpikir apa yang telah mereka perbuat pada archon kita”, jawab Scarlet.
“Saat aku bertarung dengan mereka, aku menarik kesimpulan kalau mereka memiliki latar belakang force sama seperti Bellato dan Cora. Aku tidak melihat satupun dari mereka yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan teknologi seperti kita”, ucapku.
“Tapi pada umumnya, bangsa penjajah akan mencari cara untuk menguasai jajahannya. Dari situ mereka akan belajar untuk menangkal kekuatan lawan dan meningkatkan kemampuan sendiri. Yang kita lakukan juga begitu kan?”, ucap Scarlet. Aku terdiam sejenak memikirkan kata - katanya.
“Ironis sekali. Ternyata kita tidak jauh berbeda dengan mereka. Kita juga bangsa penjajah kan?”, kataku.
“Pada dasarnya, Novus ini adalah planet untuk berperang. Jadi bagi bangsa yang pertama datang ke sini tidak bisa disebut penjajah. Walaupun pada saat itu bangsa Cora lebih dulu berada di sini, bukan berarti kita hendak menguasai mereka. Yang kita cari adalah sumber daya dari Crag”, jelas Scarlet.
“Aku juga sudah lupa kenapa akhirnya ketiga bangsa di Novus berkembang sendiri dan berperang memperebutkan tambang. Bellato pun yang dulunya hanya tentara bayaran, kini sudah menemukan teknologi canggih dan menjadi bangsa yang kuat”, ucapku.
“Tunggu! Bellato..teknologi.. Sepertinya aku tahu apa yang mereka lakukan”, ucap Scarlet. Mendengar kata - katanya itu, aku menjadi terkejut.

“Memangnya apa?”, tanyaku penasaran.
“Menyamar untuk menjadi Accretia akan sangat sulit, karena kita dipenuhi sistem dengan teknologi tinggi. Dan untuk menyamar menjadi Cora pun tidaklah mudah. Mereka memiliki dewa yang tahu akan segalanya. Tapi untuk menjadi seorang Bellato, bukanlah hal yang sulit”, jawab Scarlet.
“Lalu apa hubungannya dengan yang terjadi pada pemimpin kita?”, tanyaku lagi.
“Aku menduga yang mereka lakukan adalah menyamar menjadi Bellato dulu. Ini dibuktikan dengan keanehan archon baru Bellato. Sepertinya mereka sukses menyusup ke dalam Bellato. Lalu untuk menyusup ke dalam Accretia, mereka mencari cara untuk memanipulasi data. Ingat, walaupun Bellato dulu adalah subyek percobaan Accretia, tapi yang mengembangkan MAU adalah mereka sendiri. Maka bukanlah hal yang sulit untuk mempelajari tentang teknologi melalui Bellato”, jelas Scarlet.
“Aku masih belum mengerti. Lalu apa yang mereka perbuat pada kita?”, tanyaku.
“Program ulang. Itu dugaanku saat ini. Mereka memprogram ulang para archon kita sehingga mereka menjadi berubah”, jawab Scarlet. Mendengar jawabanny itu, aku sangat terkejut. Sepertinya ini akan menjadi persoalan yang cukup rumit.

“Tapi kapan mereka memprogram ulang archon kita, Chaos sedangkan beliau selalu dijaga oleh para wakilnya?”, tanyaku lagi.
“Mudah saja. Archon kita adalah seorang Mercenary. Dalam setiap gelombang serangan ataupun bertahan, dia selalu berada di paling depan. Saat beliau jauh dari pengawasan kita itulah para archon gadungan Bellato itu beraksi. Karena para archon Bellato semuanya bukan pengendara MAU, akan mudah untuk mengerjakan hal tersebut. Ditambah lagi, mereka bertiga sering membawa Chaos ke tempat lain sehingga pasukan lain bisa menyerang”, jelas Scarlet.
“Jadi dengan kata lain, adalah kesalahan kita sering menyusahkan Chaos dengan membiarkan dia berada di garis depan seorang diri?”, kataku lemas. Scarlet terdiam sejenak setelah itu. Lalu ia kembali berbicara.
“Sekali lagi, itu hanya dugaanku untuk saat ini”, ucapnya.

DHUARR!
Sebuah ledakan yang cukup besar mengagetkan kami. Suara ledakan itu berasal dari bawah. Dengan segera aku dan Scarlet bergegas turun untuk melihat keadaan. Ini kan markas Accretia? Kenapa ada kerusuhan di sini? Seluruh anggota guild Schneider termasuk Xzar pun keluar dari Gerbang Snatcher untuk melihat keadaan. Ternyata archon! Chaos dan para pengikutnya menembaki tempat ini. Sial! Apa - apaan ini?! Saat aku hendak keluar, Scarlet menghentikanku. Lalu Xzar pun maju ke depan menghadapinya. Chaos pun menyuruh para Striker untuk menghentikan serangannya.

“Apa maumu?”, tanya Xzar pada Chaos.
“Cepat serahkan pengkhianat itu! Kalau tidak, kalian juga akan kucap sebagai pengkhianat!”, ucap Chaos dengan nada memerintah.
“Pengkhianat? Di sini tidak ada pengkhianat. Guild kami beranggotakan orang - orang yang mau berperang demi bangsa ini”, jawab Xzar tenang.
“Herrghh!! JANGAN BOHONG!! MEMBAWA PENGKHIANAT LARI SAMA JUGA DENGAN PENGKHIANATAN!! CEPAT SERAHKAN PUNISHER ITU!!”, ucap Chaos murka.
“Punisher? Saber maksudmu?”, ucap Xzar tetap tenang. Sial! Kenapa dia malah menyebutkan namaku? Lalu Xzar kembali berbicara,”Langkahi dulu mayatku…”

Mendengar itu, Chaos benar - benar marah dan langsung menyuruh para Striker menyerang kami dengan Doomblast berkekuatan penuh. Bonix pun mengisyaratkan pada kami semua agar melarikan diri ke tempat aman dipimpin oleh Bonix. Dari sini tidak jauh dari Armory 117. Teman - temanku dan anggota guild lain langsung melarikan diri dari pintu samping dan menuju 117, tepatnya menuju Ruang Mesin. Sementara Scarlet, Xzar dan Nidhogg menahan para perwira Accretia. Celaka! Mereka tak akan selamat. Aku pun turut bergabung dengan mereka untuk menahan para perwira.

“Bodoh! Apa yang kau lakukan di sini?!”, ucap Nidhogg kesal.
“Mereka mencariku. Maka biarkanlah aku yang mengurus ini!”, jawabku.
“Kau…”, Nidhogg hampir memukulku. Namun Scarlet menangkap tangannya dan mencegahnya.
“Biarkanlah dia melakukan sesukanya”, ucap Xzar tenang.

DHUARR!!
Benar saja. Gelombang Doomblast yang dahsyat menerjang kami berempat. Aku mencoba melakukan hal yang sama di Ether, menahan launcher dengan Hadesku. Namun belum sempat aku menarik Hades, tembakan itu sudah mendekati kami semua. Tapi Scarlet berdiri di depan kami semua dan mengeluarkan perisainya. MEGA SHIELD! Dengan kekuatan pertahanan yang luar biasa, dia menahan semua serangan itu. Aku benar - benar terkejut melihatnya. Nidhogg pun langsung maju menyerang, dengan dipenuhi aura Chaos Charger.

“Xzar! Kenapa mereka bisa menyerang mereka tanpa Chaos Charger? Sedangkan Nidhogg memerlukannya?”, tanyaku padanya. Xzar terlihat terdiam sejenak dan berpikir.
“Mereka…sudah menganggap kita pengkhianat. Tidak lain halnya dengan turncoat”, ucapnya.
“APA?!!”, aku sangat terkejut mendengarnya.
“Sebenarnya sekarang pun kita tidak memerlukan Chaos Charger lagi. Karena kita sudah tidak lagi dianggap satu bangsa dengan mereka”, jawabnya dengan tenang. Aku menjadi lemas mendengarnya. Entah apa salah kami sehingga archon dan wakilnya membuang kami. Xzar pun ikut bergabung dengan Nidhogg dan Scarlet untuk menahan para pengikut archon. Aku hanya bisa terpaku saja melihat pemandangan ini.

DHUAGG!
Tiba - tiba saja Nidhogg dan Scarlet terpental dan jatuh. Ternyata selain kalah jumlah, kekuatan kami pun masih di bawah para perwira. Aku segera menghampiri mereka yang terjatuh.
“Kenapa kau masih di sini?! Cepat pergi ke 117!”, ucap Scarlet.
“Tidak sebelum aku tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini!”, ucapku tegas. Setelah berkata begitu Xzar pun mengambil langkah mundur tanda kalau ia terdesak.
“Kau mau tahu?”, tanya seorang wakil archon yang sangat aku kenal. Signum…
“Kalian sudah tidak lagi kami anggap bangsa Accretia. Karena kalian telah menyerang dan membunuh teman sebangsa kalian. Dan kalian juga telah membawa lari buronan bangsa ini”, lanjutnya. Cih! Ternyata memang aku yang mereka cari. Aku menggenggam Hades dengan erat karena geram.

“Nidhogg.. Scarlet.. Kalian bawalah Saber pergi dari sini. Biar aku mengulur waktu sebentar”, ucap Xzar. Nidhogg dan Scarlet yang mendengar itu pun terkejut.
“Tidak bisa begitu. Kalaupun ada yang harus mengulur waktu, akulah orangnya”, balas Scarlet.
“Tidak apa - apa. Aku hanya ingin mereka merasakan kekuatan seseorang yang mereka anggap pengkhianat. Kalian pergilah ke Armory 117. Nanti kita bicarakan rencana selanjutnya di sana”, setelah Xzar berkata begitu, ia pun maju dengan Hora Vulcannya. Scarlet dan Nidhogg tidak punya pilihan lain kecuali menurut padanya. Begitu juga denganku. Kami berlari meninggalkan kerumunan menuju 117.

DHUARR!! DHUARR!!
Langkah kami semua terhenti saat mendengar ledakan tersebut. Xzar dihujani oleh para Striker secara bersamaan. Kepulan pasir gurun menyelimuti tempat Xzar. Semua yang ada di sana terdiam sesaat. Para Striker pun terlihat berharap cemas. Saat kepulan pasir itu mulai hilang, terlihat sosok seorang Striker yang tengah berada dalam mode Siege. Namun ada sesuatu yang berbeda. Siege Kit itu..berwarna merah? Siege Kit apa itu? Baru kali ini aku melihatnya.

DHUAR! DHUAR!
Xzar menembaki mereka semua dengan cepat. Ternyata tidak hanya penampilan saja yang berubah. Namun kekuatan Siege Kit merah itu jauh lebih kuat dari yang dulu. Mereka semua termasuk para perwira tidak berkutik menghadapi Xzar. Melihat itu, aku merasa lega. Lalu aku, Scarlet dan Nidhogg berlari menuju 117. Dari kejauhan aku menoleh ke belakang. Dan yang kulihat adalah para perwira dan pengikutnya mundur selangkah demi selangkah karena serangan Xzar. Striker macam apa dia? Siege Kit merah? Masih banyak hal yang menjadi tanda tanya bagiku.
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:22 am

The Story of Bellato #16

16. Endscape

Pertarungan ini dimulai dengan sebuah pukulan keras Mecha King Crook itu ke tanah yang memaksa kami mengambil sedikit langkah mundur. Kare pun sudah berada dalam posisi siap dan maju menyerang bersama Dick. Sementara itu Vinch mempersiapkan diri untuk ikut menyerang. Holy Shield! Agility! Agility! Mudah - mudahan cukup membantu mereka. Baiklah.. Aku juga tidak akan kalah. Efficiency! Acuteness! LIGHTNING CHAIN!

Serangan itu dengan telak berhasil mengenainya. Lalu disambung serangan dari yang lain. Belum sempat King Crook itu sadarkan diri, kulanjutkan dengan Blaze Pearl dan Wave Rage. Kare juga melancarkan Eagle Strike dengan telak. Kepulan asap pun menyelimuti tubuh King Crook yang roboh tersebut. Apa?! Setelah serangan seperti itu ia tidak terluka sama sekali? Tubuhnya masih licin seperti baru. Baiklah. Bagaimana dengan ini?

SWARM! AQUA BLADE! TECTONIC MIGHT! BLAST SHOT!
Yang lain pun terus menyerang bersama - sama. Kali ini ledakan yang terjadi lebih hebat dari yang tadi. Cih! Masih belum terasa. Hanya sedikit lecet saja. Ia pun memukul - mukul tanah seakan marah karena serangan tadi. Lalu ia pun membungkuk sejenak. Dari punggungnya keluar beberapa Crook yang diselimuti besi. Ada empat buah! Rupanya dia tidak mau bertarung sendirian.

“Serahkan padaku! WILD SHOT!”, Kare langsung menghalau para Crook itu. Aku juga membantu dengan serangan area. Dalam sekejap, pasukan Crook itu hancur lebur. Namun sepertinya tindakan kami salah. Dari mayat - mayat Crook kecil tersebut, keluar sebuah bola energi. Bola itu pun lalu terbang ke Mecha King Crook yang ada di sana. Karena bola itu pula, luka - luka yang tadi kami buat kini hilang sama sekali. Apakah ini berarti Crook itu tidak boleh dihancurkan?

“Temang - teman. Jangan lupa, kita sedang menghadapi Pit Boss. Tidak usah pedulikan Crooknya. Kita serang saja induknya”, perintah Dick. Kami pun kembali menyerang induknya sementara induknya sendiri sibuk memproduksi Crook kecil tersebut. Pertarungan ini memang terasa berat hanya dengan empat orang. Mecha King Crook ini terlalu kuat. Tidak ada pilihan lain selain menunggu datangnya MAU Dick. Ditambah lagi, Crook yang ada terus saja mengganggu kami. Bila dibiarkan, mereka akan merepotkan. Bila dihancurkan, akan menyembuhkan induknya. Tch..

“Kalian seranglah induknya! Aku akan menahan anak - anaknya!”, ucap Vinch.
“K-kau yakin?”, tanyaku.
“Tenang saja. Aku kan Shield Miller. Aku akan baik - baik saja”, balasnya.
“Kalau situasi menjadi berbahaya bilang pada kami ya”, ucap Dick menambahkan.
“Tenang saja. DEFENDER! FORTIFICATION!”, Vinch langsung membawa anak - anak itu ke tempat lain. Vinch hanya bisa bertahan sepihak. Aku tidak tahu sampai kapan dia bisa bertahan. Aku harus bergegas.. Helios.. Kita hancurkan dia..

FLAME ARROW!
Dengan satu serangan itu dalam sekejap cahaya berkumpul di tanganku dan berubah menjadi busur. Ini dia! Bertubi - tubi serangan panah force menghujani Mecha King Crook tersebut. Dick dan Kare pun terus menyerangnya sambil menjaga jarak. Namun Mecha King Crook itu masih berdiri dengan kokoh. Sebaliknya, kekuatanku semakin berkurang. Sial.. Dick juga mengambil sedikit langkah mundur tampaknya.

“Peluruku habis! Apa kau masih ada cadangan Kare?”, tanya Dick.
“Maaf! Aku hanya memiliki sisa untukku!”, jawab Kare.
“Dick! Pakai ini!”, Vinch dari belakang melemparkan Sickle Knife miliknya.
“Tak apa! Aku masih memiliki perisaiku. Ini lebih dari cukup!”, ucap Vinch meyakinkan Dick. Dick pun tidak punya pilihan kecuali memakainya. Tinggallah Vinch semakin kewalahan menahan pasukan itu hanya dengan perisai. Tidak cukup! Sickle Knife itu tidak akan cukup kuat..

FLAME ARROW! FROST ARROW! FLAME ARROW! FROST ARROW!
Aku terus memaksakan diri dan menyerangnya. Kare dan Dick pun nampak terkejut karena melihatku menyerang tanpa jeda. Lama kelamaan pertahanan Mecha King Crook itu semakin melemah. Hal yang sama juga terjadi pada kami. Kalau begini terus, kita yang akan kalah..

BRUAAG!!
Tiba - tiba saja sebuah kapsul raksasa turun dari langit dan membobol atap Hangar tersebut. Dick pun langsung berlari menghampirinya. Dia berputar - putar mencari sesuatu. Ternyata dia mencari panel pembukanya. Dengan terburu - buru dia memasukkan kode untuk membukanya. Lalu kapsul tersebut perlahan terbuka. Perlahan - lahan terlihat semakin jelas di dalam situ ada sebuah MAU. Goliath! Dan berwarna merah! Sepertinya itu MAU yang dikirimkan Strive dari markas. Dick pun segera membuka kokpitnya dan masuk ke dalam. Kita masih bisa menang!!

Dick pun langsung menerjang Mecha King Crook itu. Meskipun MAU itu sedikit lebih kecil, tapi mampu menghempaskan Mecha King Crook itu. Dick pun terus menyerang tanpa henti. Dari pundak MAU itu keluar sebuah misil. Misil itu pun berubah menjadi jaring dan menghentikan gerakan Mecha King Crook tersebut. Dick pun langsung menerjangnya. Pedang tajam yang menempel di lengan MAU itu melukai Mecha King Crook itu dengan parah. Belum lagi kepiawaian Dick mengendarainya. MAU itu bergerak sangat lincah. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Dick untuk menghancurkan kedua lengan Mecha King Crook tersebut. Kekuatan dan kecepatan MAU berwarna merah ini sangatlah dahsyat. Aku benar - benar tertegun melihat dua raksasa bertempur dengan sengit di depanku. Kesempatan ini kupakai untuk memulihkan Vinch dan Kare sementara. Celaka! Karena memulihkan Vinch dengan force, kerumunan Crook yang tadi jadi menyerangku. Sial! Vinch yang tanpa senjata berusaha memukuli Crook itu. Tapi sepertinya sama sekali tidak terasa. Kare juga ragu - ragu untuk menyerang.

“Jangan, Kare!! Seranganmu bisa menghancurkan mereka! Aku tidak apa - apa! Kau bantu Dick saja!”, ucapku padanya. Kare pun berbalik dan membantu Dick. Aku pun berlari - lari untuk menghindarinya. Namun apa dayaku. Aku tidak sekuat Vinch dan selincah Kare. Sulit sekali untuk lepas dari mereka. Ditambah lagi mereka melukai kakiku sehingga aku sulit bergerak. Vinch kulihat masih berusaha menghalau mereka.

“Vinch!! Lenganmu!!”, aku terkejut melihat lengan Vinch. Ia memukul dengan perisainya sementara lengan yang satunya terlihat tidak bisa digerakkan.
“Aku..tidak apa - apa..”, ucap Vinch menahan sakit. Celaka! Sepertinya tulangnya patah. Saat pikiranku teralih pada Vinch, aku tidak sadar kalau para Crook itu telah mengepungku. Kulihat Dick berhasil mendesak Mecha King Crook itu habis - habisan. Bagus.. Berarti aku hanya perlu mengulur waktu sedikit lagi. Haah.. Haah.. Aku benar - benar sudah lemas.. Holy Shield.. Ya.. Hanya itu harapanku..

HOLY SHIELD!!
Busur yang tadi menempel di tanganku kini berkumpul menjadi satu pijaran besar. Lalu membentuk sebuah perisai yang besar dan menempel di lengan kiriku. Segera saja kugunakan untuk menghalau serangan Crook tersebut. Apa ini?! Perisai ini sama sekali tidak bisa diserang. Serangan para Crook itu semuany terpental. Helios.. Inikah salah satu kekuatanmu?

Setelah beberapa saat, para Crook itu tiba - tiba saja hancur lebur. Kulihat MAU Goliath Dick berdiri di atas mayat Mecha King Crook tadi. Berhasil!! Dick berhasil mengalahkannya!! Perisaiku pun perlahan - lahan menghilang. Aku pun segera menghampiri Vinch dan memapahnya ke tempat Dick. MAU itu pun segera merunduk dan Dick keluar dari situ. Dia langsung berlari menghampiri Vinch.

“Vinch! Kau tidak apa - apa?”, tanya Dick cemas.
“Ya.. Hanya sedikit lemas..”, ucap Vinch.
“Syukurlah.. Sekarang kita bisa keluar dari sini. Ayo!”, Dick pun menggendong Vinch ke MAU miliknya.
“Goliathmu tadi kuat sekali. Aku takjub menyaksikan sebuah MAU dapat menumbangkan monster sebesar itu sendirian”, ucapku pada Dick.
“Yang tadi itu, sepertinya memiliki ketahanan khusus terhadap force. Sedangkan terhadap serangan fisik dia rentan sekali”, ucap Dick sambil berjalan.
“Pantas saja. Serangan Hazel tadi tidak bisa melukainya”, sambung Kare.
“Tapi aku juga penasaran dengan seranganmu tadi. Tanpa jeda sedikitpun. Setahuku serangan force expert memerlukan jeda cukup lama bukan?”, tanya Dick heran.
“Itu..kekuatan yang sampai sekarang belum aku mengerti”, aku sendiri bingung hendak menjawab apa.
“Dan lagi, perisaimu yang tadi. Kau menciptakannya?”, kini Kare yang bertanya.
“Itu juga aku tidak mengerti. Yang terbayang pada saat itu hanyalah Holy Shield biasa. Entah kenapa jadi perisai itu yang muncul?”, jawabku dengan sedikit bingung.
“Yah, sudahlah. Yang penting kini kita selamat. Ayo pulang!”, ucap Vinch. Tapi tiba - tiba saja langkah Dick terhenti. terhenti.
“Ada apa, Dick?”, tanya Kare.

Tanpa menjawab Dick pun membalik badannya dan menatap ke belakang. Aku dan Kare pun juga melakukan hal yang sama. Kami hampir lupa akan sesuatu! Pada Accretia! Mereka sudah berdiri di belakang kami. Di belakang mereka terlihat ada kebakaran kecil. Jangan - jangan..itu Mecha Queen Crook yang mereka lawan?! Dan tampaknya mereka tidak terluka sedikitpun. Mereka berjalan ke arah kami. Celaka! Kami sudah habis melawan Mecha King Crook tadi. Sekarang tidak mungkin bagi kami untuk menghadapi mereka. Saat mereka mendekat, Kare pun mengangkat kembali Hora Vulcannya. Vinch juga turun dari pangkuan Dick dan menghunus Sickle Knife miliknya bersama Dick. Saat seorang Striker berhenti dan memasang Siege nya, aku bersiap - siap menggunakan Holy Shield tadi.

“Kalian mau kemana, hah?”, ucap Striker itu. Dari ujung launchernya, terkumpul pijaran cahaya berwarna biru. Sepertinya dia bersiap menembak. Sial…
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:24 am

The Story of Bellato #17

17. Justice to Believe

“Tunggu, Evilmist! Aku ada perlu dengan mereka”, salah seorang dari Accretia itu mencegah Striker itu menembak. Striker itu pun perlahan mengurungkan niatnya untuk menembak dan melepas Siege Kit nya.
“Sa-saber? Proto Saber?”, tanyaku pada Accretia itu.
“Ya. Ini aku. Singkat saja, apa kau merasakan ada yang aneh pada archon mu?”, tanya dia. Mendengar itu aku dan teman - temanku terkejut. Sebenarnya ada apa dia menanyakan hal seperti ini?
“Memangnya ada apa?”, tanyaku.
“Saat ini bangsaku tengah mengalami kekacauan. Dan archon kamilah yang menyebabkannya. Dia berubah drastis. Seakan dipengaruhi sesuatu”, jelas Saber.
“Baru - baru ini kami pun mengadakan penggantian archon. Jadi aku kurang tahu tentang archon baru Bellato”, jawabku.
“Begitu? Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang bangsa Esper. Dan aku curiga para petinggi Bellato juga sedang mengalami hal yang sama dengan kami”, jawab Saber.
“Apa maksudmu dengan mengalami hal yang sama?”, tanyaku.

Akhirnya Saber pun menceritakan tentang perubahan sifat dan kelakuan para petinggi mereka. Bahkan ia sendiri pernah dituduh pengkhianat sepulang dari Ether tanpa alasan yang jelas. Ia berasumsi bahwa petinggi mereka telah diperalat oleh bangsa Esper. Meskipun kurang begitu yakin, aku sendiri merasa ada yang aneh pada para archon baru Bellato. Ada sesuatu dari mereka yang terasa sangat ganjil bagiku. Namun sepertinya tidak semua teman - temanku sependapat denganku.

“Jangan berkata yang tidak - tidak. Karena kalian kalah dalam perang beberapa hari ini makanya kalian beranggapan seperti itu kan?!”, ucap Dick dengan nada sinis.
“Kau…”, Striker yang tadi hendak menembak terlihat sangat marah akan ucapan Dick tadi.
“Aku hanya memperingatkan kalian. Kalau kalian tidak mau mendengarkan, ya terserah saja”, ucap Saber dengan santai.

Beep.. Beep..
“Ada apa, Strive?”, Dick menjawab panggilan yang sepertinya dari Strive itu.
“Dick. Kau masih di sana? Archon dan 2 wakil archon kita sedang menuju ke sana. Mereka juga membawa beberapa prajurit Maximus”, ucap Strive dari radio.
“Ke Armory? Apa yang mereka cari?”, tanya Dick lagi.
“Aku sendiri tidak tahu. Yang jelas, aku melihat mereka semua di portal tambang Crag”, jawab Strive.
“Sekarang kau sedang berada dimana?”, tanya Dick lagi.
“Aku sudah berada di Benteng Solus. Dick, perasaanku sangat tidak enak. Kalian semua berhati - hatilah di sana”, setelah berkata begitu, Strive pun menutup pembicaraan.

“Benarkah para archon akan datang ke sini?”, tanya Kare penasaran.
“Ya. Sepertinya begitu”, jawab Dick.
“Syukurlah. Kita bisa selamat”, ucap Kare dengan gembira.
“Jangan senang dulu. Aku merasakan ada yang tidak beres. Aku masih curiga terhadap archon kalian”, ucap Saber sambil menghampiri kami.
“Kau….tahu apa hah? Karena kalian terus menerus kalah dalam perang makanya kalian jadi menuduh archon kami? Kami semua memenangkan perang dengan kekuatan kami juga, bukan hanya kekuatan archon semata”, balas Kare dengan emosi.
“Tenanglah, Kare. Aku masih ingin mendengar cerita darinya”, ucapku sambil melerai Kare.
“Hazel! Jangan bilang kalau kau sudah diperalat oleh mereka! Mereka adalah musuh!! Musuh harus kita hancurkan!”, balas Kare yang menjadi semakin emosional.
“Bu-bukan begitu. Kali ini kita semua, penduduk Novus sedang dalam bahaya besar!”, jawabku untuk meyakinkan Kare.
“Ya!! Dan aku mengerti kalau bahaya itu adalah akan munculnya banyak Turncoat dari Bellato yang akan menghancurkan Bellato. Itu adalah KAU!!”, ucap Kare dengan nada tinggi sambil menunjukku.

DHUARR!
Tembok besar yang ada disana tiba - tiba saja roboh. Lalu terlihatlah banyak MAU berwarna hitam dan ada beberapa yang berwarna merah. Bersama mereka juga ikut serta banyak prajurit lainnya. Di belakang pasukan itu terlihat tiga aura yang tak asing lagi. Mereka adalah archon dan dua wakil archon Bellato. Setelah mereka berhasil masuk. Mereka pun segera mengepung kami semua. Kare yang tadi marah - marah kini tertawa gembira. Namun aku merasa ada yang aneh. Tidak seperti Vinch yang juga turut senang, tatapan dan raut muka Dick menjadi serius. Lalu para petinggi Bellato itu maju ke depan dan berbicara.

“Tak kusangka, sekarang ini banyak sekali pengkhianat”, ucap archon kami, Lezard.
“Ya!! Aku setuju denganmu tuan archon!! Dia yang bernama Hazel ini adalah seorang pengkhianat!! Sekarang kita bisa menangkapnya dengan mudah dan dengan bukti yang lengkap!”, ucap Kare dengan lantang kepada para petinggi.
“Begitu? Kurang ajar!! SEMUANYA!! TANGKAP DAN HABISI HOLY CHANDRA ITU!”, dengan satu perintah dari Lezard, semuanya langsung bergegas hendak menyerang kami. Tidak! Lebih tepatnya, aku!!

DHUARR!!
Sebuah ledakan menghalangi pergerakan mereka semua. Saat aku menoleh ke belakang, Striker yang tadi tidak jadi menembak, kini menembaki para Bellato yang berdatangan itu.
“Hazel!! Kesini!!”, Saber berteriak menyuruhku untuk melarikan diri bersama mereka. Saat ini aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku tertangkap dan mati di sini, hanya tinggal Saber dan Layla yang bisa diandalkan untuk menghentikan bangsa Esper. Pilihanku sekarang hanyalah ikut bersama para Accretia. Aku pun segera berlari menghampiri mereka. Kami mengambil jalan memutar menuju Hangar Udara untuk melarikan diri dari sini. Meskipun begitu, pasukan Bellato itu seperti tidak ada habisnya. Mereka terus berdatangan dari segala arah.

Saber dan temannya yang seorang Punisher berada di barisan paling depan dan menabrak barikade yang ada. Seorang Mercenary mengamankan posisi dua Striker yang ada agar mereka leluasa menembak. Sementara itu seorang Phantom Shadow meletakkan perangkap di tempat - tempat yang bagus. Aku sendiri hanya bisa berlari dan terus berlari. Padahal teman - teman sebangsaku sedang bertarung dengan Accretia. Aku hanya bisa melihat mereka dan meninggalkan mereka. Dari awal aku sudah tahu kalau aku hanyalah orang yang akan dibuang dan dikucilkan. Aku…sudah siap untuk hari ini!!

GREPP!
Tiba - tiba saja aku merasa kakiku seperti dijerat sesuatu. Bukan hanya aku, tapi semua Accretia yang bersamaku juga dijerat…Ensnare!! Saat kulihat kebelakang Lezard, mengejar kami dengan cepat. Apa - apaan ini? Dengan satu Ensnare dia berhasil menjerat kami semua. Apakah jangakauan Ensnare dia berbeda? Sial!! Mercenary yang ada pun segera berbalik ke belakang dan berusaha menghadang.

“Kalian larilah!! Biar aku yang menahan mereka!!”, kata Mercenary itu. Namun Striker yang tadi berbalik badan dan memasang Siege di belakang Mercenary itu.
“Tidak bisa begitu!! Aku akan menemanimu, Scarlet!”, ucap Striker itu.
“Semuanya!! Gunakan Cure Charger!!”, teriak Saber. Semua yang ada langsung menggunakannya kecuali Scarlet, Mercenary itu dan Striker yang di dekatnya. Aku sendiri segera menggunakan Purge untuk melepaskan diri.
“Scarlet! Evilmist! Kalian juga!!”, teriak Saber.
“Tidak apa!! Aku akan menahan mereka sebentar!!”, balas Scarlet. Tanpa kami sadari, Lezard sudah berada dalam jarak serangnya.

“Kalian….sampah - sampah Novus musnahlah…. Space Force! NETHER LANCE!!”, Lezard mengeluarkan force yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Dengan mudah Scarlet dan Evilmist terpental. Bukan hanya itu, Siege Kit Evilmist dan launchernya hancur berkeping - keping.
“Cih.. Kalian belum mati juga.. Space Force! PULSE DAGGER!!”, Lezard seperti melemparkan tiga buah pisau energi dengan kecepatan tinggi. Bahaya!! Helios.. Tolong.. HOLY SHIELD DHUARR! Biarpun hanya pisau, ledakan yang ditimbulkan saat berada dengan perisaiku cukup besar. Aku pun sedikit terdorong.

“Hoo.. Ternyata bukan cuma aku saja yang memiliki force unik!”, ucap Lezard tersenyum gembira.
“Kau…siapa kau sebenarnya?!!”, tanyaku dengan tegas.
“Aku….adalah archon Bellato yang baru. HAHAHAHA!!”, dia seakan menjadi gila dan tertawa sendiri.
“Esper….KAU BANGSA ESPER KAN??!!”, aku pun berteriak karena tidak tahan dengannya.
“Heheh.. MEMANGNYA KENAPA??!! HAHAHA!!”, dia semakin menjadi - jadi.
“Apa sebenarnya tujuanmu?!”, kini Saber yang bertanya.
“Tujuanku? HAHAHA!! INI!! SPA..”, belum sempat ia selesai mengeluarkan force.

DHUAAG!!
Dari samping sebuah dinding runtuh dan dari situ keluar sebuah MAU berwarna merah yang menerjang Lezard. Goliath.. Dick?
“Dick!! Kaukah itu?!”, tanyaku.
“Ya! Sekarang aku mengerti apa yang terjadi!”, suara Dick terdengar dari radio MAU.
“Kami akan ikut denganmu, Hazel”, satu suara lagi terdengar dari dalam. Vinch?!
“Aku pun tidak tahu apakah keputusanku ini benar. Hanya saja, aku merasa ada yang salah di sini. Berada di sini lebih lama bukanlah keputusan yang tepat”, ucap Dick.
“HAHAHAHA! Bertambahlah pengkhianat Bellato. Tidak masalah. Akan kuhabisi kalian semua”, Lezard yang tadi terjatuh kini telah terbangun lagi.

“Evilmist! Tangkap!”, seorang Striker melemparkan launchernya kepada Evilmist yang saat ini tidak bersenjata.
“Xzar?! Lalu bagaimana denganmu?!”, tanya Evilmist. Tanpa menjawab, Striker yang bernama Xzar itu mengeluarkan sebuah launcher berwarna merah yang menyala terang dan seperti terbakar. Launcher apa itu?
“In--Sensor-??!!”, Evilmist terlihat kaget menyaksikan launcher itu. Xzar pun segera memasang Siege dan bersiap menembak.
“HAHAHA! Dengan rongsokan itu kau berniat melawanku?! Space Force! ANABOLIC ERASER!!”, sebuah bola energi besar meluncur ke arah kami.
“DOOM BLAST!”, Xzar pun segera menembak. Saat itu juga Evilmist membantu dengan Dread Fire.

Energi yang kuat sempat beradu. Akhirnya terjadi ledakan yang sangat besar yang menghancurkan langit - langit tempat itu.
“SEKARANG!! LARI!!”, Xzar pun segera melepas Siege nya dan berlari. Scarlet dan Evilmist sudah terlepas dari jeratan Ensnare. Dick dan Vinch juga ikut bersama kami semua. Karena ledakan tadi, terbentuklah sebuah penghalang yang dapat membantu kami melarikan diri. Kami terus berlari secepat mungkin dan berharap tidak akan bertemu halangan lagi. Tenagaku sudah hampir habis. MAU Dick hampir mencapai batasnya. Doom Blast pun sudah ditembakkan. Sayangnya, di ujung jalan saat kami akan keluar dari Kapal Rusak, kami malah menjumpai petinggi Accretia beserta prajurit Accreita yang lainnya. Celaka!!

“Mau kemana kalian? Dasar pengkhianat! Kini kalian malah bersekongkol dengan Bellato”, ucap archon Accretia tersebut.
“Tuan Chaos!! Sebenarnya apa yang terjadi pada anda?!! Kenapa anda sekarang menjadi seperti ini?!!”, tanya Saber dengan nada tinggi.
“Aku hanya ingin menjadikan bangsa ini lebih kuat dari sebelumnya. Dan untuk itu, aku harus menyingkirkan orang - orang yang hanya akan menjadi penghambat”, jawabnya dingin.
“Yang jelas, apapun maumu, kami harus pergi dari sini”, ucap Punisher yang satunya lagi.
“Sayang sekali.. KALIAN AKAN MATI DI SINI!!”, archon tadi pun memanggil pasukannya dan maju menyerang kami. Xzar dan Evilmist segera menyiapkan launcher mereka. Saber pun akhirnya mengeluarkan Myth yang dia miliki, Hades.

“Maafkan aku, tuan Chaos.. Chrono Blade! TIME HOLDER!”, dengan satu teriakan sambil menggenggam pedangnya, Hades sedikit berubah bentuk dan warna. Dari pedang itu terpancar gelombang yang menghentikan gerakan seluruh benda di sekeliling kami. Archon Accretia, para pasukan Accretia, bahkan debu - debu yang beterbangan semuanya berhenti. Hanya kami saja yang masih bisa bergerak bebas.
“Aku pasti akan kembali suatu saat nanti. Tak akan kubiarkan kerajaan ini berakhir seperti ini”, ucap Saber sambil memberi hormat pada archonnya yang sedang terhenti. Lalu kami berlari keluar dari tempat ini. Setelah kami keluar dari sana dan keadaan mulai aman, kami berhenti berlari.

“Sekarang kemana tujuan kita?”, tanyaku pada mereka.
“Elan..”, jawab Xzar singkat.
“Kenapa Elan?”, kali ini giliran Saber yang bertanya.
“Kita sudah dianggap Turncoat. Jadi satu - satunya tempat bagi kita adalah di sana”, jawab Xzar.
Mendengar ucapan Xzar tersebut, semuanya langsung menunduk. Aku memang tidak bisa melihatnya, namun aku merasakan kalau mereka sedih karena diusir dari bangsa mereka. Ya, perasaan mereka sama denganku saat ini.

Aku sangat kecewa ternyata bangsa yang selama ini aku bela, menganggapku tidak lebih dari sebuah pengganggu. Di sisi lain, aku senang karena masih ada yang peduli padaku. Aku harap dengan jumlah yang tersisa ini masih cukup untuk menghentikan rencana bangsa Esper. Aku pun tidak menyangka kalau bangsa Esper telah mengambil alih Accretia dan Bellato. Layla.. Aku harap kau baik - baik saja..
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:25 am

The Story of Bellato #18

18. Sledgehammer Romance

Sudah beberapa hari sejak aku pulang dari Ether. Semua orang di koloni sangat mencemaskanku. Mereka mengatakan bahwa hanya aku seorang yang pulang dari Ether sejak diberikan tugas itu. Aku sangat menyesal karena aku tidak tahu apa yang menimpa teman - temanku. Namun sampai sekarang aku belum menceritakan tentang bangsa Esper itu. Karena aku takut tidak akan ada yang percaya. Mungkin bila saatnya tepat nanti akan kuceritakan pada mereka semua.

Aku pun masih ingat tentang apa yang dikatakan Reita sewaktu di Ether dulu. Tentang ramuan penambah tenaga ciptaan seorang Black Knight di Istana Haram. Berhari - hari aku mencari Black Knight dengan luka di dahi namun tidak pernah kutemukan. Yang kutemui malah seorang Templar dengan ciri - ciri yang sama. Karena aku takut salah orang, aku tidak berani menanyakannya. Aku pun mencoba untuk bertanya kepada seorang Guardian yang menjaga Istana Haram.

“Permisi..”, salamku pada Guardian itu.
“Ya. Ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?”, jawabnya dengan ramah.
“Umm.. Apa benar di sini ada Black Knight yang menjual ramuan ajaib penambah kekuatan?”, tanyaku. Ia pun tidak langsung menjawab. Ia menengok ke kiri dan ke kanan. Sepertinya ia sedang memeriksa apakah ada orang lain di sekitar kami. Lalu ia pun menjawab.
“Begini ya. Memang ada. Tapi ia hanya muncul pada malam hari”, bisiknya kepadaku.
“Lho? Kenapa begitu?”, tanyaku lagi.
“Karena.. err.. kalau di siang hari, ia menjadi seorang Templar. Dan sikapnya juga sangat pendiam, tapi misterius. Akan tetapi….”, ia terdiam sejenak.
“Tapi apa?”, tanyaku.
“Bersyukurlah kalau kau wanita. Karena kau tidak akan merasakan kengeriannya pada saat siang hari. Ia menderita suatu keanehan sifat yang sangat langka”, jawabnya.
“Keanehan sifat seperti apa? Sepertinya aku baru pertama kali mendengarnya”, ucapku.
“Hay.. Itu adalah sindrom yang sangat berbahaya. Sindrom itu adalah sindrom yang membuat seorang laki - laki bisa menyukai sesama laki - laki. Bukan hanya menyukai, bahkan bisa bersikap sangat mesra. Membayangkannya saja sudah sangat menyeramkan, apalagi bila melihatnya secara langsung”, muka Guardian itu menjadi sangat pucat setelah menjelaskan semuanya.

“Lalu pada saat malam tiba..”, ia kembali melihat - lihat sebelum melanjutkan perkataannya.
“Lalu apa?”, tanyaku tidak sabaran.
“Ia baru menjadi seorang Black Knight. Namun..sikapnya itu..menjadi bertolak belakang. Memang dia tidak lagi menjadi seorang hay pada malam hari. Hanya saja, gairah dan libido nya terhadap lawan jenis sangatlah tinggi”, jelasnya dengan nada serius. Ugh.. Menyeramkan..
“Jadi karena kau seorang wanita, lebih baik kau menemuinya pada siang hari”, jelasnya.
“Baiklah. Terima kasih ya”, setelah memberi salam aku pun langsung pergi mencari Templar tadi. Ah, bodohnya. Aku lupa menanyakan siapa namanya. Yah, sudahlah. Nanti biar aku tanya langsung saja pada orangnya. Tanpa disengaja, aku melihatnya sedang berdiri di depan mesin lelang. Aku pun segera menghampirinya.

Tapi saat aku hendak naik ke tangga tempat pelelangan, ia tampak menghampiri seorang laki - laki. Aku pun mengurungkan niatku untuk menemuinya karena takut mengganggunya. Namun karena aku penasaran, aku pun tetap memperhatikan mereka berdua. Tak lama kemudian, mereka pun pergi dari situ dan menuju ke belakang Istana. Rasa penasaranku semakin bertambah. Karena itu, aku pun mengikuti mereka. Saat mereka menemukan tempat yang cocok, mereka mulai berbincang - bincang. Aku pun segera bersembunyi di balik dinding dan mencoba memantau mereka. Bisa kulihat dengan jelas walaupun dari jauh kalau tangan mereka saling berpegangan dengan erat. Samar - samar bisa kudengar nama mereka berdua. Templar itu memanggil lelaki “pasangannya” dengan nama Shintetsu. Dan orang itu memanggil Templar itu dengan nama Lilsquall. Oh, Decem.. Mengapa Engkau menciptakan makhluk seperti mereka berdua?

Aku pun mengurungkan niatku untuk mencari ramuan itu. Lebih baik aku berusaha dengan kekuatan sendiri. Oh, mungkin sekarang saat yang tepat untuk berkunjung ke perpustakaan. Siapa tahu aku bisa menemukan buku yang menuliskan tentang Belze di sini. Seperti biasa, perpustakaan memang selalu sepi. Aku mengelilingi ruangan itu dengan seksama untuk mencari buku - buku tentang animus. Tapi yang kutemukan malah buku - buku yang aneh tentang animus. Ada “Semalam Bersama Isis” yang ditulis oleh Ravi. Ravi? Tuan Archon juga menulis buku? Namun karena sedang tidak tertarik dengan Isis, aku mengembalikan buku itu ke raknya. Lalu aku kembali berjalan dan melihat - lihat. Kutemukan lagi buku yang aneh. “Animus Idaman” yang ditulis oleh Namine. Dari sampul depan, sepertinya buku ini cukup aneh. Pasalnya, gambar yang kulihat di sampul adalah Paimon yang bersatu dengan MAU sedang memasang Siege Kit. Wew.. Animus macam apa itu? Buku yang aneh.

Setelah terus mencari, akhirnya aku menemukan sebuah buku yang ditulis dalam bahasa kuno. Aku mencoba membalik halaman demi halaman. Bahasanya benar - benar aneh. Untung saja ada beberapa gambar yang masih bisa kulihat. Di sana tergambar manusia yang bersayap membawa pedang. Mungkinkah ini Belze? Karena gambarnya sangat kuno dan berbeda sekali dengan Belze yang kulihat. Di situ juga tergambar tiga buah batu. Sama seperti batu yang tertera di dada Belze. Ya, sepertinya ini buku yang aku cari. Lebih baik aku bawa pulang dan aku baca di rumah. Sesampainya di rumah, aku hanya bisa melihat - lihat gambar dari buku itu. Lama kelamaan, aku mulai mengantuk. Karena hari juga sudah mulai malam, lebih baik aku tidur saja. Esok pagi aku berencana untuk mengunjungi makam teman - teman seperjuanganku di Ether.

Kini aku sedang berada di depan makam teman - teman yang ikut dalam misi ke Ether bersamaku. Aku tidak menyangka mereka semua akan menjadi korban karena aku telah meninggalkan mereka. Aku pun tidak tahu siapa penyebab semua ini. Yang pasti, bila aku menemukan pelakunya, dia tidak akan kuberi ampun sedikitpun. Setelah berdoa sejenak di sana, aku kembali ke balai utama. Dalam perjalananku aku menjumpai archonku dan wakilnya yang sedang berjalan - jalan dengan animus mereka, yaitu Paimon berwarna perak dan Sealed Isis berwarna merah. Archonku adalah seorang Artist yang terkenal ahli dalam membuat senjata. Sedangkan salah satu wakilnya yang bernama Aina adalah Grazier yang pandai dalam strategi perang. Meskipun mereka berdua tidak turun di garis depan, komando mereka dari baris belakang bisa membawa kemenangan bagi Cora.

“Selamat pagi, Layla”, ucap archonku kepadaku.
“Se-selamat pagi, Yang Mulia”, jawabku dengan sedikit terbata - bata.
“Aduh.. Sudah kubilang dari dulu. Aku tidak terbiasa dengan formalitas. Panggil saja Ravi”, balas archonku sambil tersenyum.
“Ma-maafkan aku, Yang.. er Ravi”, ucapku.
“Ada apa denganmu, Layla? Hari ini kau tidak terlihat seperti biasanya”, tanya Aina.
“Tidak apa - apa. Aku hanya sedikit lelah saja”, jawabku.
“Hmm.. Aku tahu. Pasti soal lelaki ya?”, goda Ravi kepadaku.
“Ti-tidak”, jawabku dengan sedikit panik. Uuh.. Kenapa aku panik ya?
“Tahu darimana kamu?”, tanya Aina.
“Aina.. Kamu kan dulu juga sering melamun tidak menentu waktu kita baru beberapa kali bertemu”, mendengar ucapan Ravi itu, istrinya, Aina menjadi memerah mukanya.
“Hihi.. Bisa saja kau”, Aina pun tersipu - sipu mendengar ucapan Ravi.

Lama kelamaan wajah mereka berdua makin mendekat. Muka Aina kini semakin merah. Ia pun lalu memejamkan matanya. Oh DECEM.. Mengapa kau memperlihatkan pemandangan seperti ini kepadaku? Aku pun menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Entah kenapa aku menjadi salah tingkah. Saat ini kepalaku dipenuhi oleh bayangan seseorang.

CRAASH!
Tiba - tiba terdenga suara yang mengagetkan. Aku pun langsung membuka mataku untuk melihatnya. Ya ampun! Punggung Ravi ditusuk oleh Isisnya. Ia pun meringis kesakitan. Aina yang melihat itu langsung menarik Paimon dan memanggil Inanna. Kulihat Isisnya memalingkan muka, seakan - akan sedang kesal. Ew.. Animus bisa cemburu juga kah?

“Kamu tidak apa - apa?”, tanya Aina cemas.
“Ah, tidak. Hanya sedikit..berdarah..”, ucap Ravi menahan sakit. Mungkin tusukan Isisnya sedikit berlebihan sehingga membuat luka seperti itu. Isis Amy Grade memang hasil evolusi Isis yang terkuat saat ini. Daya rusaknya memang di bawah launcher Accretia dan MAU Bellato. Tapi kecepatan serangannya melebihi dua senjata spesial bangsa itu. Dan yang tadi menusuk dia hanyalah Sealed. Wew..

“Raviii!!! Dimana kamuuuu??!!!”, seseorang berteriak dengan keras dari pemancar radio markas.
“Ugh.. Itu Katherine!”, ucap Ravi sambil menunjukkan ekspresi cemas.
“RAVII!!!!”, suara teriakan itu terdengar semakin keras.
“Ravi! Sudah hampir waktunya Chip War!”, seru Aina.
“Ah, iya! Aku hampir lupa! Aina! Layla! Kita berkumpul di markas sekarang!”, balas Ravi.
“Baik!!”, aku dan Aina serempak menjawab. Lalu kami pun segera bergegas menuju markas. Di sana Katherine, salah satu wakil archon kami sedang mengatur pasukan.

“Ravi! Kamu ini kemana aja sih?”, tanya Katherine ketus.
“Ah.. Err.. Tadi aku sedang mengunjungi makam para patriot..”, jawab Ravi dengan muka pucat.
“Saat ini Femz sudah berada di Crag untuk menyiapkan formasi para Hunter dan Assassin. Dan di sini para Templar, Guardian dan Black Knight sedang bersiap - siap”, jelas Katherine.
“Baguslah. Aina, kamu kumpulkan para Artist. Siapkan Guard Tower di depan Chip”, perintah Ravi.
“Baik. Aku akan berangkat sekarang”, balas Aina. Aku sendiri sedang bingung mencari posisi dimana aku berada. Entah dimana para spiritualist berada. Tiba - tiba saja dari portal datang sekelompok orang. Di depan mereka berdiri seorang wanita dengan aura yang sangat kuat. Walaupun wanita, tubuhnya sangat kekar layaknya seorang Templar. Tidak..mungkin menyamai postur tubuh laki - laki. Ew.. Dan dia pun menghampiri kami.

“Maaf aku terlambat. Aku ada urusan di gurun Sette tadi”, ucap wanita itu.
“Tidak apa, Namine. Kau dan para Warlock, Grazier dan Dark Priest sudah siap?”, tanya Ravi.
“Ya. Aku akan berada di belakang pasukan Katherine nanti. Sekarang aku akan menyusul Femz ke Chip”, setelah berkata begitu, Namine dan para spiritualist masuk ke dalam portal.
“Layla? Kenapa kamu masih di sini?”, tanya Ravi.
“Eh? He? Aa!!!”, dengan panik aku berlari menuju portal menyusul Namine dan yang lainnya. Betapa bodohnya aku yang lupa kalau aku juga seorang Grazier.

“Sesampainya di Chip, suasana sangat ramai. Para Artist sedang sibuk memasang guard tower mereka. Sementara itu Femz tidak terlihat. Mungkin ia sedang bersama para Hunter dan Assassin untuk memasang jebakan. Di situ juga aku melihat seorang warrior yang sedang memutar - mutar Spadona miliknya. Sepertinya aku kenal. Umm.. Aozora? Aku pun segera menghampirinya. Dia pun menoleh ke arahku.

“Hei, Layla. Sudah mempersiapkan diri?”, tanyanya.
“Ya. Tunggu.. Aura ini.. Kau menjadi wakil archon juga?”, tanyaku padanya.
“Ah.. Saat ini aku hanya menjabat sebagai tim pembantu saja. Hehe..”, ucapnya sambil tertawa - tawa.
“Oh.. Pembantu..”, ucapku pelan.
“… Memangnya kenapa kalau aku pembantu?”, tanyanya dengan ketus.
“A-ah. Tidak. Kukira kau menjabat sebagai tim penyerang”, jawabku. Tanpa berkata apa - apa dia langsung berbalik badan dan meninggalkanku. Ia bersiap - siap untuk maju ke medan pertempuran.
“Tidak perlu khawatir. Nanti dia juga akan baik lagi”, seseorang tiba - tiba berkata begitu dari belakang. Aku pun segera menengok ke belakang untuk melihat siapa dia. Kak Lime!
“Kak, apa kabar? Lama tak berjumpa”, ucapku.
“Maaf aku belum sempat mengunjungimu sejak kamu pulang. Aku sibuk berlatih di Gunung Buas”, balasnya.
“Ya. Aku mengerti. Kakak kan kebanggaan keluarga. Aku bisa memaklumi kalah kakak harus menjaga reputasi”, balasku lagi.
“Haha.. Bisa saja kamu. Ayo kita berangkat”, ucapnya. Lalu kami pun berkumpul di depan Chip bersama yang lain. Para Hunter dan Assassin pun sudah kembali. Para Artist juga sudah selesai memasang Guard Tower. Kemudian Ravi berdiri di depan. Dia menyalakan Ether Wing nya dan melayang - layang di depan kami semua.

“Wahai sahabatku semuanya, kali ini kita akan berperang demi kemenangan. Sudah cukup kita dikalahkan oleh archon baru Bellato. Sekarang kita tunjukkan kekuatan kita yang sebenarnya!!”, Ravi memberi semangat pada yang lain. Serempak yang lain bersorak - sorak penuh semangat.
“Baiklah.. DECEM menyertai!! MAJUUU!!!!”, teriak Ravi.
“YAA!!! ARGHH!!!”, dengan komando itu semuanya segera berlari penuh semangat. Yang kami tuju kali ini adalah Chip Bellato. Ravi maju lebih dulu dengan Ether Wingnya. Namun baru maju sebentar di depan kami sudah membentang barikade robot hitam dan merah miliki Bellato. Semuanya sempat terhenti melihat pemandangan itu. Tapi Ravi tidak. Ia turun dari Ether Wing nya dan menghampiri Bellato tersebut. Dari tangannya terbentuk kumpulan force. Lalu force itu berubah menjadi sebuah tombak. Field Lance? Bagaimana dia melakukannya? Ia pun segera maju menerjang Bellato tersebut.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!! BANTU ARCHON KITA!!”, Katherine berteriak lalu maju menyerang bersama para warrior. Meskipun lawannya adalah MAU, kami menjadi tidak gentar sedikitpun.
“BLACK KNIGHT MAJUU!!! WARLOCK BERSIAPP!!”, Ravi memberikan komando untuk menyiapkan serangan force. Femz langsung masuk ke kerumunan dan mengalihkan perhatian para MAU tersebut. Black Knight yang lain juga ikut membantu.
“SEKARANG!!!”, Ravi memerintahkan para Warlock untuk menyerang dengan serangan force terkuatnya. Aku pun ikut membantu dengan Wave Rage dan Meteor. Para Grazier pun mengeluarkan animus mereka. Kak Lime langsung maju dengan Isis merah nya. Pasukan ranger pun tidak kalah ganasnya dengan yang lain. Aku pun tidak akan kalah.

“Biar aku saja”, tiba - tiba ada yang berkata begitu kepadaku. Hecate?
“Kenapa?”, tanyaku padanya dalam hati.
“Seranganku akan cocok dengan mereka. Aku pasti akan melakukan yang terbaik”, ucapnya. Baiklah..
“Keluarlah! Hecate!”, akhirnya dia keluar dengan tanduk yang menyala - nyala. Kita maju, Hecate!

“TABRAK!!!”, Katherine terlihat semakin ganas. Ia menebas setiap MAU yang dia temui layaknya boneka kayu. Perlahan - lahan kami mulai mendorong para Bellato ke arah Chip mereka. Saat itu juga dari balik bebatuan keluarlah para ranger, warrior dan spiritualist mereka. Celaka! Ini perangkap!! Kami langsung dikepung oleh para Bellato. Namun kami tetap tidak gentar sedikitpun. Katherine dan Femz terus berada di baris paling depan. Mereka tidak menghiraukan serangan para Bellato. Ravi yang biasanya hanya berada di belakang saja kini ikut menyerang bersama Aina.

“Kita masih bisa memenangkan ini!! ISIS!! MAJU!! SOLAR BLADE!! SANDSTORM!! LIGHTNING CHAIN!!”, Namine berlari menyerang para pasukan Bellato yang bukan pengendara MAU. Semuanya sibuk dengan lawannya masing - masing. Aku sendiri lumayan direpotkan oleh seorang Wizard. Dia bisa menyerang dari jauh. Sementara aku memiliki gerakan terbatas. Kurang ajar! HECATE! Setelah Hecate maju dan mulai menyerangnya, aku pun turut membantu. BLAZE PEARL! WAVE RAGE! Dengan dua serangan itu ditambah serangan Hecate, Wizard itu terpental dan jatuh. Baru aku menyelesaikan satu, seorang Berserker melompat dan menghampiriku. Kyaa!!!

TRANG! Dua Spadona beradu di depan mataku. Aozora.. Ia pun sempat menoleh ke arahku sebentar sebelum melanjutkan serangan pada Berserker tersebut. Aku pun ikut membantu dengan serangan area. Tapi para Bellato itu terus saja berdatangan. Walau mereka berhasil dipukul mundur, pasukan bantuan segera datang menolong. Seakan tidak ada habisnya. Femz dan Katherine juga hampir mencapai batasnya. Padahal kami sama sekali belum menyentuh Chip.

Tiba - tiba saja Namine melompat melewati kerumunan dan menempatkan diri di antara pasukan utama Bellato. Ia nekat sekali!! Dikelilingi Bellato dalam jumlah sebanyak itu bisa membahayakan dirinya. Aku pun segera berlari untuk membantunya. Namun belum sempat aku berbuat apa - apa, pasukan - pasukan yang ada di sekitarnya semuanya tumbang. Dari mulut mereka keluar buih dan darah. Astaga! Apa yang dia lakukan? Tunggu! Di sana juga ada Aozora dan kak Lime! Mereka juga mengalami hal yang sama! Astaga!!

Akibat serangan Namine yang tidak jelas itu, di antara pasukan Bellato itu terbentuk celah. Kami pun segera menerobos hingga ke depan Chip Bellato. Sejauh ini kami belum berjumpa dengan para perwira Bellato. Tiba - tiba saja langkah Ravi terhenti. Maka yang lain termasuk Katherine dan Femz pun ikut berhenti. Tak lama kemudian, ia pun berteriak..

“LARII!!!! NUKLIR!!!!”, semuanya langsung berlari kembali ke arah lorong di tambang tengah dengan sekuat tenaga. Katherine yang berada paling depan saat menyerang, kini sudah berada di barisan paling depan saat mundur. Kecepatan berlari Templar sangatlah luar biasa. Tapi Ravi seperti tidak konsentrasi untuk berlari. Ia lebih seperti sedang kebingungan mencari sesuatu.

GUBRAK! Terdengar seperti ada seseorang yang terjatuh. Suara itu terdengar dari arah belakang. Aku pun melihat ke belakang untuk melihat siapakah yang terjatuh. Belum sempat aku berlari untuk menghampirinya, Ravi sudah lebih dulu berlari.
“SEMUANYA BERGEGASLAH! BIAR AKU YANG MENOLONG AINA!”, Ravi memerintahkan yang lain untuk lari lebih dulu. Yang lain sudah banyak yang mencapai tambang tengah. Namun Ravi dan Aina masih jauh di belakang. Aku sendiri tidak bisa berlari jauh karena khawatir melihat mereka berdua. Ravi pun segera mengeluarkan Sealed Paimonnya dan memeluk Aina dengan erat.

“LAYLA! APA YANG KAMU LAKUKAN?! CEPAT LARI!”, kak Lime berteriak memanggilku.
“Tapi.. mereka..”, aku panik melihat keadaan ini.
“SUDAHLAH! PARA GRAZIER DAN ARTIST NANTI AKAN MENOLONG MEREKA!”, balas kak Lime. Akhirnya aku pun berlari meninggalkan mereka. Dari langit bisa kulihat ada asap putih yang melintas. Celaka!
“PAIMON!! PANGGIL PAIMON!! TIDAK AKAN SEMPAT!!”, kak Lime kembali berteriak. Baru saja aku memanggil Paimon..

DHUARR!!
Ledakan yang sangat hebat terjadi di tempat itu. Paimon ku langsung cedera berat. Aku sendiri terkena radiasi nuklir yang menyebabkan tubuhku sedikit berwarna hijau. Begitu juga dengan kak Lime dan beberapa orang yang terlambat masuk ke tambang tengah. Setelah nuklir itu turun, para Grazier langsung memanggil Inanna bersama para Artist. Mereka bergegas menghampiri Ravi dan Aina.

Astaga.. Aku tak sanggup melihatnya. Aina memang tidak apa - apa dan hanya terkena radiasi. Namun tubuh Ravi berwarna merah pekat. Tubuhnya dipenuhi darah. Kalau bukan karena kekuatan archon, sepertinya ia tidak akan selamat. Aina menangis dengan hebatnya melihat Ravi terluka parah seperti itu. Aku pun segera berlari menghampiri mereka dengan Inanna. Saat aku berlari, para animusku kembali berbicara.

“Kau masih akan terus begini?”, itu Isis kah?
“Apa maksudmu?”, tanyaku.
“Kau…tidak bertarung dengan sungguh - sungguh”, ucapan Isis itu mengagetkanku.
“Apa maksudmu? Aku.. aku sudah berusaha sekuat tenaga”, jawabku.
“Tidak! Kau memilih siapa lawanmu. Kau takut bila harus bertarung dengan Holy Chandra itu kan?”, degg.. Isis.. Dia bisa membaca isi hatiku. Memang benar.. Aku tidak sanggup bila harus bertarung dengan orang yang telah menyelamatkan nyawaku.
“Kalau kau tidak bertarung dengan sungguh - sungguh, teman - temanmu yang akan menjadi taruhannya”, Isis menegaskan kepadaku.
“Tenang saja..”, suara yang lain terdengar lagi. Aku belum pernah mendengar suara yang ini. Jangan - jangan, Belze?
“Ya. Ini aku, Belze. Aku tidak merasakan keberadaan tongkat ataupun pedang Myth itu. Jadi Bellato dan Accretia yang kau temui di Ether tidak ada di sini. Maka…mengamuklah sepuasmu..”, ucap Belze. Entah kenapa mendengar hal itu aku menjadi merasa sangat lega. Baiklah.. Akan kubalas para Bellato itu!!
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:26 am

The Story of Bellato #19

19. DAYBREAK’S BELL

Isis! Bersiaplah! Broad Outlook! Might! Rush! Kali ini aku tidak akan setengah - setengah. Akan kuhabisi para makhluk kerdil itu. HEA!! BLAZING LANCE! FROST BOVA! Maju Isis! Walaupun sudah ditekan dengan nuklir, pasukan Cora justru masih terus mendorong Bellato ke arah Chip mereka. Aku menoleh ke arah Ravi yang sedang dirawat oleh para Grazier. Aina! Aina tidak ada! Biasanya ia selalu berada di samping Ravi. Aku melihat sekeliling untuk mencarinya.

DHUAR! Ledakan besar mengejutkan kami semua. Aina! Dia seorang diri menerobos barikade Bellato. Ledakan tadi berasal dari Meteor yang dia jatuhkan. Celaka! Pasukan MAU mulai berdatangan. Aku pun segera berlari untuk menghampirinya. Ia sendiri, walaupun dikepung begitu banyak Bellato, ia masih bisa melukai banyak dari mereka. Dari pipinya terlihat air mata, namun matanya menunjukkan jiwa yang sedang terbakar amarah. Satu buah Goliath merah muncul dari kerumunan dan menghampirinya. Tunggu.. Merah? Bahaya!!


“Aina!! Mundurlah!!”, aku berteriak mencoba memanggilnya. Namun ia terlanjut larut dalam amarah dan lepas kendali. Banyak prajurit Bellato yang berguguran di sekitarnya. MAU yang mendekatinya pun kembali dengan penuh asap. Apakah yang mendorongnya hingga bisa menjadi sekuat ini? Terhanyut dalam lamunan membuatku lupa akan Goliath yang hendak menghampirinya.
“Dash!”, Katherine berlari dengan cepat untuk mengejarnya. Semoga saja masih sempat. Aku pun turut bergabung dengan mereka. Ensnare tidak akan mempan. Kalau begitu..

METEOR! SANDSTORM!
Golitah itu sedikit terhambat dengan seranganku. Katherine juga berhasil tiba di tempat Aina. Ia bersiap menghadapi Golitah itu.
“Heaaa!! FURY SWIPE!!”, Katherine berputar dengan cepat sebelum menghantamkan Hora Sword yang bersinar - sinar ke arah MAU itu. MAU itu mencoba menangkisnya dengan lengan kanannya. Namun yang terjadi adalah kerusakan parah pada lengan itu sehingga tidak bisa digunakan lagi. Katherine pun melanjutkan serangannya. Dengan Pressure Bomb, Power Cleave dan Shining Cut yang diakhiri dengan sebuah Fury Swipe lagi, MAU itu mengeluarkan asap hitam, tanda bahwa akan segera hancur. Tiba - tiba saja kokpit MAU itu terbuka dan keluarlah seorang perempuan kecil yang merupakan Armor Rider dari MAU tersebut. Ia terlihat panik dan berusaha lari dari Katherine. Ia berlari sambil menembaki kami secara membabi buta.

Ensnare! Aku berhasil memperlambat laju Armor Rider tersebut. Kali ini dia tidak akan lolos!
“BLAZE PEARL!”, Aina membuat lajunya benar - benar terhenti dengan merobohkan dia. Aku dan Katherine segera maju untuk terus menekan ke arah Chip Bellato. Namun Aina berjalan menghampiri perempuan Bellato yang sudah tidak berdaya itu. Langkahku terdiam sejenak untuk melihat apa yang dia lakukan. Ia menarik tongkatnya ke belakang sambil menatap Bellato itu dengan dingin. Aina.. Jangan - jangan..

“FLAME ARROW!”, Aina dengan telak melancarkan force itu dari jarak dekat ke arah kepala Bellato tersebut. Croot! Darah segar mengalir dari leher Bellato tersebut. Leher? Kemana kepalanya?!! Aina terlihat puas setelah melakukan itu. Bahkan ia menjadi lepas kendali. Ia maju ke barikade dengan serangkaian force mematikan. Ia juga membawa sebuah Gunblade yang digunakan untuk memastikan yang dia serang telah tewas, entah itu dengan menebas kepalanya atau menusuk jantungnya. Astaga….

“Bahaya!!”, seorang Assassin berlari - lari sambil berteriak.
“ACCRETIA!!”, teriaknya sambil berlari menghampiri Namine. Cih! Back door! Aku pun segera menghampiri Katherine.
“Bagaimana ini? Kita dikepung!”, seruku.
“Terus menyerang Chip Bellato. Kalau kita mundur kita malah akan dihabisi oleh mereka. Saat ini Bellato sedang terdesak. Lebih aman kalau kita menekan mereka”, ucap Katherine.
“Tapi bagaimana kalau ada archon atau wakil archon Bellato muncul?”, tanyaku lagi.
“Tenanglah, kita akan baik - baik saja”, ucap Katherine. Katherine melakukan kontak mata dengan Namine dan Femz dari jauh. Mereka saling menggangguk menandakan kebulatan tekad.

“SERAAANG!!”, dari belakang Ravi berlari. Dia sudah lebih baik karena para Grazier mengobatinya. Semuanya kembali bersemangat melihat Ravi sudah kembali.
“TABRAAAAKKK!!!”, Katherine maju memimpin kami semua.
“LINDAAAASSS!!!”, Femz juga tidak kalah semangat dengan Katherine.
“PERKOSAAA!!!”, Aozora juga ikut berteriak. Walaupun dengan hidung dan mulut yang berlumuran darah (dan busa), ia masih tetap semangat berperang. Hanya saja… yah sudahlah.. Yang penting dia semangat.

DHUARR!
Tiba - tiba saja terdengar ledakan hebat dari belakang. Sial! Launcher Accretia!
“Aku akan menahan mereka!”, ucapku pada para petinggi. Namun belum sempat aku melancarkan satu force pun, Aina sudah berdiri di depan Striker itu. Ia mendekatkan ujung tongkatnya ke ujung launcher milik Striker itu.
“FIREBALL!”, dengan satu serangan, Siege Kit itu meledak di tempat, mengakibatkan lengan Striker itu juga putus.
“WAVE RAGE! SOLAR BLADE!”, Striker itu hancur seketika oleh Aina. Celaka! Teman - temannya mulai berdatangan. Bahaya! Dia tidak akan bi..

AAKHH!! Punggungku ditusuk oleh sesuatu! Aku berusaha mencabut apa yang menusukku. Ha? Pisau? Phantom Shadow? Dimana dia? Sial! REVEALER! Huh! Di situ kau rupanya.
ENSNARE! Matilah kau.. METEOR! BLAST SHOT! VENOM BREATH! WAVE RAGE! Setelah menghabisi Phantom Shadow tersebut, aku segera menghampiri Aina.

“Aina! Kita mundur dulu dan bergabung dengan yang lain! Kita serang Bellato bersama - sama”, ucapku padanya.
“Tidak! Aku akan menghabisi mereka! Mereka harus merasakan penderitaan yang dialami Ravi!!”, ucapnya dengan geram.
“Tapi kan yang menyerangnya adalah nuklir Bellato. Maka Bellato lah yang harus kita serang!”, aku mencoba meyakinkan Aina. Aku tidak memperhatikannya dengan seksama. Namun tubuh Aina terlihat penuh luka sayatan dan bakar. Dari mulutnya mengucur sedikit darah. Kedua lengannya penuh luka sayatan. Kakinya mengalami luka bakar di daerah lutut. Walaupun dia bisa mengalahkan mereka, tapi lama kelamaan ia akan mencapai batasnya. Kalau begini terus bisa berbahaya.
“Tidak apa.. Aku akan mengurangi resiko Chip dihancurkan oleh Accretia. Biar aku yang menahan mereka. Kalian hancurkanlah Chip Bellato”, perintah Aina.

“Bodoh..”, seseorang berkata dengan pelan sambil berjalan menghampiri kami. Itu.. Ravi?!
“Buat apa kita membentuk pasukan yang kokoh jika kamu ingin bertarung sendiri? Kita harus bertempur sebagai sebuah bangsa. Jangan sampai kita tercerai berai”, ucap Ravi.
“Tapi kamu..”, Aina terlihat sangat khawatir.
“Aku tidak apa - apa! Luka ini belum seberapa jika dibanding penderitaan bangsa Cora yang tertindas selama ini”, Ravi mencoba menenangkan Aina.
“Ya. Aku mengerti. Maaf..”, Aina pun menghampiri Ravi lalu ia dipeluk olehnya.
“Tidak apa. Sekarang giliran kita yang menyerang. Kita serang mereka bersama - sama ya”, ucap Ravi.

Sebuah bola energi dikumpulkan di kepalan tangan Ravi. Perlahan - lahan bola itu makin memanjang hingga menjadi seperti sebuah tombak. Lalu sinar yang menyelimuti tombak itu hilang. Dan munculah sebuah Hora Spear. Wow! Hebat sekali.. Ia pun langsung berteriak memberi perintah pada yang lain.

“SEMUANYA!! KITA SERANG! DECEM’S PROTECTION!”, cahaya menyilaukan menyelimuti kami semua. Namine dan Katherine maju memimpin serangan ke arah Bellato. Sedangkan Aina dan Ravi menyerbu pasukan Accretia. Amukan kami saat ini membuat para Bellato dan Accretia yang ada ketar ketir. MAU berwarna hitam dan merah yang ada pun segera berbalik ke arah portal mereka. Melihat itu, Namine berusaha mengejar mereka. Katherine pun datang menghampirinya dan…..menggendongnya? Hah? Katherine berlari dengan cepat sambil menggendong Namine, menyusul para kawanan MAU tersebut.

Namun dari belakang terdengar banyak suara orang yang muntah. Aku menghampiri mereka untuk memeriksanya. Yang pertama kuhampiri adalah Aozora.
“Ada apa? Kenapa bisa begini?” tanyaku cemas.
“Tidak apa. Ini gejala biasa. Aku tidak kuasa menahan diri”, ucapnya dengan terengah - engah.
“Menahan diri dari apa?”, tanyaku lagi.
“Itu…”, ucapnya sambil menunjuk Katherine dan Namine yang saling berpelukan erat sambil berlari.
“Hoeek”, lagi - lagi Aozora muntah. Lama kelamaan aku menjadi mual melihatnya.
“Memangnya ada apa?”, tanyaku.
“Kau….tidak tahu yang sebenarnya ya?”, balas Aozora.

Aku mencoba berpikir sambil melihat mereka berdua. Tapi yang ada justru aku malah terkesan dengan kerja sama mereka berdua. Dengan satu lompatan, Namine berhasil mendahului mereka dan menutup jalur lari MAU tersebut. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada para MAU tersebut karena terhalang. Yang jelas, tiba - tiba saja MAU itu meledak semua. Hanya tinggal Namine berdiri di tengah kobaran api bekas ledakan MAU tersebut. Katherine hanya diam melihat aksi Namine itu.

“Itu…serangan itu…serangan paling berbahaya yang dimiliki Namine”, ucap Aozora.
“Memangnya apa yang dia lakukan?”, tanyaku lagi.
“Dia..”, belum sempat ia menyelesaikan ceritanya, sebuah Hora Knife yang bersinar menghantam kepala Aozora. Dalam sekejap, ia sudah pingsan. Femz? Kenapa?
“Ada apa ini?” tanyaku.
“Tidak apa - apa. Hanya membantu mengistirahatkan orang yang sedang mabuk. Haha..”, setelah berkata begitu Femz lalu maju untuk menghancurkan Chip Bellato. Astaga! Aku sendiri hampir lupa kalau saat ini sedang Chip War. Baiklah.. Aku juga akan maju! Ini serangan terakhir!

“SERAAANG CHIIIPPPP!!!”, seru Femz.
Dengan serempak semua yang ada langsung menyerbu ke arah Chip Bellato. Chip yang sudah hampir tidak ada penjaganya itu diluluhlantahkan dengan mudah oleh kami. Hanya tersisa beberapa warrior dan spiritualist Bellato. Dalam sekejap, Chip itu sudah hampir mencapai batasnya. Namun ternyata pasukan Accretia tidak tinggal diam begitu saja. Mereka mencoba mencari celah untuk ikut menyerang Chip. Sial!

METEOR! VENOM BREATH! FROST NOVA!
Kutumbangkan setiap Accretia yang mencoba mendekati Chip. Namun mereka terus menerus berdatangan tanpa henti. Tanpa kami sadari, pasukan Accretia sudah mengepung kami di Chip Bellato. Jumlah mereka jauh lebih banyak dari kami. Chip Bellato pun kini dikerubungi oleh para robot tersebut. Ditambah lagi, Ravi meminta kami semua untuk mundur. Apa?! Di saat begini?!

“SEMUANYA!! KITA HARUS MUNDUR!!”, teriak Ravi.
“AKAN ADA NUKLIR DI SINI!!”, sambungnya.

Serentak kami semua langsung berlari menjauhi Chip Bellato. Kini Chip itu benar - benar akan dihabisi oleh para Accretia. Walaupun aku kesal, aku tidak bisa berbuat apa - apa. Aina dan para perwira Cora juga terlihat sudah sangat kelelahan. Haruskah perjuangan kami ini usai begitu saja? Tidak.. Tidak boleh! Aku pun akhirnya melawan perintah Ravi dan berlari menuju Chip Bellato.

“Layla! Kamu mau pergi kemana?!”, teriak Aina.
“Kalian pergilah. Biar kuselesaikan ini”, jawabku.

Setelah berkata begitu, aku langsung menyerbu bersama Isis. Accretia yang tidak menyerang Chip menghadangku. Heheh.. Majulah!
FROST NOVA! LIGHTNING CHAIN! METEOR!
Pasukan Accretia yang menghampiriku menjauh karena seranganku itu. Dengan jalan yang terbuka itu, aku terus berlari menuju Chip. Semakin dekat ke Chip semakin banyak Accretia yang menghadangku. Mereka seakan tidak ada habisnya. Chip pun sebentar lagi akan hancur. Di langit pun terlihat asap putih sedang menuju kemari. Celaka! Nuklir!

“Jangan menyerah!!”, seorang warrior mengikutiku dan menebas Accretia yang hendak menyerangku.
“Kau tidak akan sendirian”, muncul juga seorang Grazier dengan animusnya. Katherine dan Namine?!
“Tidak ada waktu lagi!!”, Katherine dan Namine langsung maju menerjang kerumunan Accretia yang menghalangi mereka. Aku pun ikut membantu.

(9…)
Sial… Semakin dekat saja nuklir itu.
VENOM BREATH! AQUA BLADE! SWARM!
Kombinasi kami bertiga cukup berhasil membuka jalan. Namun entah akan sempat mencapai Chip tepat waktu atau tidak.

(8…)

(7…)
“Tidak akan sempat!!”, ucap Namine putus asa.
“Belum! Masih bisa!”, Katherine terus maju menerjang para Accretia. Sementara nuklir sudah berada di atas kami.

(6…)

(5…)
“Namine! Kemarilah! Serangan kombinasi!!”, perintah Katherine pada Namine
“Baiklah!”, Namine pun langsung melompat ke pangkuan Katherine dan berlari menerobos gerombolan Accretia.

(4…)

(3…)
Kumohon… Semoga berhasil…

(2…)
Nuklir semakin mendekat. Banyak Accretia yang mundur menjauh dari situ. Hanya tinggal para Striker yang masih menembaki Chip. Aku pun mengambil langkah mundur.

(1…)
Katherine dan Namine berada tepat di depan Chip. DECEM… Tolonglah!

DHUARR!!

Ledakan yang sangat kuat terjadi di sana. Api menggulung hingga ke langit. Aku dan pasukan Accretia lainnya terpental cukup jauh karena nuklir itu. Dan tubuhku juga berwarna kehijauan. Setelah ledakan itu berakhir dan asap hilang, dari tempat ledakan tersebut berdiri dua orang. Katherine dan Namine!! Mereka pun mengangkat Chip Bellato dengan bangga. Berarti… CORA MENANG!! Yaaay… Aku pun langsung berlari menghampiri mereka berdua. Tepat di belakang mereka, sebuah kawah besar tercipta karena nuklir tadi mendarat. Hebat sekali mereka bisa selamat dari maut.

“Kalian tidak apa - apa?”, tanyaku pada mereka.
“Begitulah. Hanya sedikit terkena radiasi nuklir”, ucap Namine sambil merapikan rambutnya.
“Ayo kita ke tambang tengah. Waktunya mengasuh Holy Stone Keeper”, ucap Katherine sambil mengajak kami semua berjalan. Namun ada seorang Striker yang masih hidup dan mencoba bangun. Dengan lengan yang sudah putus dan badan penuh percikan listrik, ia berusaha menghampiri kami.

“Kem..bali..kan.. Itu…milik…ka…mi…”, ucap Accretia itu dengan susah payah.
“Enak saja. Wee…”, ejek Namine sambil menjulurkan lidahnya.
“Ku..kurang ajar!!”, Striker tadi menjadi geram.
“Siapa yang kurang ajar sebenarnya? Mencoba mencuri kemenangan setelah kami susah payah menerobos barikade”, balas Katherine dengan ketus.
“Ini gila… INI GILA!!”, Accretia tadi menjadi murka dan mengeluarkan launcher dengan satu tangannya. Ia bersiap menembak. Namun Katherine dengan cepat sudah berada di depannya dan menghadang jalur tembakannya.
“INI CORAAAA!! DHUAGG!”, dengan satu tendangan, Striker tadi terpental lalu terjatuh ke dalam lubang nuklir tadi. Kami pun segera bergegas menuju tambang tengah.

Sesampainya di sana, Ravi segera mengkoordinir para Hunter, Steeler dan Assassin untuk menyiapkan perangkap di pintu masuk tambang tengah. Para Archer dan Adventurer pun berjaga di tempat - tempat tersembunyi. Sedangkan yang lain berada di jalur masuk menuju Holy Stone Keeper dengan para warrior di barisan depan. Aku bergabung dengan spiritualist lain di belakang mereka. Suasana hening menantikan serangan macam apa yang akan datang.

Tiba - tiba saja suara gemuruh terdengar memenuhi ruangan itu. Pasukan gabungan Accretia dan Bellato langsung menyerbu tambang tengah. Namun karena persiapan yang gesit, terjadilah pesta kembang api di depan pintu masuk tambang. Perangkap yang dipasang meledak tepat ketika mereka menginjak masuk ruangan. Ditambah lagi mereka ditembaki dengan beruntun dari tempat tidak terduga. Namun para warrior Accretia dan MAU Bellato menerobos dengan paksa. Kami pun maju menyambut kedatangan mereka. Aura berwarna kuning dan biru muda pun terlihat. Para wakil archon Accretia dan Bellato kini turut bergabung dalam penyerangan Holy Stone Keeper.

“SEMUANYAA!! SERAAANG!!”, teriak Ravi.
Berbagai force Expert dan Elite menghujani kerumunan pasukan yang menyerang kami. Setelah serangan pembuka itu, para warrior masuk melanjutkan serangan. Terjadi peperangan yang sangat kacau di dalam tambang tengah. Gabungan Accretia dan Bellato memang menyeramkan. Setelah bertarung cukup sengit, lama kelamaan kami terdesak. Aku sendiri tidak dapat berbuat banyak menghadapi para Striker. Jangkauan serangan mereka saat sedang berada dalam mode siege sangat luar biasa. Ini akan menjadi 30 menit terlama dalam hidupku. Bukan, tapi juga bagi kami semua bangsa Cora.

“KITA BISA MELEWATI INI! JANGAN MENYERAH! KELUARKAN HECATE KALIAN!”, atas perintah Ravi itu, para Grazier termasuk aku segera memanggil Hecate untuk situasi ini. Serangan Hecate yang menyebar dan memiliki kemampuan untuk melumpuhkan lawan cukup berguna. Warrior Accretia dan Bellato yang mencoba menerobos barikade yang dibentuk para Black Knight berhasil dipukul mundur. Kami bisa sedikit mengulur waktu dengan serangan Hecate ini. Ditambah lagi dengan serangkaian force tingkat Elite yang dikeluarkan secara bersamaan. MAU pun sampai mundur karena terlalu banyak menerima serangan.

Namun satu persatu Hecate kami tumbang secara tiba - tiba. Striker! Kami hampir melupakan mereka. Selama ini mereka terus berada di belakang dan tidak terjangkau serangan Hecate. Mereka memang tidak dapat bergerak mendekat. Tapi itu juga membuat kami kesusahan untuk memukul mereka mundur. Sementara itu pasukan yang tadi berhasil kami usir untuk sesaat, tengah bersiap - siap untuk gempuran berikutnya. Aku langsung dipanggil Ravi untuk berkumpul dengan para petinggi. Sepertinya mereka mempunyai rencana.

“Hecate tidak mempan. Bagaimana dengan Paimon?”, tanya Ravi.
“Negatif. Jumlah Paimon tidak sepadan dengan jumlah Striker yang ada. Lagipula Paimon hanya bisa menahan, bukan mendobrak”, jawab Katherine.
“Menahan sekaligus mendobrak. Kalau begitu serahkan saja pada kami para Black Knight. Dengan dukungan seluruh Inanna, pasti akan cukup untuk memukul mereka mundur”, sambung Femz.
“Ya. Itu mungkin bisa berhasil. Tapi dengan itu masih belum cukup. Kita juga butuh Warlock serta Grazier tipe menyerang”, balas Ravi.
“Biar kupanggil salah seorang Warlock”, Aina langsung bergegas mencari seseorang.

“Sekarang tinggal Grazier penyerang. Namine, kau pimpin serangan”, ucap Ravi.
“Jangan!”, sanggah Katherine.
“Inanna miliknya salah satu yang paling kuat. Lagipula dengan kemampuannya lebih baik dia memimpin pasukan pendukung”, sambungnya.
“Serahkan pada kami”, tiba - tiba seorang Grazier wanita menghampiri kami.
“Namaku Penelope. Aku dan guildku telah melatih Isis kami untuk penyerangan skala besar. Isis kami memiliki jangkauan serangan yang lebih jauh dari Isis biasa. Izinkan kami membantu serangan”, sambungnya.
“Baiklah. Bagi pasukan Grazier menjadi dua, penyerang dan pendukung. Black Knight akan membuka jalan dan Warlock akan mengusir mereka.
“Ini dia orangnya”, Aina telah kembali sambil membawa seorang Warlock.

“Siapa namamu?”, tanya Femz.
“G-goodkach.. Eh, Goodkat”, ucapnya dengan nada gugup.
“Goodkat. Kau pimpin para Warlock untuk menghantam para Striker. Black Knight yang dipimpin Femz akan mendekat sedekat mungkin dengan para Striker. Saat itulah kau hajar mereka dengan serangan terhebatmu”, ucap Ravi.
“Usahakan dengan force air. Kemungkinan bisa merusak sistem dan sensor mereka”, Aina menambahkan.
“Ja-jangan”, jawab Goodkat.
“Kenapa memang?”, tanya Aina.
“Na-nanti jadi becyhek”, jawabnya sambil sedikit menunduk karena malu.

“…”, semua yang ada di sana tidak bisa berkata apa - apa. Hanya kebingungan yang tersirat di wajah mereka.
“Yah, terserah kau sajalah. Pastikan mereka mengalami kerusakan berat”, jawab Ravi dengan dahi penuh keringat.
“Lalu aku bagaimana?”, tanyaku.
“Kau bergabung dengan pasukan pendukung. Karena tanpa animus pun force mu sudah cukup berbahaya. Membawa Inanna pun tidak masalah menurutku”, jawab Ravi.
“Aku mengerti”, jawabku.
“Baiklah. Kalau begitu kembalilah ke posisi kalian masing - masing. Mereka akan segera datang”, perintah Ravi. Kami pun segera berkumpul dan bersiap - siap.

Bersiaplah kalian. Walaupun kalian menggabungkan kekuatan seperti apapun, akan kami hadapi.
“Layla! Layla! Bisakah kau mendengarku?”, suara Belze terdengar.
“Ada apa?”, tanyaku.
“Jangan panggil satu animus pun. Simpan tenagamu untuk memanggilku”, jawabnya.
“Memang kenapa?”, tanyaku lagi.
“Dengan sisa tenagamu sekarang, kau tidak akan sanggup menahanku untuk waktu yang lama di luar. Setiap pergerakanku akan menghabiskan tenagamu. Ditambah lagi…”, Belze terdiam sesaat.
“Ditambah lagi apa?”, tanyaku penasaran.
“Ada sesuatu yang….sesuatu yang mengerikan mendekat. Berhati - hatilah…”, selesai itu suara Belze tidak terdengar lagi.

Kira - kira apa yang akan menghampiri kami semua. Di depan kami hanya ada kerumunan Accretia dan Bellato. Dan tampaknya Holy Stone Keeper masih tenang - tenang saja. Ada apa gerangan
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 11:44 am

Abis baca bantu UP ye!
Back to top Go down
vylinux
Thor
Thor


Male Number of posts : 636
Age : 21
Location : Sedikit bicara - Banyak OOT
Registration date : 2009-12-11

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 2:10 pm

males baca-nya ...

saya print aja ah [You must be registered and logged in to see this image.]

[You must be registered and logged in to see this image.]
[You must be registered and logged in to see this image.]
[You must be registered and logged in to see this image.]


Bantu UP aja dah


Back to top Go down
vylinux
Thor
Thor


Male Number of posts : 636
Age : 21
Location : Sedikit bicara - Banyak OOT
Registration date : 2009-12-11

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 2:13 pm

------------------- EDIT -----------------------
maap double post

[You must be registered and logged in to see this image.] [You must be registered and logged in to see this image.]

lah koq bellato doang ga seru ni ( acc nya mna ? )
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 3:48 pm

silahkan klo mw di print...

acc nya menyusul....

ditunggu aja yah.....

Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 4:04 pm

About 3 Races

ACCRETIA

[You must be registered and logged in to see this image.]

Accretia Empire memegang prinsip militer yang kuat, mereka ingin menguasai semuanya untuk Empire. Tidak memiliki perasaan apabila hal yang diinginkan
akan mendatangkan kehancuran bangsa lain, Accretia adalah bangsa mekanis unit dengan pemikiran materialistik. Accretia bangga menjadi bangsa yang paling kuat dan hebat dalam alam semesta dan bangga dengan senjata raksasa yang mereka telah ciptakan untuk membunuh seluruh makhluk hidup. Senjata raksasa tersebut disebut Launcher, dan merupakan senjata yang paling mematikan dan ditakuti. Accretia Emprie ingin menjangkau alam semesta lebih jauh untuk menjadi lebih kuat, dan itu adalah kunci pendorong bangsa mereka.

Background Story
Accretia adalah otak organik yang memiliki tubuh mekanik. Bukan merupakan Robot yang bergerak dengan program, namun mereka patuh pada aturan, aturan untuk mencapai kesempurnaan. Walaupun Sikap individualis tidak diperbolehkan, kesadaran diri tetap ada; Perkumpulan Accretia tidak terlihat seperti pikiran yang menyatu. Mereka diciptakan dan di didik untuk evolusi dalam satu kesatuan. Namun, kesempurnaan dalam level yang lebih tinggi hanya dapat dicapai melalui kesempurnaan individu.

Accretia merupakan keturunan langsung dari Peneliti EMC, manusia yang melahirkan Bellato dan Cora melalui percobaan mereka. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan dedikasi dari para pendahulu mereka, mereka berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan pada level yang lebih tinggi.

Kebudayaan Accretia adalah pengetahuan dan pemikiran rasional. Hal ini membuat mereka terus mencari pengetahuan dan penjelasan rasional dan solusi untuk permasalahan, pada setiap level. Menjadi prajurit adalah belajar taktik dari pertempuran sebelumnya atau memimpin peneliti mencari metode kloning baru dengan mempelajari anatomi bangsa lain. Pasukan Accretia, memiliki tubuh mekanik sepenuhnya dan hanya memerlukan sedikit kebutuhan. Accretia perlu pemeriksaan teratur. Diluar waktu untuk perbaikan berkala, Pasukan Accretia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri; tubuh robot mereka dapat menciptakan energi yang dibutuhkan.

Bagaimanapun otak manusia didalam tubuh cyborg Accretia pada saat tertentu memerlukan istirahat, Otak tidak dapat terus merespon dalam kelelahan, maka dari itu, Accretia perlu beristirahat untuk memulihkan diri. Meskipun secara biologis tetap perlu istirahat, kondisi sekarang mereka tetap jauh lebih kuat daripada dalam tubuh manusia. Tubuh logam mereka juga memberikan Accretia kemampuan regenarasi jauh lebih besar dari para Bellato dan Cora.

LAUNCHER
Launcher merupakan senjata pemusnah Accretia dan hanya dimiliki oleh bangsa Accretia. Senjata Launcher ini memiliki daya hancur yang sangat besar, tujuan diciptakan senjata ini hanya untuk melenyapkan makhluk hidup.
Launcher unit memiliki fungsi spesial apabila digunakan dengan Siege Kit. Apabila menggunakan Siege Kit dengan senjata Launcher, Accretia akan masuk kedalam Siege Mode dimana Accretia tidak bisa bergerak selama didalam Siege Mode, tetapi serangan dan daya hancur yang dihasilkan akan lebih besar.



BELLATO


[You must be registered and logged in to see this image.]


Bellato Union merupakan bangsa petualang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Dalam menjalani petualangannya, bangsa Bellato banyak didukung dengan berbagai macam teknologi. Bellato mampu membuat Massive Armor Unit (MAU) dan senjata untuk dipergunakan dalam peperangan. Tingkat gravitasi yang tinggi di planet asal Bellato membuat tubuh mereka pendek, tetapi fisik mereka cukup kuat dan pandai. Bellato juga merupakan ahli ekonomi dan berdagang. Keserakahan telah mendorong mereka untuk pergi ke planet lainnya, untuk menjajah dan mendapatkan resources lebih. Untuk memperluas sampai akhir alam semesta, Bellato ingin memastikan bahwa Sektor Novus tidak jatuh dalam kekuasaan Accretia atau Cora. Keinginan untuk tumbuh dan berkembang pasti akan membuat alam semesta diliputi kekacauan.

Background Story
Peralatan mekanik Bellato semula diproduksi untuk kemajuan penelitian, dan pembangunan bukan untuk keperluan pertempuran. Dalam kemajuan teknologi, berbagai macam Armor Unit diproduksi dalam jumlah besar dan dikembangkan untuk dapat bertahan dalam pertempuran.

Pada pertempuran awal menunjukkan bahwa Armor Unit membawa kemenangan besar untuk Federation. Hal ini membuat pengeluaran biaya pertahanan nasional membengkak, karena banyaknya Armor Unit yang diproduksi untuk pasukan pertahanan. Dalam catatan pertempuran Novus Armor Unit Sebelumnya juga menunjukkan beberapa kali kekalahan dengan Launcher Accretia, dan hal ini melemahkan kekuatan pasukan. Kekalahan ini disebabkan oleh Armor Unit tidak di design untuk kondisi geografis planet Novus, setelah itu hak untuk memproduksi diberikan kepada penduduk Novus, kemudian Armor Unit di desain ulang supaya cocok di planet Novus.

Efisiensi Armor Unit turun dratis karena besarnya biaya operasional, maka komite perdamaian federasi memutuskan untuk menutup pasukan armor unit. Armor Unit dibagi menjadi dua bagian; yaitu tipe Field Unit dan Siege Unit. Siege Unit sangat sulit untuk diproduksi dan memerlukan resource dalam jumlah besar, lebih besar dari anggaran Federasi. Field Unit cocok untuk diproduksi dalam jumlah besar dan ekonomis. Hal ini menyebabkan Field Unit tersebar secara luas. Komite menjadi tidak yakin bagaimana untuk mengatur unit tersebut, sehingga komite memutuskan orang sipil dapat mengatur dan memperdagangkan unit dengan harga yang rendah. Namun aturan dikeluarkan karena besarnya kekuatan yang dimiliki oleh Unit ini, dan untuk memastikan bahwa Unit tidak digunakan diluar kepentingan militer.

Massive Armor Unit (MAU)
Massive Armor Unit atau MAU adalah senjata perang raksasa bangsa Bellato yang bentuknya menyerupai robot. MAU memiliki kemampuan pertahanan dan serangan sangat besar, sehingga MAU mempunyai peranan sangat penting bagi bangsa Bellato dalam pertempuran melawan Accretia dan Cora.
Bangsa bellato mempunyai 2 macam MAU yaitu: Goliath (Melee Type) & Catapult (Long Range Type).

CORA

[You must be registered and logged in to see this image.]


Holy Alliance Cora adalah suatu bangsa dengan peradaban spiritual yang amat kuat budayanya di bidang agama dan seni sihir. Berdasarkan sejarah, bangsa Cora sendiri merupakan bangsa yang terbentuk dari campuran beberapa negara dan bangsa yang memiliki kepercayaan sama. Penampilan mereka juga amat menarik, laki-lakinya tinggi tegap, dan perempuannya elok dan cantik.

Bangsa Cora, bertempur untuk keselamatan mereka dari gangguan bangsa lain. Ahli dalam pertempuran baik secara fisik maupun sihir, ilmu dan senjata mereka pada umumnya adalah barang yang diberkati oleh dewa mereka, DECEM. Holy Alliance Cora merupakan bangsa dengan kemampuan sihir terkuat, sehingga Cora adalah satu-satunya bangsa yang mampu memanggil Animus untuk membantu mereka dalam pertempuran.

Background Story
DECEM membuat dunia yang dilupakan menjadi keindahan, dan Cora diciptakan untuk menjalankan keinginan DECEM. Mengetahui bahwa mereka bangsa yang terpilih, Cora berkumpul berdasarkan kepercayaan kepada Dewa mereka. Tujuan “Hidup” mereka adalah mendekatkan diri dengan Dewa mereka. Bagi Cora, yang menjalankan keinginan Decem akan memperoleh kekuatan, kemampuan, dan lebih kuat dalam Dark Force. Dark Force adalah hadiah yang paling berharga diberikan Decem untuk anak-anaknya.

Keinginan Decem adalah Cora tidak boleh merusak planet atau makhluk hidup yang ada, mereka harus menjaga dan memeliharanya, karena melukai planet adalah melukai Decem sendiri. Cora hanya diperbolehkan untuk menggunakan resource untuk kepentingan Decem saja. Mereka melakukan semuanya dengan alam, dan meningkatkan keindahannya. Cora mengolah logam dengan Dark Force, mengolah logam untuk menciptakan item dan senjata tanpa menyebabkan polusi. Semua teknologi Cora diperkuat dengan Dark Force.

Baju dan armor Cora dibuat dari bahan natural, pakaian yang mereka gunakan sangat lembut dan fleksibel. Cora percaya bahwa tubuh mereka adalah tempat suci untuk Decem. Cora menjaga kecantikan, dan menjaga kebersihan tubuh mereka dengan baik. Cora mencintai dan menghargai tubuh demi penyesuaian diri dengan DECEM. Semua makanan harus diberkati oleh Decem sebelum dimakan oleh bangsa Cora. Makanan harus benar-benar alami dan ditanam khusus untuk dimakan.

ANIMUS
Sumber kekuatan dari bangsa Cora adalah dewa mereka. Oleh karena itu DECEM, Dewa Cora meminjamkan penjaganya untuk membantu bangsa Cora yang disebut “Animus”. Animus ini sendiri terdiri dari berbagai macam jenis, mulai dari Hecate, Inanna, Isis dan Paimon.

Hanya profesi Summoner pada bangsa Cora yang memiliki kemampuan untuk memanggil Animus. Animus akan sangat membantu Holy Alliance Cora dalam pertempuran Suci mereka dalam melawan Accretia dan Bellato. Animus memiliki keunikan, dimana dia memiliki level sendiri. Summoner harus rajin untuk melatih Animus miliknya sehingga menjadi teman dalam bertempur yang kuat.
Back to top Go down
cheevhe
Giant Baba
Giant Baba


Male Number of posts : 165
Age : 22
Location : dipelukan si dia....
Registration date : 2009-12-06

PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Wed Dec 23, 2009 4:29 pm

Cerita baru lagi nih....

Bahasa nya lebih enak di baca,, cekidot:

The Story Of Novus


Nama gw Ravi... gw mau cerita tentang tragedi kehidupan gw di galaksi Novus ini...

Dulu gw punya sahabat-sahabat sejati... Zinn dan TherMiaN. kita bertiga sama-sama ditempatin di pos Lunar. gw dan Zinn adalah anak yatim piatu. ortu gw dibunuh accretia waktu gw kecil, trus gw dirawat oleh pemerintah di bagian militer. ortunya Zinn udah ga ada dari kecil n dia tinggal bersama keluarga tantenya di desa, orang paling baik yang gw kenal, mungkin orang paling pendek se-Cora dan sering jadi ledekan gw dan TherMian. Lain lagi halnya dengan TherMiaN, dia ini bagian elitenya Cora. dari keluarga tob banget deh. dia ini Cora paling berbakat yang gw tau (n rada-rada songong kadang2) udah gitu kidal pula, bikin makin repot aja klo lagi latihan tanding lawan dia, sementaranya dia sendiri haus banget akan kekuatan.

Kita mengambil posisi berbeda dalam training. gw ngambil kearah Black Knight, Zinn ke arah Ranger dan TherMian ke arah Templar. Kekompakan kita bertiga saat latihan perang paling terkenal. kombinasi serangan kita merupakan salah satu rangking tertinggi di training camp.

Pada dasarnya emang berbakat, TherMian di panggil ke garis depan untuk perang berikutnya. kehebatannya sudah diakui DECEM. wajahnya terlihat puas dan semangat sekali mendengar pemanggilan ini, tentunya gw dan Zinn juga ikut kesenengan.

berada di garis depan adalah impian kita dari dulu. dan TherMian mendapatkan kesempatan ini duluan.

"Hei, sisain bagian buat gw ya nanti!", kata gw dalam kamar kita malam itu.

"Ogah! gw abisin semua itu Belatung n Kaleng-kaleng di jalanan!! biar pas lu masuk ke garis depan kerjaannya tinggal ngopi doang!" tawa TherMian.

"bawain kepala kaleng dong satu buat lampu kamar!" canda Zinn.

Kita merayakan keberangkatan TherMian malam itu dengan penuh keceriaan. besoknya pada saat berangkat, kami berpelukan (berpelukaaaann...). dan kata-kata yang terakhir diucapkan TherMian adalah..

"jangan bikin gw nunggu terlalu lama.." dengan senyum sombong khasnya.

kata-kata terakhir itu rupanya benar-benar kata-kata terakhir yang kami dengar dari dia. Cora kalah total hari itu karena keabsenan Archon yang entah apa sebabnya. dari 300 yang berangkat, yang kembali hanya 91, dan TherMian tidak termasuk diantaranya. gw dan Zinn yang menunggu berdebar-debar di portal akhirnya terduduk lemas begitu patriot Cora terakhir melewati portal dan kemudian portal tersebut ditutup.

gw berdua melaporkan hal ini kepada ortunya TherMiaN yang merupakan salah satu petinggi Cora, dan mereka bilang sudah tau karena diberitahukan oleh komandan lapangannya duluan. mereka berdua menumpahkan air mata, dan membuat gw berdua juga tidak kuat nahan air mata kita.

Setelah kepergian TherMiaN itu, gw dan Zinn jadi jarang ngobrol. kita berdua lebih banyak fokus ningkatin PT dan level masing-masing....berminggu-minggu, hingga suatu saat, Zinn memulai pembicaraan.

"hari ini gw ketemu Bellato di Rawa Kabut" katanya pelan.

"oya?! nyesel dong dia ketemu lu?" sahut gw.

"dia lagi diserang sama 5 Vafer..." katanya lagi, masih pelan.

"......." gw mandang dia dan berkata "jangan bilang lu tolong dia?!"

dia diem...

dengan menampar muka gw sendiri, gw bilang "ampun den Zinn...dia kan musuh. gw tau lu baik, tapi ga perlu juga kali ditolongin?!" dan gw tiba-tiba menyadari kalo tangan kanannya di balut sama kain warna biru muda.

sekarang kita berdua diem...

"cewe?" kata gw. dan dia masih tetep diem.

jadi bingung gw mo ngomong apa. tapi akhirnya dia yang ngomong duluan. "Vi, gw mau ke markas Bellato".

Sesaat gw seneng, dan berseru "wues, gaya amat lu mo nyerang markas bellato sendirian doang demi cewe?!", tapi sesaat kemudian gw menyadari kalo yang dimaksud bukan itu.. "jangan bilang klo..."

Zinn berdiri dan berkata, "ya. gw mau jadi pasukan Bellato".

yang namanya didikan militer dari kecil, emosi suka ga kejaga. dalam kejapan mata, gw udah nonjok Zinn sampe jatuh ke

lantai. "LU GILA YA?!! LU MAU KHIANATIN BANGSA LU SENDIRI DEMI SEORANG CEWE??!!".

Zinn tidak melawan. dia menyapu darah dari bibirnya yang sobek oleh pukulan gw dan berdiri. "Vi, lu tau kenapa ortu gw ga ada dari kecil?". gw terdiem, dan emosi gw menurun dengan sendirinya. gw belom pernah tau kenapa ortu Zinn meninggal. karena ortu gw sendiri juga dah ga ada, gw juga ga berminat berbagi cerita soal itu.

"gw bukan keturunan murni Cora", kata Zinn dengan jelas.

di dalam kebengongan gw, dia melanjutkan, "Nyokap gw orang Bellato. karena itu tinggi gw dibawah rata-rata orang Cora".

Shock. gw terduduk di tempat tidur. sementara Zinn melanjutkan ceritanya "Ortu gw dihukum oleh pengadilan Cora. karena pernikahan mereka diharamkan oleh DECEM", terdiam sebentar, dia duduk disamping gw.

"orang tua gw ga pernah diakui eksis di Cora, yang menyebut nama ortu gw akan dihukum berat" dia mengambil nafas panjang, "om dan tante yang gw tinggal sekarang sayang banget sama bokap gw karena dia orangnya baik banget katanya, makanya mereka berani cerita ini ke gw".

dia berdiri, "gw ke Bellato bukan demi cewe itu Vi, demi orang tua gw...", entah kenapa tiba-tiba airmata gw keluar tanpa gw sadari. gw berdiri,

"apa lu mengerti Zinn?!" kata-kata keluar dari mulut gw dengan tersendat-sendat "kalo lu pergi kesana, pertemuan kita berikutnya, gw akan bunuh lu tanpa ragu-ragu...!!!" tegas gw disela airmata yang ga berhenti.

Zinn terdiam membelakangi gw, dia menoleh balik ke arah gw dan berkata "gw juga..." dengan linangan airmata yang ga kalah deras sama gw. diapun keluar dari pintu meninggalkan gw sendiri. sebuah perpisahan lagi dengan sahabat gw...

........

Berbulan-bulan sudah lewat. gw udah jadi pasukan garis depan. hari ini tugas pertama gw di lapangan. Chip war jam 9 Malem. dengan Perisai kebanggan gw yang gw dapet dari para petinggi Cora, gw berangkat. Formasi sudah disiapkan, dan gw bertugas untuk bagian pertahanan. Serangan pertama yang dateng dari Accretia. bangsa kaleng yang paling gw benci.

karena intensitas peperangan, entah bagaimana mulanya, formasi udah berantakan. gw terpisah dari tim. dan dihadapan gw sekaleng robot yang siap melumat gw. tapi gw ga takut. gw hadapi makhluk itu dengan sepenuh hati. hingga kita beradu pedang jarak dekat, kaleng itu berbicara,

"kemampuan lu masih segini aja...", katanya dengan suara mekanis yang entah keluar dari mana.

gw mundur sedikit dan merasa terhina, "kaleng kayak lu ngerti apa soal gw?! lu ngeremehin bangsa Cora HAH?!!" dan melakukan Buff Power Up. tiba-tiba kaleng itu mengucapkan sesuati yang mengejutkan gw.

"Sampe kapanpun lu ga bakal menang dari gw, Vi.." suara paraunya memanggil nama gw. dan dia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi dan mengacungkan pedangnya kearah gw. di pundak kirinya gw liat name-tag makhluk itu : "TherMiaN". bagaikan tersambar petir, pedang yang gw pegang hampir jatoh.

"Ther....MiaN...?" kata gw terbata-bata.

kaleng ber namakan TherMiaN itu terbahak-bahak melihat ketidakpercayaan gw "wahahahaha... lu sedemikian takutnya liat gw Vi?!". di berjalan pelan kearah gw, "Lu liat? kekuatan ini, sekarang ga ada satupun bangsa di dunia ini yang bisa mengalahkan gw!" dan serta merta dia mengayunkan pedangnya ke kepala gw. entah bagaimana gw masih sempet mundur hingga jatuh terduduk mengindari tebasan itu.

masih dalam tawanya, TherMian mendekati gw lagi dan sepertinya kli ini tidak ragu-ragu lagi untuk membelah badan gw.

badan gw ga bisa bergerak karena masih dalam kondisi shock. saat pedang yang dibawa TherMian sudah terangkat tinggi mengarah sekali lagi ke kepala gw, tiba-tiba sesuatu menyeruduk badan TherMian yang terbuat dari baja itu menjauh dari gw. sebuah BMAU menghantam keras tubuh TherMiaN.

di hadapan gw BMAU itu menoleh kearah gw, dan sekali lagi gw liat Name-Tagnya : "Zinn". BMAU itupun meneruskan serangannya kearah TherMian. gw yang terduduk terbengong-bengong melihat pemandangan didepan gw dimana kedua sahabat gw bertarung dalam wujud yang berbeda. tiba-tiba dari belakang, 2 orang Spiritualist menarik badan gw kembali ke pos untuk dibawa kembali ke markas.

........................

sudah 1 bulan dari kejadian itu. sekarang gw udah kembali ke garis depan. kali ini serangan datang dari 2 arah. Accretia dan Bellato. di deretan terdepan masing-masing bangsa gw bisa lihat sosok TherMian dan Zinn yang datang menyerang kearah kami.

kli ini tidak ada keraguan di diri gw.

dan gw ga melihat keraguan di diri mereka.

gw akan menyelesaikan semuanya HARI INI!!

KITA akan SELESAIKAN, DISINI!!!!
Back to top Go down
Sponsored content




PostSubject: Re: RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)   Today at 1:17 am

Back to top Go down
 
RF Story (Adapted From rfstory.blogdetik.com)
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 3Go to page : 1, 2, 3  Next
 Similar topics
-
» Jaco's birth story (very long & detailed WITH PIC)
» Another sniffer dog story
» Cody's Story
» Channel 4 Thursday 1st April Lost Abroad - The Parents Story
» ...and you think Royal Mail are slow? (this is a lovely story!)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
GauL-Community :: Private Server Gaul Network :: RF First-
Jump to: